Visi Geospasial

Rasulullah Saw bersabda : “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya, dan aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepadaku”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Thursday, March 8, 2012

PEREMPUAN ABAD 21 MEMBUTUHKAN KHILAFAH


PEREMPUAN ABAD 21 MEMBUTUHKAN KHILAFAH
Oleh : Fika M. Komara

Populasi perempuan Muslim hari ini mencapai lebih dari sepersepuluh penduduk dunia atau seperlima dari total populasi perempuan dunia. Ini berarti bahwa ada sekitar 700 juta jiwa Muslimah di dunia saat ini, jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit.
Namun besarnya jumlah tidak selalu menunjukkan kekuatan, justru perempuan Muslim di berbagai belahan dunia selama beberapa dekade ini banyak menghadapi penindasan, kemiskinan dan penghinaan di bawah rezim represif yang korup dan sistem ekonomi yang sudah usang.  Kemiskinan, kekerasan (violence) dan ketidakadilan/ diskriminasi masih dianggap persoalan krusial yang dialami perempuan dari masa ke masa.
Dunia menantikan sistem dan tatanan baru yang menghadirkan visi politik yang sama sekali berbeda, yang mampu menjamin kehidupan yang layak dan menghormati perempuan, serta membawa perubahan hakiki pada dunia dengan membentuk masa depan dunia yang bermartabat dan sejahtera bagi semua masyarakat dunia, laki-laki maupun perempuan, muslim ataupun non-muslim.

Perempuan Muslim  Abad 21 di Berbagai Kawasan
Lebih dekat memotret masalah perempuan Muslim di abad ini, maka setidaknya terdapat tiga kawasan paling representatif untuk menggambarkan bagaimana peta persoalan perempuan Muslim di dunia, yaitu (1) Timur Tengah – Afrika Utara, (2) Asia Pasifik, dan (3) Negara-negara Barat. Berikut dijelaskan dari kawasan luar dunia Islam terlebih dahulu :

1.   Perempuan Muslim di Negara-negara Barat
Lebih dari 20 juta perempuan Muslim yang hidup di kawasan Eropa dan Amerika tentu bisa merasakan langsung benturan nilai dengan Barat, karena mereka hidup di dalam tatanan masyarakat Barat yang kini sedang mengalami keguncangan sosial. Ditengah mitos kecantikan perempuan Barat yang menjadi arus, perkembangan perempuan Muslim di kawasan ini sangatlah fenomenal.
Bahkan di tengah larangan niqab oleh beberapa negara di kawasan Eropa, busana muslim justru tumbuh sebagai simbol pembebasan perempuan. Perempuan muda dan berpendidikan di Eropa banyak yang beralih memeluk Islam dan dengan kesadaran mengenakan busana Muslimah yang teramat kontras dengan budaya Barat. Mereka dengan berani menampilkan Jilbab sebagai sumber identitas, protes dan pembebasan.  Gejala ini bisa dilihat sebagai sebuah arus balik dari keruntuhan sosial dalam masyarakat Barat, juga merupakan reaksi atas keterbelengguan perempuan di Barat, yang justru terbelenggu oleh ide kebebasannya sendiri, terbelenggu oleh mitos kecantikan dan kesuksesan perempuan modern yang sekuler.
Namun pada sisi lain perempuan Muslim di sana juga harus berhadapan dengan diskriminasi sosial karena tingginya suhu islamophobia pada masyarakat Barat terhadap Islam, apalagi jika mereka berasal dari keluarga migran yang minoritas. Perlakuan yang mempersulit perempuan Muslim dalam mengenakan busana Muslimah, acapkali mereka terima. Ironis sebenarnya karena mereka justru hidup di negara-negara yang katanya paling menghormati perempuan, pelopor demokrasi dan HAM.

