Visi Geospasial

Rasulullah Saw bersabda : “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya, dan aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepadaku”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Showing posts with label Geospasial Perempuan. Show all posts
Showing posts with label Geospasial Perempuan. Show all posts

Wednesday, June 8, 2016

Kaum Muslimah dan Generasi Penakluk



Kecerdasan geospasial artinya adalah kecerdasan dan kesadaran akan ruang, tempat bumi ini dipijak. Ruang dimana umat Muhammad ini hidup dan terus tumbuh menjadi umat terbaik di tangan kaum Muslimah. 

Peran puncak Muslimah sebagai sebagai ibu generasi (ummu ajyal) bisa kita kaitkan dengan kekayaan geostrategis dunia Islam yang sangat kaya dengan lokasi dan posisi strategis, sumber daya alam, luasnya wilayah laut dan daratan, serta selat-selat strategis yang menjadi chokepoint maritime dunia. 

Kegagalan dunia Islam hari ini mengelola asset-aset geostrategisnya tidak lepas dari faktor penjajahan dan minimnya generasi penakluk yang tumbuh dari umat. Sungguh sudah lama kita menantikan kelahiran generasi Mujahid penakluk yang akan menundukkan semua ini untuk dakwah dan jihad Islam. 

Di tangan siapakah generasi seperti ini akan lahir? Kalau bukan dari mereka kaum Muslimah yang memiliki kesadaran ruang serta kematangan visi geopolitik dalam mendidik anak-anak dan generasi penerus Islam. 

Fika Komara

Wednesday, July 8, 2015

Perempuan Papua adalah Korban Kekerasan Berlapis dari Rezim Inkompeten dan Jahatnya Penjajahan Asing


Pada 6 Juli kemarin, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia - Prof Yohana Yembise mengungkapkan, provinsi Papua menduduki peringkat pertama kasus kekerasan dalam rumah. Pemicu utama kasus KDRT terhadap perempuan dan anak di wilayah Papua dominan disebabkan karena pengaruh  mengkonsumsi minuman keras beralkohol. Kasus kekerasan terhadap anak di Papua mencapai 3.250 kasus sedangkan KDRT dialami perempuan angkanya cukup tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Tiga hari sebelumnya Suara Pembaruan online melaporkan data bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak Papua meningkat tajam sejak tahun 2010-2014 yang diungkap oleh Levina Kalansina Sawaki, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Penanganan Kekerasan terhadap Anak dan Masalah Sosial Anak Provinsi Papua.

Kekerasan Berlapis terhadap Perempuan Papua
Lembaga eLSHAM Papua merilis data Maret 2015 lalu yang menyatakan bahwa kekerasan yang dialami kaum perempuan Papua, bukan hanya sekedar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Lebih dari itu, kasus kekerasan oleh aparat militer di Papua lebih besar dampaknya pada perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada perempuan Papua. Kasus kekerasan militer di Tanah Papua, menurut data eLSHAM Papua periode 2012-2014, ada 389 kasus dengan rincian 234 orang tewas, 854 orang luka-luka, dan 880 orang ditangkap. Semuanya berdampak kepada kesejahteraan perempuan Papua. Secara langsung bentuk-bentuknya beragam misalnya kasus pemerkosaan, penganiayaan, penahanan, dan penghilangan nyawa. Secara tidak langsung perempuan Papua teraniaya secara emosional dan psikis akibat suami dan anak laki-laki mereka ditangkap atau dibunuh dan ini membuat kaum perempuannya harus menjadi tulang punggung keluarga dan menempatkan mereka dalam lingkaran kemiskinan tak berujung. 

Aparat keamanan Indonesia telah berdiri di samping korporasi asing demi mengeruk kekayaan alam Papua dan merampas tanah dan lahan rakyat Papua. PT Freeport telah merampas tanah adat suku Amungme selama hampir setengah abad. Perempuan di wilayah adat Anim-Ha (Merauke) harus tergusur dari tanahnya, dusun-dusun sagu, sungai dan hewan buruan karena tanah adatnya dirampas oleh negara untuk proyek raksasa MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate). Perempuan di wilayah adat Mamberamo-Tami (Keerom, Jayapura) juga kehilangan tanah, dusun-dusun sagu serta hutan sumber daging dan sayur genemo, karena dirampas oleh negara dan disulap menjadi jutaan hektar lahan kelapa sawit milik PT. Sinar Mas (National Papua Solidarity - NAPAS, 2013).

Sungguh perempuan Papua adalah korban kekerasan berlapis dan sistemik di Papua yang berasal dari tiga lapisan utama, dimana lapis pertama adalah lapisan keluarga dan masyarakat di Papua yang saat ini semakin dirasuki nilai-nilai kapitalis pemuja kebebasan liberal yang memelihara budaya pemenuhan kepuasan individu, maka wajar bila alkohol dan penyalahgunaan narkoba sering disebut-sebut sebagai faktor utama penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan di Papua. Semua hal ini menempatkan perempuan Papua hanya sebagai obyek syahwat laki-laki, akibat  pola pikir liberal yang mengajarkan untuk mengejar kesenangan pribadi tanpa menghiraukan akibat yang ditimbulkannya kepada orang lain. Lapis kedua adalah inkompetensi negara yang mengeluarkan kebijakan ekonomi cacat ala kapitalis dengan menyerahkan kekayaan alam Papua kepada swasta asing, hingga menciptakan kemiskinan yang luas di Papua dan menggiring kaum perempuannya terjerumus pada jurang eksploitasi dan kekerasan massal. Begitu pula tidak adanya pendistribusian kekayaan alam yang ada di wilayah mereka untuk membangun dan memajukan Papua dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua yang kemudian memunculkan tuntutan rakyat Papua atas menentukan nasib mereka sendiri akibat terjadinya kezaliman dan ketidakadilan terhadap mereka. Lapis ketiga adalah penjajahan negara-negara Barat yang bermain di Papua mengincar kekayaan alamnya hingga menempatkan ribuan perempuan Papua sebagai korban dari permainan geopolitik Barat di wilayah Timur Indonesia, banyak di antara mereka yang kehilangan suami dan keluarga akibat konflik berkepanjangan dan operasi militer di sana. Barat berusaha memisahkan Papua dari Indonesia dengan menunggangi gerakan-gerakan separatis di Papua, memainkan isu perbedaan etnis dan budaya, dan menguatkan kerjasama negara etnis Melanesia di Pasifik. Semua itu dilakukan melalui tiga elemen yakni gerakan separatis bersenjata, diplomatik dan politik, yang sejalan dengan upaya mereka untuk melemahkan negeri Muslim, juga sejalan dengan upaya mereka mengeruk kekayaan dari bumi Papua melalui Freeport.

