Menjelajahi penjuru ruang spasial demi visi peradaban yang lebih baik untuk kaum Muslimah
Pages
Visi Geospasial
Thursday, May 11, 2017
AKIBAT LANGKANYA NEGARAWAN MUSLIM (Menyoal Pembubaran HTI – Bagian Kedua)
Wednesday, May 10, 2017
BLUNDER REZIM “POLITICAL ANIMAL” (Menyoal Pembubaran HTI – Bagian Pertama)
Monday, March 20, 2017
Posisi Geopolitik Muslim Pattani di Lokasi Pembangunan Terusan Kra Thailand
Pembangunan Terusan Kra di Thailand cukup mencengangkan dunia pelayaran internasional. Pasalnya, terusan yang memotong Thailand Selatan tersebut akan menghubungkan antara Laut Andaman dan Laut China Selatan, tanpa melewati Selat Malaka lagi.
Terusan ini memiliki panjang sekitar 102 km, lebar 400 meter dengan kedalaman lebih dari 20 meter. Pengerjaan kanal tersebut membutuhkan waktu 8-10 tahun dengan estimasi biaya sekitar USD 28 milyar. China disebut-sebut pula sebagai negara yang akan membiayai proyek tersebut.
Tidak ketinggalan, berbagai asumsi di dalam negeri pun turut mewarnai hiruk pikuk pembangunan proyek tersebut. Tinjauannya seputar bagaimana dampaknya terhadap Indonesia dengan visi Poros Maritim Dunia-nya saat ini. Mereka mengkhawatirkan bukan hanya Singapura dan Malaysia yang mati jika terusan ini dibangun, tetapi Indonesia juga.
Pengamat intelijen dan pertahanan, Susaningtyas NH Kertopati yang kini juga ‘concern’ terhadap isu kemaritiman dan geopolitik Indonesia angkat bicara terkait hal ini. Ia menyatakan pembangunan terusan KRA ini akan sulit terlaksana mengingat daerah Thailand Selatan kini sedang bersitegang dengan pemerintahannya.
“Di Selatan Thailand ada separatis Patani Melayu Muslim, dalam kondisi tidak ada pemisah fisik saja mereka mau merdeka apalagi diberi pemisah fisik. Menurut saya ini menjadi pertimbangan Thailand juga,” kata Nuning biasa akrab disapa saat dikonfirmasi di Jakarta, (19/3).
Sumber: http://maritimnews.com/terusan-kra-dibangun-pengamat-indonesia-tak-perlu-khawatir/
Komentar:
Saya pikir analisa Susaningtyas patut untuk dipertimbangkan, mengingat setiap pembangunan ekonomi selalu ada social cost/ social risk-nya. Selain keberatan negara lain seperti Singapura sebagai faktor eksternal, maka keberadaan provinsi-provinsi Muslim di Thailand Selatan tentu jadi pertimbangan social risk di internal dalam negeri Thailand.
Namun di luar perdebatan itu ada hal yang menurut saya juga menarik yakni, posisi umat Islam yang nyaris selalu berada di titik titik geostrategis. Jika dilihat lebih jeli peta sebaran umat Islam di Asia Tenggara, maka kita akan dapati hampir semua titik-titik kekuatan umat Islam di Asia Tenggara memiliki nilai geopolitik yang sangat strategis.
Posisi Kesultanan Arakan yang berada di Teluk Benggala merupakan garis pantai yang sangat penting dalam jalur perdagangan dunia sampai hari ini. Posisi Kesultanan Pattani yang terletak di Tanah Genting Kra, sebuah jembatan darat sempit yang menghubungkan Semenanjung Melayu dengan daratan Asia, yang juga merupakan akses terdekat ke Laut China Selatan. Begitu juga letak kepulauan Sulu dan Mindanao yang tidak kalah strategisnya.
Tentu muncul pertanyaan apakah mungkin ini terjadi secara sporadis? Semua ini disebabkan penyebaran Islam di Asia Tenggara didrive secara terintegrasi pada jalur-jalur perdagangan maritim dalam waktu yang lama dan berkesinambungan yang melibatkan semua unsur umat Islam baik itu ulama, penguasa bahkan rakyat biasa.
Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu China dibawah Dinasti Tang (618-907), kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749). Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri China.
Ini merupakan bukti bahwa masyarakat Islam yang sering diilustrasikan sebagai “pedagang arab” dalam ilmu sejarah adalah mereka yang memiliki kesadaran geografis tinggi. Suatu masyarakat yang biasa diistilahkan sebagai spatially enabled society. Begitupun negara/ kepala negara yang ideal adalah yang memiliki visi geopolitik dikenal dengan istilah spatially enabled government. Kombinasi kesadaran antara dua pihak ini didukung oleh sebuah peradaban Islam yang tinggi, yang tentu sangat dipengaruhi oleh kekuatan ideologinya.