2.   Perempuan Muslim di Kawasan Asia Pasifik
Sebagian besar kawasan Asia Pasifik adalah negeri-negeri Islam dan populasi terbesar perempuan Muslim berada pada kawasan ini. Kira-kira 450 juta Muslimah tersebar di Asia Selatan, Asia Tenggara juga Asia Tengah.  Meski demikian, kondisi perempuan Muslim Asia masih diliputi oleh kemiskinan, kebodohan dan eksploitasi.
Khususnya pada Asia Tenggara; faktor kemiskinan, jumlah populasi yang besar, dan minimnya kendala budaya terhadap mobilitas perempuan ke ruang publik membuat angka migrasi tenaga kerja perempuan sangatlah tinggi. Ironisnya tenaga kerja yang bermigrasi ini mayoritas dengan kemampuan dan skill rendah. Untuk Indonesia saja angka buruh migran perempuan low skilled mencapai 7 juta jiwa. Tingginya angka buruh migran ini memacu masalah lain yaitu problem kekerasan yang menimpa buruh migran perempuan yang bahkan tak jarang juga harus meregang nyawa di negeri orang. Fenomena migrasi sosial ini tentu menimbulkan dampak yang signifikan, utamanya pada tatanan sosial yaitu terhadap struktur keluarga muslim di Asia Tenggara.
Yang menarik di kawasan ini perempuan Muslim hampir tidak ada kesulitan dalam mengenakan busana Muslimah dengan berbagai warna dan model, bahkan Indonesia sebagai negara terbesar dalam hal populasi Muslim saat ini sedang diproyeksikan menjadi kiblat mode dunia dalam hal busana Muslimah. Busana Muslim sudah menjadi unsur kebudayaan populer di Indonesia, dan industri busana Muslim berkembang pesat. Sebenarnya tidak keliru, namun gejala umum yang terjadi adalah pergeseran nilai busana Muslimah dari sebuah kewajiban yang melekat pada identitas Muslimah, menjadi hanya sekedar budaya pop dari Islam Moderat yang bisa berdampingan dengan budaya kebebasan.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari proyeksi Barat –khususnya Amerika Serikat- untuk menjadikan Indonesia sebagai role model negeri Islam yang paling demokratis. Indonesia dipandang memiliki posisi strategis di kawasan Asia secara umum untuk mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai demokrasi ala Amerika (Barat). Keberhasilan Indonesia dalam konteks ini akan dipandang menjadi keberhasilan AS pula. Tentu bukan tanpa alasan kalau Hillary Clinton dalam salah satu kunjungannya di Indonesia, memuji-muji negeri ini sebagai negara muslim demokratis terbesar dunia yang berhasil menggabungkan Islam dan demokrasi.

3.   Perempuan Muslim di Kawasan Timur Tengah
Pada kawasan ini perempuan Muslim sangat lama hidup di bawah rezim despotik dan represif yang korup dimana hak-hak politik mereka terbelenggu dan kesejahteraan mereka terampas, ditambah adanya kultur masyarakat Arab yang membatasi kiprah perempuan di ruang publik. Sebagai contoh, di Arab Saudi perempuan dilarang mengemudi, tidak memiliki hak suara dalam proses politik, bahkan tidak boleh memiliki telepon genggam.
Kondisi di kawasan Arab inilah yang sering menjadi sorotan miring Barat dan penggiat Gender untuk membuat pencitraburukkan terhadap Islam. Islam dipropagandakan sebagai idelogi penindas perempuan yang mengekang kebebasan perempuan, karena hukum-hukumnya yang dinilai patriarkis; baik itu hukum tentang jilbab, waris,  poligami dan kebolehan suami memukul istrinya.
Stereotip radikal ini diperkuat dalam artikel-artikel berita yang sering menggambarkan perempuan Muslim sebagai pendiam, penurut, dan terpinggirkan ke wilayah domestik, sementara kaum lelakinya memonopoli peran aktif dalam masyarakat. Sebuah survei terhadap semua foto Muslim yang dimuat pers Amerika menunjukkan bahwa tigaperempat perempuan digambarkan dalam sikap pasif, dan ketika menggambarkan Timur Tengah, wanita enam kali (42%) lebih sering ditampilkan sebagai korban dibandingkan laki-laki (7%).
Yang menjadi pertanyaan betulkah Islam yang membelenggu hak-hak perempuan di dunia Arab? Atau tradisi represif rezim despotik yang bertentangan dengan Islam itu sendiri yang menjadi sumbernya? Kehadiran musim semi Arab (Arab Spring), yang meruntuhkan rezim-rezim despotik akhirnya menjadi jawaban. Di sana kaum perempuan Muslim justru memainkan peranan penting di barisan depan untuk melawan kezhaliman rezimnya, menuntut keadilan dan kembalinya Islam, serta hak-hak perempuan yang sebelumnya dirampas oleh para tiran itu.
Dari Tunisia hingga Bahrain, Mesir hingga Suriah, Yaman hingga Libya kaum perempuan di Timur Tengah berdemonstrasi turun ke jalan untuk menyampaikan suara mereka mengharapkan perubahan hakiki yang akan menjamin masa depan menjadi lebih bermartabat dan sejahtera di bawah naungan Islam.