Islam akan Menghapus Kekerasan Sejak Lapisan Terdalam
Hanya Islam sajalah yang memiliki nilai-nilai mulia dan benar-benar bertanggung jawab dalam menjaga kehormatan perempuan, bahkan mewajibkan laki-laki untuk mengorbankan hidup mereka demi membela kehormatan perempuan. Dan hanya sistem Allah saja, Khilafah, yang menawarkan strategi yang jelas untuk melindungi kehormatan perempuan di tengah-tengah masyarakat melalui nilai-nilai dan hukum Islam yang saling melengkapi dalam mewujudkan tujuan ini. Khilafah adalah negara yang menolak prinsip-prinsip kapitalisme dan liberal, sebaliknya menggaungkan nilai-nilai ketakwaan dan pandangan Islam terhadap perempuan melalui sistem pendidikan, media, dan politik  sebagaimana sabda Nabi SAW:
إنما النساء شقائق الرجال ما أكرمهن إلا كريم وما أهانهن إلا لئيم
Perempuan adalah saudara kandung para lelaki, tidak akan memuliakannya kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan menghinakannya kecuali lelaki yang hina.”

Dalam hal pengelolaan ekonomi dan kekayaan, Islam menetapkan bahwa kekayaan alam yang berlimpah depositnya seperti tambang tembaga dan emas di Papua yang saat ini dikuasai Freeport, ditetapkan sebagai hak milik umum seluruh rakyat tanpa kecuali.  Kekayaan itu tidak boleh dikuasakan atau diberikan kepada swasta apalagi swasta asing.  Kekayaan itu harus dikelola oleh negara mewakili rakyat dan hasilnya keseluruhannya dikembalikan kepada rakyat, diantaranya dalam bentuk berbagai pelayanan kepada rakyat termasuk pada kaum perempuan.  

Dalam hal perlakuan kepada rakyat, maka Islam mewajibkan penguasa untuk berlaku adil kepada seluruh rakyat bahkan kepada semua manusia.  Dalam sistem Islam tidak boleh ada diskriminasi atas dasar suku, etnis, bangsa, ras, warna kulit, agama, kelompok dan sebagainya dalam hal pemberian pelayanan dan apa yang menjadi hak-hak rakyat.  Islam pun mengharamkan cara pandang, tolok ukur dan kriteria atas dasar suku bangsa, etnis, ras, warna kulit dan cara pandang serta tolok ukur sektarian lainnya.  Islam menilai semua itu sebagai keharaman dan hal yang menjijikkan. Intervensi asing pun harus ditolak dan dihentikan segala bentuk usaha yang dilakukan oleh segala bentuk gerakan separatisme dan internvensi asing yang akan memisahkan Papua dari wilayah Indonesia. Secara syar’iy, pemisahan suatu wilayah dari sebuah negeri muslim yang saat ini sudah terpecah belah hukumnya adalah haram.

Jadi menyelesaikan masalah Perempuan Papua, adalah dengan menghilangkan kezaliman dan ketidakadilan yang terjadi pada kaum perempuan sejak lapisan terdalam; yaitu membangun masyarakat yang sehat dan kuat melalui pengokohan bangunan keluarga dan ketaqwaan sosial, kemudian memerankan negara yang mampu mengelola kekayaan negeri demi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat; mendistribusikan kekayaan itu secara merata dan berkeadilan; memberikan keadilan kepada semua tanpa deskriminasi atas dasar suku, etnis, warna kulit, ras, agama, kelompok dan cara pandang dan kriteria sektarian lainnya.  Juga dengan mewujudkan negara berdaulat yang mandiri, maju dan terdepan yang akan  menolak segala bentuk intervensi asing yang mengancam kedaulatan negara.  Semua itu hanya bisa diwujudkan melalui penerapan sistem Islam secara total dalam bingkai institusi kekuasaan yang Islami yaitu al-Khilafah Rasyidah berdasarkan metode kenabian.

Fika Komara



Friday, October 31, 2014

Secular Capitalism Spreads a Population Crisis from the West to the East




The issue of population extinction of South Korea - that emerged since the beginning of last September - was a shocking concept to the ordinary public. The first question that comes to mind is why the societies with advanced technology, high levels of welfare and the rapid pace of modernization are actually at risk of extinction? This question needs an answer.

Research by the National Assembly Research Service (NARS) in Seoul which was released in late August, suggested alarmingly the potential of the population of South Korea to become extinct, due to the decline in its birth rate to a new low of 1.19 children per woman in 2013. The research's simulation showed that the population will shrink from 50 million today to 40 million by 2056 and 10 million in 2136. Then the last remaining South Korean people will live until 2750.

The population crisis in South Korea actually reminds us of the same issues that also hit Japan and the Asian tiger countries over the last few decades. The Diplomat even said if the latest forecast is accurate, then the region -not only South Korea- has an even bigger demographic threat: extinction. South Korea, Japan, Taiwan, and Singapore are struggling to finance huge numbers of their old age population. Almost the same as South Korea, approximately 39.6 percent of the Japanese population will be retired by 2050. According to a study released by Tohoku University in 2012, the population of Japan would also be extinct within a thousand years, with the last child born in 3011. It is an irony and paradox that the countries which have been dubbed as the "East Asian miracle" due to their success in transforming to become a high economic growth region, currently face the risk of their own race becoming extinct as a nation.

The Chicago Syndrome: Sick Society and Population Crisis
The phenomenon of an aging population that engulfed East Asian countries cannot be separated from their pioneer in the West that has experienced it first. Successful East Asia in transformation from a passive part of emerging global capitalism during the colonial expansion of the West to an active builder of the globalizing capitalist system - meant that it did not take them a long time to experience the same syndrome experienced and pioneered by Western countries such as France, Italy and others. After only about three decades of capitalization in their countries, the damage and social breakdown caused by this system immediately swept across their societies.