20032017
Fika Komara @muslimah_negarawan
Tuesday, September 27, 2016
Perairan Sulu: Poros Kriminalitas Maritim Indonesia-Malaysia-Filipina?
Natuna, Laut China Selatan dan Tanah Ribath
Analisa #MuslimahGeospasial
Menjaga perbatasan negeri sangatlah penting dalam kacamata politik pertahanan Islam. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran 200).
Dalam Tafsir Jalalain diterangkan sebagai berikut: Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dalam melaksanakan ketaatan, dalam menghadapi berbagai musibah, maupun dalam menghindari berbagai kemaksiatan, serta lebih bersabarlah kalian dalam menghadapi musuh-musuh kalian, janganlah musuh kalian lebih sabar daripada kalian, dan jagalah perbatasan kalian dengan menegakkan jihad fi sabilillah, bertaqwalah kalian kepada dalam berbagai situasi dan kondisi kalian, agar kalian beruntung di surga dan selamat dari siksa neraka.
Kepulauan Natuna adalah wilayah dengan nilai strategis sangat tinggi karena merupakan satu- satunya pulau terdepan yang secara geopolitik berbatasan dengan delapan negara, yakni Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Brunei, Tiongkok, Filipina, dan Taiwan. Letak Pulau Natuna yang sangat strategis di dekat wilayag konflik Laut Cina Selatan dengan sumber daya alam luar biasa, dimana kawasan ini adalah kawasan paling vibrant di Asia Pasifik hari ini. Hal ini menjadikan Natuna sangat strategis sekaligus sangat rawan invasi dan konflik.
Strategisnya wilayah Natuna ini sebagai perbatasan terdepan dan terluar mengingatkan pada sabda Rasulullaah Saw :
“Ribath (menjaga perbatasan wilayah Islam dari serangan musuh-musuh Islam) sehari semalam lebih baik dari pada puasa sunnah dan shalat sunnah sebulan penuh, dan jika seorang murabith mati di tengah ia melakukan ribath, maka amal perbuatannya itu akan terus berpahala, dan ia diberikan rizqinya di surga kelak, serta tidak ditanya di dalam kubur (oleh malaikat munkar dan nakir)” (HR. Muslim).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
“(ada) Dua mata yang niscaya kelak tidak akan tersentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga malam (tidak tidur) demi menjaga keamanan umat Islam berjuang di jalan yang diridlai Allah” (HR. Tirmidzi).
Al Faqir, Fika Komara
27092016
Wednesday, June 8, 2016
Kaum Muslimah dan Generasi Penakluk
Tuesday, September 1, 2015
Europe Migrant Crisis
The number of Mediterranean migrants travelling to Europe by boat has increased dramatically this year. Europe is now facing an enormous dilemma regarding the desperate refugees from the Middle Eastern and North African countries. According to the United Nations, this is the worst refugee crisis since the Second World War. Hundreds and thousands of desperate migrants are fleeing their country to escape devastation of war, abject poverty, systematic abuse and persecution in the hope of a better life. But due to the inhumane concept of nationalism which values national identity over humanity, European governments treat these vulnerable refugees harshly to stop further exodus. Macedonian police forces beating back the refugees, while others have refused entry to their countries by sealing the border or by strengthening maritime petrol in the Mediterranean.
This is the direct result of corrupt manmade values which dehumanize people by refusing them sanctuary even though they are in desperate need of shelter and protection.
The European leaders need to understand that this crisis is the direct result of the colonial wars and the military interventions in the Muslim world by the West as well as the support of brutal dictatorships backed by the western governments in the Muslim lands such as in Syria and Egypt which came back to haunt these governments on their own shores.
Thursday, August 27, 2015
Laporan OKI : 17 Juta Muslim Menderita di Pengungsian, Meningkat 34,5% dari 2013
Sebuah laporan terbaru yang dirilis Departemen Urusan Kemanusiaan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengungkapkan, jumlah para pengungsi di negara-negara Islam selama 2014 mencapai 17.073.686 jiwa.
Sementara itu, jika dibandingkan pada tahun 2013 dengan 12.693.075, jumlah tersebut meningkat 34,5 persen lebih banyak. IINA melaporkan seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).