Mengurai Akar Masalah, Mengoreksi Perjuangan Perempuan
Sungguh kaum perempuan di seluruh dunia Islam, selama beberapa dekade menghadapi penindasan, kemiskinan dan penghinaan di bawah rezim represif yang korup dan sistem ekonomi yang sudah usang.  Berbagai pemerintahan di Timur dan Barat, Utara dan Selatan telah menutup mata dan membiarkan pelanggaran terhadap hak perempuan dan bahkan melucuti hak-hak dasar mereka.
Dari kawasan yang dianggap paling demokratis sekalipun seperti negeri-negeri Barat, sampai kawasan yang  dianggap paling tidak demokratis seperti negeri-negeri Arab, sesungguhnya perempuan dalam keadaan hina, tertindas dan diliputi oleh kemiskinan. Semua sistem Monarki dan Republik, "Demokrasi dan kediktatoran",  selama delapan dekade terakhir telah gagal menjamin kehidupan yang layak dan menghormati perempuan.
Sumber dari segala persoalan perempuan sesungguhnya bukanlah dari Islam! Biang keladinya justru berasal dari sistem-sistem politik usang yang dipaksakan Barat kepada umat Islam untuk diterapkan. Ideologi Kapitalismelah yang berada di balik semua ini dan menjadi akar penderitaan kaum perempuan.
Sementara itu upaya perbaikan kondisi perempuan saat ini selalu menemui jalan buntu, karena perjuangan mereka terbatas hanya untuk meraih kuota parlemen atau sejumlah kecil posisi di pemerintahan. Pegiat gender melalui lembaga-lembaga dunianya berupaya terus menekan negeri-negeri Islam agar terus meningkatkan angka partisipasi perempuan di parlemen. Mereka seolah menutup mata bahwa semua upaya itu sejatinya tidak akan menyelesaikan akar persoalan.
Afghanistan, Irak, Pakistan, dan Sudan semuanya sudah memberikan kuota yang besar di parlemen bagi perempuan, lebih besar daripada sejumlah negara-negara di Barat. Bangladesh, Pakistan, Indonesia dan Turki pernah memiliki presiden atau perdana menteri perempuan. Dan banyak negeri-negeri Islam yang sudah melegalisasi hukum dan hak-hak politik, ekonomi dan pendidikan perempuan, namun kesemuanya itu telah gagal dalam memperbaiki kualitas hidup perempuan di negeri-negeri mereka, apa yang telah dilegislasi ternyata tidak banyak berarti di bawah sistem politik yang korup dan sistem ekonomi yang tidak berfungsi.
Begitu juga perubahan hakiki tidak akan pernah terjadi jika kita hanya mengadopsi sistem coba-coba yang telah sering terbukti gagal yaitu sistem Demokrasi Sekuler Liberal, dimana manusia yang menjadi pembuat hukumnya. Alih-alih perubahan, yang terjadi justru status quo Kapitalisme kian menjadi hegemoni bagi dunia, dan itu artinya semakin banyak problem yang akan membelit perempuan.