Chicago's Syndrome is a term coined by a Malaysian professor. The Professor from the International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), Mohd. Kamal Hassan recognized the symptoms of major cities in the United States and other Western countries with "having economic progress but suffering detriment civilization". And indeed this is the character of many capitalist countries today. In such states, rapid development is often accompanied by a social crisis, the collapse of the family institution, widespread criminality, violence against women and children, and high suicide rates, in addition to falling birth rates which are in large part due to the massive involvement of women in the labor force. South Korea faces a serious problem in the elderly suicide rate; it is over 4000 elderly suicides per year. Likewise in Japan, about 30,000 people die as a result of suicide each year. This equates to around 80-100 Japanese people committing suicide each day. And surprisingly most of them are of a productive age and have a steady income financially. Child abuse has also become a big issue in capitalist East Asian countries. In South Korea the number of confirmed child abuse cases rose to 6,700 in 2013 from 2,100 in 2001, and then up 36% this year to 10,240 cases. Japan is even worse in that it reported a total of 73,765 cases of child abuse in 2013- its highest ever level and the first time the total has surpassed 70,000.

Western societies which are characterized by three things: secularism, pragmatism and hedonism - as described by the eminent scholar Taqiyuddin an-Nabhani (1953) in his book, The System of Islam - have transmitted the same traits in developed East Asian societies, along with the detrimental consequences that extends to their society's life. When the West continues to propagate their values ​​and ideology to the world in a very arrogant manner through maligning Islam and Muslims, in reality it is an attempt to hide the desperation that they have created in their own societies and also in other regions such as East Asia. Now the West is no longer able to hide the decline and damage of their secular values and way of life.

The so-called ‘advancement and modernity' supposedly offered by Capitalism in truth was nothing but an effective recipe for mass dehumanization of mankind, for the ideology made communities value material and physical pleasures rather than the wellbeing of their societies. Its values made individuals indifferent to humanity and the preservation of the human race itself. Acutely individualistic minds created by capitalism have spawned generations with damaged mentalities and spiritually empty lives - generations who have failed to understand clearly the reality of life, have no clear purpose in life and who are obsessed with imaginative and inhumane superhero figures from their own capitalist entertainment industry. They are also being transformed into an inhumane generation that is obsessed with materialistic success and a hedonistic lifestyle rather than the happiness that comes from a stable and successful family life. Many also shun the commitment associated with marriage due to pursuing individual pleasures and desires. And others postpone having children till late in life or even decide to remain childless because they see children as a burden that drains their finances. This is because they do not have a belief in the Creator who guarantees the rizq (provision) for every son of Adam. All this is coupled with capitalism's "Womenomics" policy of coercing women into the workplace - a policy that has created mass exploitation of female workers; and that has caused many women to view being employed as giving them a higher status than being a mother, resulting in them losing their passion to have many children. All this is why the birth rate and marriage rate in many capitalist countries has become very low, for many of their youth did not value marriage and family anymore. So slowly but surely, this flow of modern capitalist dehumanization led to population crises, and even predictions of population extinction! This is a toxic form of success which is offered by secularism - toxic because despite abundance of sciences and tremendous technological advances, such societies have failed to organize the personal lives of individuals to build healthy civilizations.


The Sublime Vision of the Islamic Civilization
"If the U.S. spends hundreds of millions of dollars for scientific researches in addressing social problems in their society, then Islam eliminates ingrained habits in jahiliyah societies only by a few sheets of the Quran." - Sayyid Qutb

The above quote is true. Islam has rooted solutions to create a healthy society. Medina is the best model of a healthy and civilized society as Islam, since its birth in the Arabian Peninsula, has incised remarkable achievement in bringing dignity to the community. Under the shade of Allah's Revelation, Islam also managed to fuse thoughts and feelings in the community within the purity of the Islamic Aqeedah and Laws. Not surprisingly, the predominance of Medina is illustrated by the words of the Prophet (saw) who described it like a blacksmith furnace that is able to get rid of iron rust. Rasulullah (saw) has stated:
«أُمِرْتُ بِقَرْيَةٍ تَأْكُلُ الْقُرَى يَقُولُونَ يَثْرِبُ، وَهِيَ الْمَدِينَةُ تَنْفِي النَّاسَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ»
"I was ordered to a town which will eat up towns. They used to say, 'Yathrib,' but it is Madina. It removes the bad people like the blacksmith's furnace removes impurities from the iron." (Muwatta Malik / Book-45 / Hadith-1605)

The Shariah as a body of laws has particular maqasids (intents) that are aimed at preserving five things that exist in human civilization, namely: belief, life, mind, honour and property. These Islamic aims ensure that economic prosperity, modernity and advancement will not cause a social breakdown in the society. So the advancement of technology in Islam does not need social costs. This is because Islam does not recognize a dichotomy between knowledge and faith as the Western civilization does. The church doctrines in the Dark Middle-Ages often conflicted with the sciences, so it forced the birth of secularism which became the main reason of social breakdown today despite the fact that such states reached prosperity and technological advances.

The Prophet (saw) also described the life of the Islamic community as a group of people who sailed the seas within a ship that contained specific laws of behavior to protect all on board. It symbolized the nature of a society whose constituents have a collective responsibility to prevent wrongdoing inorder to protect the rights and welfare of all;

مثل المدهن في حدود الله والواقع فيها مثل قوم استهموا سفينة فصار بعضهم في أسفلها وصار بعضهم في أعلاها فكان الذي في أسفلها يمرون بالماء على الذين في أعلاها فتأذوا به فأخذ فأسا فجعل ينقر أسفل السفينة فأتوه فقالوا ما لك قال تأذيتم بي ولا بد لي من الماء فإن أخذوا على يديه أنجوه ونجوا أنفسهم وإن تركوه أهلكوه وأهلكوا أنفسهم
"The example of the one who stands for the Hudood of Allah and the one who compromises the Hudood of Allah are like the people in a boat, some of whom occupy the upper deck and some occupy the lower deck. Whenever those in the lower deck need water, they have to go to the upper deck to retrieve it. So some of them said, ‘why don't we make a hole in our deck so we do not harm the people of the upper deck?' If the people do not stop them, they will all fall and be failures, but if they stop them they will all be saved." (Bukhari)

This ship analogy highlights the importance of the collective responsibility in a society which functions as an effective protector of the wellbeing of the people. Islam strongly recognizes this principle, and the obligation of amar ma'roof nahee munkar (enjoining the good and forbidding the evil) that it prescribes upon all believers functions as a strong immune system within the society to prevent the spreading of social diseases.

Muslim Women as the Guards of Civilization
As members of society, women are in the center of the cultural wars in many Muslim countries today. They are seen as "bearers of culture", the manager of tradition and family values, as well as the last bulwark against the penetration and domination of Western culture.