Laporan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan korban merupakan hasil dari krisis dan bencana yang melanda 27 negara anggota OKI termasuk minoritas di Myanmar dan Afrika Tengah. Beberapa wilayah sampai saat ini masih terjadi krisis dan bencana.
http://mirajnews.com/id/internasional/asia/oki-tahun-2014-17-juta-muslim-menderita-akibat-krisis/
Ini fakta yang tidak bisa terbantahkan lagi, bahwa kaum Muslimin telah menjadi korban serta target dari berbagai bentuk penindasan negara-negara kafir dan kroni-kroninya.
Serangan mental berupa stigma teroris, serangan identitas berupa ide "Islam Moderat" dan turunannya, serangan ekonomi berupa penjajahan dan penjarahan kekayaan alam negeri-negeri Muslim, hingga serangan fisik bersenjata seperti genosida di Myanmar, Gaza, Suriah, Afrika Tengah, Xinjiang, Pattani, Mindanao, dan masih banyak lagi!
Kenapa nyawa umat Muhammad Saw saat ini demikian murah tak berharga? Kenapa hidup belasan juta kaum Muslim demikian hina terkatung-katung di pengungsian?
Sadarilah saudara-saudaraku, semua malapetaka ini berawal dari 28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M yang lalu, saat institusi Khilafah dihapuskan oleh penjahat Kemal Pasha beserta negara-negara kafir penjajah. Sejak itu umat Islam kehilangan institusi yang menerapkan Islam secara kaffah. Umat tak lagi memiliki institusi yang menjadi junnah (perisai) atas negeri, harta, jiwa dan kehormatan mereka.
Mereka pun hidup bercerai-berai dan terpisah-pisah dalam banyak negara hasil rekayasa oleh kafir penjajah. Bahkan antar negara itu acap terlibat konflik dan peperangan. Realitas menyedihkan ini terjadi karena Daulah Khilafah yang menjadi institusi penyatu umat Islam sebagai ummah wâhidah (umat yang satu) telah diruntuhkan. Sejak itu pula umat ini diterpa aneka problem yang terus datang bertubi-tubi tanpa solusi.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ » رواه مسلم
Hadis riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه: ia berkata: Dari Nabi صلی الله عليه وسلم beliau bersabda: "Sesungguhnyalah seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya." (HR.Muslim)
Wednesday, July 15, 2015
No #Sharia for Bangsamoro minorities, Philippine legal experts say
Muslim legal experts have assured Christians and other minorities that religious freedom will be respected in the proposed Bangsamoro region in the southern Philippines island of Mindanao. The establishment of the Bangsamoro, an autonomous Muslim region, is part of the peace deal signed by the Philippine government and Moro rebels last year to end a five-decade old insurgency.
"The proposed Bangsamoro is not even a separate state, much less an Islamic State," Ubaida Pacasem, head of the legal department of the National Commission on Muslim Filipinos, said July 9.
Christians and other religious minorities living in Mindanao — a predominantly Muslim region — have voiced fears they could be subjected to sharia law when the region gains autonomy.
Rodjipay Mangulamas, president of the Bangsamoro Shari’ah Lawyers League of the Philippines, said sharia law would respect religious differences in the region.
"The bottom line here is that the Bangsamoro government is neither about Islam nor about establishing an Islamic state," he said at a recent forum in Cotabato City.
"It's about respect for the long-sought Bangsamoro aspiration for self-determination and freedom from oppression and discrimination," he added. The Philippine government also offered assurances to religious minorities on July 9.
http://www.ucanews.com/news/no-sharia-for-bangsamoro-minorities-philippine-legal-experts-say/73904
The important lesson that we must take is the struggle to achieve the autonomy or an independent state will never really protect the blood and basic rights of Muslims. As happened in Gaza where “two-state solution” becomes a solution with hundreds of resolutions that have been signed over the years, but STILL failed to protect the blood, land, property, and the rights of Palestinian Muslims.
So we should say that the solution of autonomous or independent state is NOT WORTH solution at all to be championed by Muslims because it only creates false hope and places the fate of the Muslims and their lands in the clutches of the western imperialist power. On the other hand such a solution is not derived from Islam, but from Western imperialist interests as a continuation of 'colonization' of Muslim lands in their clutches.
In the context of Southern Philippines, the mode of granting of autonomy is essentially just a "democracy trap" that is often used by western imperialists specifically to annexing the southern Philippines region which is very rich in natural resources, crippling the movement of Islamic movement groups, and taming Muslim Moro to become more moderate and pragmatic thus believe that democracy is the ideal tools for Islamic struggle. Surprisingly, some Muslims still put hope into a solution like this. Muslim leaders in particular do not feel guilty by relying kuffar and foreign parties to resolve the problems faced by Muslims.
(Fika Komara)