Visi Politik Baru Perjuangan Perempuan
          Sudah terlalu lama banyak pihak –terutama pegiat gender-  yang telah berbicara mengatas-namakan para Muslimah di berbagai kawasan dunia Islam. Narasi mereka hadir dengan cerita yang ketinggalan jaman bahwa para Muslimah memandang Islam sebagai penindas mereka, bahwa perempuan Muslim menolak pemerintahan Islam dan mencari kebebasan pada sistem Demokrasi-Sekuler-Liberal. Padahal, visi politik mereka telah terbukti gagal, sejalan dengan kebobrokan sistem Demokrasi Sekuler-Liberal. Alih-alih kaum perempuan terangkat nasibnya, mereka malah terperangkap oleh jaring-jaring yang mereka ciptakan sendiri.
Omong kosong bahwa Islam penindas perempuan terbantahkan dengan sendirinya, karena Islam sedari awal telah memberi perempuan posisi yang bergengsi, dan posisi inilah yang berhak dia peroleh sebagai manusia yg bermartabat. Posisi itu adalah ummu wa robbatul bait (ibu dan manajer rumah tangga). Selain itu di dalam Islam, perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga. Islam memberikan hak-hak yang sama kepada perempuan seperti halnya pada laki-laki, karena perempuan adalah saudara kandung laki-laki. Islam pun menetapkan hukum-hukum yang memelihara hak-hak perempuan, menjaga kemuliaan, dan menjaga potensi/ kemampuannya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (TQS. At Taubah [9] : 71).
          Karena itu, dunia saat ini tengah menantikan sistem dan tatanan baru dengan visi politik yang sama sekali berbeda, yang mampu membawa perubahan hakiki pada dunia dan membentuk masa depan dunia yang bermartabat dan sejahtera bagi semua masyarakat dunia, laki-laki maupun perempuan, muslim ataupun non-muslim. Dan kaum perempuan akan menjadi bagian integral dalam menjamin masa depan tersebut menjadi kenyataan.
Visi politik itu adalah Khilafah Islamiyah yang merupakan model pemerintahan sejati yang akan membebaskan perempuan dari kemunduran dan penindasan dan memberi visi politik jelas bagi status dan kehidupan perempuan. Sebuah sistem yang menyajikan rancangan perubahan politik dan ekonomi secara menyeluruh, sebagaimana menyajikan strategi yang jelas untuk menjamin martabat dan hak-hak perempuan serta kaum minoritas. Sebuah negara yang akan mentransformasi kebangkitan ini menjadi perubahan yang sesungguhnya bagi para perempuan Muslim di dunia Islam.
          Islamlah yang menjadi pionir dalam memenuhi hak-hak warga negara perempuan sejak empat ratus tahun yang lalu. Dan Khilafahlah yang pernah memobilisasi seluruh tentaranya hanya demi melindungi kehormatan seorang Muslimah, yang kemudian  mengembalikan keamanan, kehormatan dan keadilan kepada para Ibu dan anak-anak perempuan umat ini. Dan Khilafah terus tegak berdiri sebagai mercusuar bagi pembebasan perempuan secara global.