Islam views women as having a central position within a civilization. Muslim women play an important role within the family to maintain the Islamic identity of the Muslim society. A healthy Muslim community can therefore only be achieved if Muslim women realize where their exact position within a society lies and regain that position. The main position of women is as educators of the future generations. An intelligent and righteous mother should be aware of her main role which is to create the best children of this Ummah who will improve the condition of Muslims. In the West, this main role of women has been devalued and undermined. The result has been the rampant spread of social diseases and crimes within their societies.

Therefore Islam prescribes a set of noble laws to maintain the dignity of women. Islam also ordered women to have extraordinary roles in motherhood - where in a larger scope the accumulation of this role will guard the civilization, so that the population crisis and sick society will be prevented from emerging even in the smallest measure. Islam for example recommends having many children, defines the primary role of women as wife and mother rather than as employers feeding the economy, and it shuns the individualistic, hedonistic culture of just pursuing physical pleasures that leads to individuals rejecting marriage or remaining childless. In addition, Islam has also provided the one and only comprehensive system which will provide the cure for a sick society. This system is nothing but the Islamic Khilafah. As Uthman ibn Affan (ra), the companion of the Prophet (saw) once said, "Verily Allah gives authority to the ruler to remove anything that cannot be eliminated by the Quran."

The Khilafah - as the global leadership for the Muslims - with its new political, economic and social vision for human civilization - will implement a system that embodies comprehensive social-economic policies which couple modernity and prosperity with moral preservation as well as noble civilization, at the same time rejects liberal freedoms and rather promotes taqwa (God-consciousness) within society that nurtures a mentality of collective responsibility to eliminate various diseases within the community. All this is implemented under the umbrella of the Islamic ruling system that obliges an efficient judicial system to deal with crimes and social diseases swiftly. Thus a healthy society will materialize, and the sustainability of the human race and its lineage will always be preserved.
Written for the Central Media Office of Hizb ut Tahrir by

Fika Komara

Member of Central Media Office of Hizb ut Tahrir

Monday, May 26, 2014

Khilafah adalah Masa Depan Hakiki bagi Muslim Moro di Filipina Selatan, Bukan Perjanjian Damai Demokratis yang Sarat dengan Kepentingan Imperialis!!

Pada hari Minggu tanggal 4 Mei lalu, berbagai media Filipina melaporkan  aksi massif “ratifikasi rakyat” yang diselenggarakan serentak di beberapa area penting di Mindanao dalam rangka mendesak Kongres untuk meloloskan Hukum Dasar Bangsamoro (Bangsamoro Basic Law). Laporan dari Luwaran.com, situs informasi resmi dari Front Pembebasan Islam Moro (MILF), menginformasikan jumlah peserta aksi long march tersebut mencapai 200.000 orang termasuk ribuan Muslimah di delapan kota dan empat kotamadya di Filipina Selatan.
Setelah lebih dari 40 tahun konflik berdarah antara MILF dan pemerintah Filipina, presiden Kelompok Wanita Barangay – Hazar Muarip Ahmad mengatakan mereka sudah “sakit dan lelah dengan perang,” karena perempuan dan anak-anak adalah korban pertama yang paling terimbas jika konflik meletus. Di sisi lain, hal itu juga mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak sebagaimana yang disampaikan oleh Ahmad Al-Amin, Ketua Kaukus Masyarakat Adat Bangsamoro dalam wawancara terpisah.

Hukum Dasar Bangsamoro merupakan bagian dari Perjanjian Komprehensif pada Bangsamoro (Comprehensive Agreement on Bangsamoro/CAB) antara pemerintah Filipina di bawah pemerintahan Aquino, dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang telah dicapai setelah perundingan panjang selama 17 tahun dan secara intensif difasilitasi oleh lembaga-lembaga internasional, termasuk beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jepang, dan Malaysia.

Perjanjian ini juga memberikan peta jalan (roadmap) baru untuk Bangsamoro, yakni sebagai entitas politik otonom baru yang akan menggantikan Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM) yang dianggap oleh Presiden Filipina sebagai “percobaan yang gagal”. Di sisi lain, perjanjian ini juga membentuk identitas baru untuk Muslim Moro sebagai “bangsa Moro”, bangsa adalah kata Melayu yang berarti ‘bangsa’ yang akan mencakup tidak hanya suku Muslim etnis, tetapi juga penduduk yang beragama Kristen dan masyarakat adat di wilayah Bangsamoro.


Perangkap Demokrasi yang Sarat dengan Kepentingan Asing
Perjanjian damai yang diupayakan pemerintah sekuler Filipina yang didukung oleh lembaga-lembaga dunia, sejatinya tidak akan pernah menciptakan kemerdekaan hakiki bagi Muslim Moro yang minoritas, termasuk kaum Muslimah dan anak-anak Moro yang puluhan tahun hidup tertindas hingga lebih dari 120 ribu nyawa Muslim Moro melayang selama 40 tahun terakhir.

Perjanjian komprehensif ini tidak lain adalah sekedar “perangkap demokrasi” yang digunakan untuk mengaburkan identitas sejati umat Islam di Filipina Selatan, menganeksasi wilayah selatan Filipina yang sangat kaya akan sumberdaya alam, melumpuhkan gerakan politik bersenjata Moro Islamic Liberation Front (MILF), dan menjinakkan umat Islam agar menjadi lebih moderat, pragmatis sehingga menyakini bahwa demokrasi adalah kancah perjuangan Islam yang ideal. Semua upaya dilakukan oleh penguasa kufar Filipina dan lembaga-lembaga internasional yang tidak menginginkan Islam tegak di Filipina Selatan, yang bermuara pada tujuan yaitu partisipasi dalam demokrasi dari kaum Muslimin dan menyibukkan mereka dengan hal tersebut sehingga meninggalkan segala upaya untuk merealisasikan perjuangan penegakan Syariat Islam.

Dengan terikat dengan perjanjian damai seperti CAB, bahaya yang lebih besar sesungguhnya menanti umat Islam di Filipina Selatan. Imperialisme AS dan negara-negara Kapitalis lainnya semacam Australia dan Jepang siap mengeksploitasi kekayaan ekonomi yang dimiliki pulau Mindanao dan Sulu di Filipina Selatan. Hal ini tidaklah aneh, karena hampir empat abad kekuasaan Spanyol dan enam dekade pengawasan AS telah membelenggu Filipina dengan eksploitasi feodal dan semi-feodal. Petani Filipina telah kehilangan tanah; pekerja dihinakan menjadi tenaga kerja murah; dan sumber daya alam dan lingkungan, dijarah dan dirusak. Filipina telah lama menjadi pasar pembuangan untuk barang-barang mahal, dan pangkalan depan untuk hegemoni imperialis AS dan sekutunya di Asia-Pasifik. Bahkan untuk mengamankan kepentingan geopolitiknya di Asia Pasifik, secara khusus AS telah mengerahkan pasukannya di Mindanao.

Khilafah: Masa Depan Hakiki untuk Muslim Moro
Wahai saudariku Muslimah Moro, sadarilah! Bahwa muslim Moro adalah bagian tidak terpisahkan dari umat Islam yang satu di seluruh dunia Islam yang terbentang dari Maroko hingga Merauke! Kaum Muslimah di sepanjang bentangan kawasan itu mengalami penderitaan yang sama seperti yang kalian rasakan, tertindas dan terjajah di tanah mereka sendiri. Kita adalah umat yang satu, nabi kita satu, dan Al-Quran kita pun satu, maka tinggalkanlah atribut kebangsaan sekuler yang mengkotak-kotakkan umat Islam!  Karena Islam mengajarkan bahwa ikatan terkuat bagi seorang Muslim itu adalah Aqidah Islam yang termanifestasi dalam ukhuwah Islamiyah, dan ikatan ini wajib diletakkan diatas suku bangsa, ras ataupun warna kulit.

Islam juga mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah satu kepemimpinan politik (Khilafah). Haram bagi mereka terfragmentasi di bawah kepemimpinan politis yang lebih dari satu, apalagi harus hidup tertindas dibawah tirani mayoritas kaum kafir. Rasulullah SAW pernah bersabda:
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
Apabila ada dua khalifah yang dibaiat, maka bunuhlah yang paling terakhir dari keduanya.“ (HR. Muslim no. 3444). Oleh karena itu Khilafah akan menyatukan wilayah Filipina Selatan dengan kepulauan Indonesia, Malaysia dengan seluruh tanah kaum Muslimin di seluruh dunia. Khilafah juga akan membebaskan tanah kaum Muslimin di Mindanao, Sulu, Burma, Suriah, hingga Afrika Tengah, serta akan menjadi perisai bagi kehormatan umat Islam termasuk kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh wilayah negara Khilafah.

Khilafah dengan visi politik luar negerinya yang luhur tidak akan pernah membiarkan wilayah kaum Muslimin jatuh ke tangan kuffar melalui berbagai jerat perjanjian imperialis. Daulah Khilafah akan mengakhiri politik luar negeri negeri-negeri Muslim yang penuh dengan nuansa kelemahan dan ketertundukan ini akibat jerat nasionalisme dan pengkhianatan penguasa boneka Barat. Khilafah akan menggantinya dengan sebuah visi politik luar negeri yang berorientasi mulia untuk penyebaran dakwah Islam ke seluruh dunia dengan metode dakwah dan Jihad.

Wahai saudariku tercinta Muslimah Moro! ingatlah bahwa jalan satu-satunya untuk merdeka adalah kembali pada pangkuan Islam dan bersatu dengan seluruh umat Islam di bawah naungan Khilafah! Sadarilah bahwa umat Islam tidak boleh kembali masuk perangkap musuh untuk kesekian kalinya, kekuatan umat Islam tidak boleh dilucuti oleh perangkap bernama demokrasi dan nasionalisme! Tetaplah konsisten dengan jalan perubahan melalui metode dakwah yang lurus yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, karena itu  bergabunglah dengan perjuangan demi tegaknya Khilafah Islam yang kedua yang akan membungkam siapapun yang menyerang dan menodai kehormatan kaum Muslimah di seluruh dunia di bawah kalimah Tauhid dan pemerintahan Islam.

Fika Komara

Tuesday, January 14, 2014

Tanpa Khilafah, Rezim Brutal China Leluasa Mengaborsi Rahim Mulia Muslimah Uyghur

Tanpa Khilafah, Rezim Brutal China Leluasa Mengaborsi Rahim Mulia Muslimah Uyghur

Oleh: Fika Komara (Member of Central Media Office Hizb ut Tahrir)

Pada tanggal 30 Desember 2013 yang lalu Radio Free Asia memberitakan bahwa otoritas China di Xinjiang telah mengaborsi bayi dari empat orang Muslimah Uyghur karena mereka melanggar kebijakan satu anak yang diterapkan di China sejak tahun 1970-an. Tragisnya salah satu dari empat perempuan itu bahkan telah mengandung 9 bulan. Mereka diberi suntikan mematikan yang merangsang proses aborsi dari rahim-rahim mereka.
Memettursun Kawul, suami dari korban yang mengandung 9 bulan bercerita dengan getir “meskipun istri saya disuntik oleh dokter, namun bayi saya menangis ketika ia dilahirkan.” Ketika ia mendengar tangisan bayinya ia langsung meraih bayi itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat dalam upaya untuk menyelamatkannya. “Para dokter di rumah sakit itu mencoba untuk menyelamatkannya tetapi mereka gagal. Akibat obat aborsi yang sudah telanjur disuntikkan, anakku meninggal satu jam setelah ia lahir.” Metkurban Nuri, suami dari korban lain yang mengandung empat bulan, mengatakan ia dan istrinya telah bersembunyi di kota Hotan selama seminggu tetapi pejabat keluarga berencana lokal menangkap mereka pada hari Sabtu, kemudian mereka ditahan di kantor polisi Arish selama 24 jam dan ia dipaksa untuk menyetujui agar istrinya menjalani aborsi di Rumah Sakit Nurluq.
Sungguh ini adalah tindakan biadab dan barbar yang dilakukan oleh rezim kriminal China yang amoral! Rezim yang dibutakan oleh kebencian terhadap Islam dan keserakahan terhadap pertumbuhan ekonomi ini telah mengaborsi putra-putri Islam dari rahim-rahim mulia Muslimah Uyghur. Atas nama kebijakan satu anak yang kontroversial China telah mengukir sejarah 336 juta aborsi dan 196 juta sterilisasi sejak tahun 1971, dan terus menuai hujatan dan kontroversi tanpa henti baik di dalam negerinya maupun dunia internasional. Puncaknya pada bulan November, sidang Pleno Partai Komunis mengumumkan reformasi kebijakan untuk melonggarkan kebijakan satu anak yang sudah diterapkan puluhan tahun. Akhirnya kini berdasarkan aturan baru, secara resmi disetujui oleh Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional pada tanggal 28 Desember, pasangan yang keduanya merupakan anak tunggal dapat memiliki dua anak. Para pembuat kebijakan telah memperkirakan pelonggaran itu akan menguntungkan sekitar 15 sampai 20 juta pasangan di kota-kota besar China dan akan mengakibatkan 1 – 2 juta kelahiran tambahan per tahun dalam beberapa tahun pertama, di atas 16 juta bayi yang lahir setiap tahun di China .
Namun rupanya pelonggaran kebijakan ini tidak berlaku bagi entitas Muslim Uyghur di Xinjing, Turkistan Timur. Sepuluh juta Muslim Uighur di Xinjiang yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan milyaran penduduk China beretnis Han lainnya, pada realitanya sangat dibatasi pertumbuhannya oleh pemerintah China. Banyak pengamat mengatakan seharusnya Muslim Uyghur tidak dikenai kebijakan satu anak karena jumlah mereka tidak mengancam petumbuhan ekonomi di China. Namun realitasnya setiap pasangan Uighur yang tinggal di perkotaan hanya dibolehkan untuk mempunyai anak maksimal dua orang, sedangkan jika mereka tinggal di pedesaan dibolehkan mempunyai anak maksimal tiga orang. Jika jumlah anak mereka telah mencapai jumlah maksimal, mereka dipaksa untuk melakukan aborsi atau sterilisasi atau tindakan-tindakan lain yang dapat memberhentikan kehamilan dari pasangan tersebut. Tidaklah mengherankan jika selama ini, pertumbuhan jumlah penduduk etnis Muslim Uighur tergolong rendah.
Kejahatan ganda yang dilakukan rezim criminal China terhadap Muslim Uyghur di Turkistan Timur adalah pertama menerapkan kebijakan kontrol populasi yang brutal dan kedua adalah kejahatan keji memerangi Islam dan umatnya di Xinjiang.

Kejahatan Kebijakan Satu Anak
Akibat dibutakan oleh keserakahan pertumbuhan ekonomi, China telah merendahkan nilai anak-anaknya sendiri selaku generasi penerus dan memandang mereka sebagai beban dan penghambat mesin pertumbuhan ekonomi mereka. Jutaan bayi khususnya bayi perempuan diaborsi di berbagai kota dan desa di China. Ratusan juta perempuan telah ditindas selama hampir setengah abad oleh kebijakan kejam ini. Ironisnya kebijakan ini dilakukan hanya semata demi alasan ekonomi, yakni mencegah ledakan penduduk demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Sesungguhnya alasan yang sama -yakni pertumbuhan ekonomi- juga menjadi pemicu dilonggarkannya kebijakan satu anak yang baru saja diresmikan Desember lalu. Rezim serakah China baru menyadari harga mahal yang harus mereka bayar bahwa akibat ditekannya jumlah populasi selama puluhan tahun mereka kekurangan tenaga kerja usia produktif untuk memicu mesin raksasa pertumbuhan ekonomi mereka, dengan tingkat pertumbuhan tahunan yang bertahan rata-rata PDB dari 10,5 persen antara 2001 dan 2010 dan 9,7 persen antara tahun 1979 dan 2009 membuat China  muncul sebagai ekonomi terbesar kedua, manufaktur terbesar dan negara perdagangan terbesar di dunia. Namun prestasi gemilang itu ternyata membawa jejak kabut berat dan asap, dan polusi air dan tanah, yang melahirkan penyakit pernapasan massal dan menciptakan desa-desa penuh penyakit kanker, hingga merampas hak lebih dari 300 juta orang dari air minum yang aman. Jadi memang mahal sekali harga yang harus mereka bayar untuk sebuah pertumbuhan ekonomi, China bukan hanya kehilangan generasi muda usia produktif melainkan juga generasi yang sehat.
China telah dibutakan oleh ideologi Kapitalis yang memandang semua masalah dari perspektif ekonomi dan mengabaikan dampak sosial dari kebijakan-kebijakannya terhadap generasi dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Kapitalisme membawa keyakinan yang salah bahwa sumber daya yang ada tidak cukup untuk menyediakan kebutuhan dasar dari semua orang, ini karena Kapitalisme adalah ideology yang secara konsisten menempatkan keuntungan materi di atas rakyat, keuangan di atas kemanusiaan, dan pertumbuhan ekonomi di atas jutaan nyawa generasi penerus.

Kebencian Terhadap Islam
Bukan rahasia lagi bahwa pemerintah China menganggap bahwa keberadaan Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang sebagai pihak yang mengganggu kestabilan dan keamanan. Menurut surat kabar Xinjiang Daily, Oktober lalu, pertempuran melawan ekstrimisme tidak dapat dihindari karena ekstrimis keagamaan ini adalah bentuk halangan bagi stabilitas keamanan. China terus menyebarkan retorika melawan Muslim Uyghur yang mereka sebut teroris dan ekstrimis.
Sungguh tindakan-tindakan permusuhan terhadap kaum Muslim di Turkistan Timur yang diduduki oleh Cina mencerminkan sejauh mana kebencian rezim komunis terhadap Islam, juga merupakan ketakutan dari negara Cina akan pengaruh Islam yang besar pada masyarakat Cina. Ini menunjukkan sisa-sisa doktrin komunis yang represif dan memiliki warisan sejarah penganiayaan agama minoritas masih tetap berakar kuat dalam negara. Meski ideology komunisme di dunia telah runtuh, Muslimah Uighur khususnya merasakan tekanan dalam kehidupan mereka dari segala penjuru. Bukan hanya hak mereka untuk mengenakan busana Muslimah yang dirampas secara sistematis dan keji, namun juga hak mereka untuk berkeluarga dan memiliki keturunan! Partai komunis yang berkuasa telah berupaya secara berkala untuk membasmi hijab dan busana Muslimah sejak mengambil kekuasaan di tahun 1949, pertama kali meluncurkan upaya-upaya atheisme dan kemudian melarang jilbab sama sekali di tahun 1960-an dan 70-an.
Muslimah Uyghur bukan hanya harus berhadapan dengan kebijakan represif yang mengancam identitas mereka dengan larangan hijab, namun juga harus dihadapkan dengan kebijakan brutal yang merusak rahim-rahim mulia mereka dengan program aborsi dan sterilisasi massal yang amoral! Program brutal yang lahir dari penguasa kriminal China yang membenci Islam dan ketakutan akan lahirnya generasi Mujtahid dan Mujahid Islam yang mampu mengembalikan kejayaan Islam di Turkistan Timur dan seluruh penjuru dunia Islam. Karena dari rahim-rahim mulia kaum Muslimah di Uyghur dan Muslimah di seluruh dunia akan lahir generasi pemimpin umat yang akan membawa umat ini dari kegelapan menuju cahaya.
Inilah salah satu realitas penderitaan kaum Muslimah yang menyayat hati, di timur dunia Islam. Mereka adalah korban tak berdaya dari predator-predator penguasa Kufar yang dibiarkan eksis oleh sistem dunia yang diskriminatif terhadap Umat Islam. Selama sistem dunia masih memuja demokrasi dan sekulerisme, maka penderitaan kaum Muslimah di Xinjiang, Turkistan Timur niscaya tidak akan pernah berakhir, karena pangkal masalah dari semua penderitaan ini tidak lain adalah tidak hadirnya Khilafah yang merupakan perisai bagi umat Islam, yang akan menghilangkan hegemoni kufar atas kaum Muslimin dan melindungi kehormatan kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh dunia Islam.

Khilafah: Perisai Bagi Muslimah Uyghur
Telah diriwayatkan dari Abi Hurairoh,dari Nabi SAW, beliau pernah bersabda:
‏إِنَّمَا الْإِمَامُ ‏‏جُنَّةٌ ‏ ‏يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. (HR Muslim).”
Muslimah Uyghur sangat membutuhkan perisai sejati yang akan melindungi kehormatan dan keluarga mereka. Dan Khilafah ialah sebuah negara dengan konsep luhur tentang kehormatan perempuan dan generasi yang berkualitas, dimana kehormatan satu orang Muslimah menyamai nilai pembebasan kota Ammuriah seperti yang terukir dari sejarah Khalifah al Mu’tashim. Masya Allah! Khalifah al – Mu’tashim menyambut seruan seorang muslimah di kota Ammuriah yang dilecehkan tentara Romawi, dengan puluhan ribu tentara yang terbentang mulai dari gerbang ibukota di Baghdad hingga ujungnya mencapai kota Ammuriah.
Khilafah menolak pandangan kapitalis materialistik yang membatasi jumlah anggota keluarga untuk kepentingan ekonomi, sekaligus menolak penindasan atas perempuan dengan menekan naluri alamiah mereka untuk memiliki banyak anak. Hal itu karena Islam memiliki cara pandang yang khas dalam menyelesaikan persoalan manusia, yang tidak melulu melihat masalah dari perspektif ekonomi namun justru dari perspektif kemanusiaan. Islam justru menganjurkan untuk memiliki banyak anak tanpa takut miskin karena melalui banyak nash-nash al Quran Islam mengajarkan kepada kita akan keyakinan bahwa Rezeki itu berasal dari Allah, ini adalah sudut pandang yang unik yang didasarkan pada Aqidah Islam, yang percaya bahwa seluruh sumber daya dunia yang cukup untuk kehidupan manusia disediakan oleh Allah Swt yang Maha Memelihara dan Maha Memberi Rezeki. Nilai mulia ini membentuk mentalis penuh tanggung jawab dalam memandang generasi penerus, dan bukan memandang mereka sebagai beban/ penghambat ekonomi. Sebagaimana sabda Rasululullaah Saw yang mulia,
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS Luqman [31]: 20).
Wahai saudari-saudariku Muslimah Uighur, bersabarlah dengan tekanan dan penindasan rezim brutal China yang zhalim, karena Fajar Khilafah telah demikian dekat dan kita adalah umat yang satu, nabi kita satu, bendera kita satu dan perjuangan kita pun satu. Hanya negara Khilafah saja yang akan memungkinkan Anda untuk hidup dengan semua Perintah Allah (swt), dan memiliki kehidupan keluarga yang harmonis sejahtera sekaligus memiliki banyak anak-anak di saat yang sama juga sangat kredibel dan telah teruji oleh waktu dalam mencetak generasi pemimpin yang mampu menaklukan dunia.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku; dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik“. (TQS An Nuur [24] :55) [

 

 

Monday, July 22, 2013

Pentingnya Kesadaran Spasial untuk Muslimah



Pentingnya Kesadaran Spasial untuk Muslimah


Kesadaran spasial adalah kesadaran akan ruang dan tempat. Hmm.. jadi maksudnya adalah kita memiliki wawasan dan sadar diri bahwa kita hidup di lingkungan seperti apa, posisinya bagaimana di antara lingkungan yang lain, seberapa jauh jaraknya dengan lokasi lingkungan yang lain, dan terakhir mengerti apa kekhasan lingkungan tempat tinggal kita dengan tempat tinggal lain.

Nah, konon katanya perempuan seringkali dianggap memiliki kesadaran spasial yang rendah. Lho masak? salah satu indikator sederhananya ya masih sedikit perempuan yang berani "menyetir" sendiri atau bertualang ke berbagai tempat berbeda dari lingkungannya.

Tapi sobat Muslimah jangan berkecil hati, indikator itu terlampau sederhana untuk menilai kesadaran spasial seseorang. Karena sebenarnya ada pemaknaan kesadaran spasial yang lebih mendasar dan utama. Yakni kesadaran geografi masyarakat. Nah disini ternyata bukan hanya wanita saja yang punya problem, hampir semua masyarakat Indonesia masih dinilai rendah kesadaran spasialnya lho...

Lemahnya Kesadaran Spasial Masyarakat Indonesia

Mengutip Sri Edi Swasono di artikelnya yang dimuat di harian Kompas berjudul “Kesadaran Geografi Kita” yang menceritakan pengalaman mengajarnya di kelas, dimana ia dapati ternyata para mahasiswanya tidak ada satupun yang mengenal Laut Sawu, Teluk Tomini, Morotai, Sorong, Timika, dan lokasi geografi strategis lain yang berperan pada pola-pola interdependensi ekonomi internasional dan sangat berpengaruh dalam kancah perpolitikan global. Menurutnya apabila bangsa kita seperti yang ada di kelas itu, ini merupakan sesuatu pelumpuhan sempurna (a complete disempowerment) atas suatu bangsa.

Rendahnya kesadaran spasial atau kesadaran geografis masyarakat mengindikasikan belum adanya budaya spasial dalam masyarakat. Kapitalisme yang telah meng-individualisasi masyarakat membuat mereka tidak merasa sempit atau sesak napas hidup di Indonesia hanya berwawasan cekak Jabotabek, tanpa tahu the land beyond, ibarat miopi dan berkacamata sempit cukuplah hidup ini. Ibaratnya, tidak perlu mengenal Nusantara berikut isi dan penghuninya yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote. Seolah mereka tidak merasa risi tanpa tahu zero point keberadaan mereka.

Masyarakat yang ideal adalah mereka yang memiliki kesadaran geografis tinggi, atau masyarakat yang memiliki budaya spasial; suatu masyarakat yang biasa diistilahkan sebagai spatially enabled society. Begitupun negara/ kepala negara yang ideal adalah yang memiliki visi geopolitik dikenal dengan istilah spatially enabled government. Kombinasi kesadaran antara dua pihak ini akan mendukung tegaknya sebuah peradaban yang tinggi, yang tentu sangat dipengaruhi oleh kekuatan ideologinya.

Tentu kualitas kesadaran ini juga harus kita miliki sebagai perempuan,  apalagi kaum Muslimah, dimana Islam Allah SWT berfirman: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami utus engkau (ya Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (TQS. AL Anbiya 107).

Baca juga artikel saya yang lain tentang kesadaran spasial disini

Sunday, May 12, 2013

Tanpa Khilafah, Penderitaan Kaum Muslimah Terbentang dari Negeri Syam Hingga Timur Jauh



Tanpa Khilafah, Penderitaan Kaum Muslimah Terbentang dari Negeri Syam Hingga Timur Jauh

Tanpa adanya perisai umat, penderitaan kaum Muslimah tidak kunjung usai. Bulan Maret lalu menjadi bulan paling berdarah di Suriah, ratusan Muslimah dan anak-anak Suriah dibantai di Syam, di pusat rumah Islam sendiri. Pada saat yang sama ratusan ribu Muslimah Rohingya di Timur Jauh ditindas rezim tiran Myanmar, diusir dari negerinya sendiri, hidup terkatung-katung hingga menjadi korban pengabaian para penguasa Muslim. Sebagaimana yang dilansir ANTARA 21 April lalu Polisi Indonesia menangkap 76 pengungsi Rohingya di Sampang, Madura dan di antara mereka terdapat 13 orang perempuan dan 15 orang anak-anak. Menurut The Arakan’s Project, diperkirakan 19.500 orang Rohingya, telah melarikan diri dengan perahu dari Bangladesh dan Utara Arakan, menuju negara-negara Asia Tenggara terdekat dengan perkiraan 100 orang telah tenggelam di lautan selama proses tersebut. Kepedihan belumlah usai, bergeser ke ujung timur di Timur Jauh, kita menyaksikan bagaimana ribuan kaum Muslimah dan anak-anak Sulu ditindas di negerinya oleh rezim Kufar Filipina, kemudian pada bulan Maret lalu menjadi korban nasionalisme buta pemerintah Malaysia di Sabah karena menganggap kesultanan Sulu telah menginvasi Sabah wilayah territorial Malaysia.
Inilah deretan fakta penderitaan kaum Muslimah yang menyayat hati, terbentang dari pusatnya Islam, negeri Syam, hingga ke negeri-negeri di Timur Jauh, di ujung Timur dunia Islam. Mereka adalah korban tak berdaya dari predator-predator penguasa Kufar yang dibiarkan eksis oleh sistem dunia yang diskriminatif terhadap Umat Islam. Mereka juga telah diabaikan oleh para penguasa boneka Muslim -sisa-sisa kolonial dari negara Kapitalis Barat- yang diaborsi rasa kemanusiaannya oleh sistem dunia hari ini yang memuja sekulerisme dan Kapitalisme. Selama sistem dunia masih seperti hari ini, maka penderitaan kaum Muslimah di sepanjang dunia Islam niscaya tidak akan pernah berakhir, karena pangkal masalah dari semua penderitaan ini tidak lain adalah tidak hadirnya Khilafah yang merupakan perisai bagi umat Islam, yang akan menghilangkan hegemoni kufar atas kaum Muslimin dan melindungi kehormatan kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh dunia Islam.
Berangkat dari panggilan Allah dan Rasul-Nya untuk melindungi kemuliaan Muslimah di Syam dan di seluruh dunia Muslim, seperti sabda Rasulullaah Saw:
الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ أَخِيهِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ
Seorang Mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang beriman; dia melindunginya dari bahaya dan membelanya di belakang punggungnya.” [HR. Bukhari]. Maka Hizb ut Tahrir, sebuah partai politik Islam internasional telah meluncurkan sebuah kampanye yang sangat penting dengan mengadakan konferensi perempuan tanggal 27 April 2013 besok di Amman, Yordania. Konferensi yang berjudul “Bersegera Menegakkan Khilafah untuk Melindungi Perempuan Mulia Syam" ini, meski fokus membicarakan penderitaan perempuan dan anak-anak Suriah akibat pembantaian yang dilakukan oleh rezim pembunuh Assad, namun gagasan dan tawaran yang diberikan konferensi ini sangat relevan dalam menjawab penderitaan Muslimah di seluruh dunia termasuk kawasan Timur Jauh. Apalagi Syam adalah rumahnya Islam, barometer perjuangan Islam hari ini karena revolusi Suriah di Syam ini adalah revolusi Islam murni yang bertujuan untuk menegakkan Khilafah dan menerapkan syariah secara kaffah. Sehingga kemenangan pada revolusi Syam adalah kemenangan bagi seluruh umat Islam di dunia, dan kemenangan itu akan senilai dengan darah murni nan suci ribuan nyawa tak berdosa yang ditumpahkan di tanah Syam yang diberkati. Insya Allah dari Bumi Syam, Khilafah akan membebaskan negeri-negeri Islam lainnya yang tertindas dan menyatukan negeri-negeri Islam yang terpecah. Demikian sebagaimana janji para Mujahidin ketika berikrar, “Wahai Rohingya, tunggulah, kami akan menolong Anda. Wahai Gaza, kami akan membebaskan Anda. Wahai Masjid al-Aqsha, kami akan menyelamatkanmu!” Allah Akbar!

Wahai kaum Muslimah Timur Jauh! wahai kaum Muslimah di Syam! Fajar Khilafah telah demikian dekat dan kita adalah umat yang satu, nabi kita satu, bendera kita satu dan perjuangan kita pun satu. Maka bergabunglah dengan perjuangan demi tegaknya Khilafah Islam yang kedua yang akan membungkam siapapun yang menyerang dan menodai kehormatan kaum Muslimah di seluruh dunia di bawah kalimah Tauhid dan pemerintahan Islam. Insya Allah

Fika M. Komara, M.Si
Member Of Central Media Office Hizb ut Tahrir