Wallahu A’lam

Referensi :
1.    Mapping The Global Muslim Population 2009, PEW Research Centre
2.    Bernadette P. Resurreccion, Gender Trends in Migration and Employment in Southeast Asia
3.    John L. Esposito, Masa Depan Islam : Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat, Mizan Pustaka, 2011
4.    Lopa Hussein & Adnan Khan, Does Islam Opress Women?, Khilafah.Com,  2009

TANTANGAN PEREMPUAN MUSLIM DI ASIA TENGGARA

TANTANGAN  PEREMPUAN MUSLIM DI ASIA TENGGARA
Oleh : Fika M. Komara


I.        GEOPOLITIK ASIA TENGGARA
Asia Tenggara merupakan bagian dari kawasan Timur Jauh atau yang sering disebut dengan Asia Pasifik. Dari tinjauan strategis, kawasan Timur Jauh dipandang penting bagi Amerika Serikat dan Rusia. Dari arah Samudera Pasifik, kawasan Timur Jauh menjadi vital karena berkaitan dengan batas-batas Amerika Serikat. Selain itu, di Samudera Pasifik terdapat dua kekuatan besar yang dapat menjadi bahaya terhadap Amerika Serikat. Dua kekuatan itu adalah Jepang dan Cina. Karena itu, Amerika Serikat sangat berambisi untuk mempunyai kekuatan di Timur Jauh dan tetap mempunyai kekuatan di sana. Bahkan sebelum dan sesudah serangan ke Pearl Halbour oleh Jepang, pada Perang Dunia II, Timur Jauh telah menjadi hegemoni Amerika Serikat dari segi strategis, karena kawasan ini tetap menjadi benteng-benteng laut dan udara bagi Amerika Serikat secara permanen siang dan malam. Filipina dapat dianggap sebagai basis Amerika Serikat sebelum Perang Dunia II sampai saat ini. Amerika Serikat sangat memperhatikan kawasan ini untuk menjaga dirinya sendiri. [1]
Posisinya yang strategis membuat kawasan Timur Jauh cukup lama menjadi daerah koloni bangsa-bangsa Eropa. Ini terjadi mulai abad pertengahan. Adanya kebutuhan untuk memdapatkan sumber daya telah memaksa bangsa-bangsa Eropa untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka sampai ke seluruh pelosok dunia. Mulai dari Portugis diikuti oleh Spanyol, Inggris dan Belanda datang ke Asia Pasifik dalam usahanya mendapatkan sumber daya, diawali dengan perdagangan dengan bangsa-bangsa di Asia Pasifik.
Namun memasuki abad ke-20 tepatnya menjelang Perang Dunia ke-2, ide kemerdekaan dari penjajahan menyebar ke seluruh dunia termasuk kawasan ini, dan semakin tersebar pasca Perang Dunia ke-2. Pemikiran ini pulalah yang kemudian berhasil membuat era kolonisasi bangsa-bangsa Eropa harus berakhir. Walhasil, ide kemerdekaan dari penjajahan (anti kolonialisme) sangat mendominasi bangsa-bangsa di kawasan Timur Jauh khususnya Asia Tenggara, dibandingkan dengan bangsa-bangsa di Timur Tengah. Hal ini dikarenakan pemikiran itu dicetuskan oleh kaum komunis sebagai satu bagian dari konfrontasi komunisme melawan kapitalisme. Pemikiran ini masuk dari Uni Soviet melalui Cina ke bangsa-bangsa Timur Jauh secara kuat, sehingga membangkitkan bangsa-bangsa ini.[2] Oleh karena itu maka tidak heran jika prinsip anti kolonialisme dan non-interferensi menjadi ciri kuat dalam pembentukan organisasi regional ASEAN yang terbentuk 1967. Organisasi ini sekarang terdiri dari 10 Negara di Asia Tenggara yaitu Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand, Brunei Darussalaam, Singapura, Kamboja, Myanmar, Vietnam, dan Laos serta Timor Leste (yang akan bergabung ASEAN dalam waktu dekat).
Meski begitu bukan berarti era imperialisme telah berakhir total di kawasan ini. Karena Amerika Serikat dan Inggris telah memahami dengan baik kenyataan bahwa pemikiran anti kolonial begitu dominan di kawasan Asia Tenggara. Maka, keduanya berusaha keras untuk tidak menampakkan pengaruhnya di kawasan ini dalam bentuk penjajahan gaya lama. Mereka menggunakan cara hubungan-hubungan ekonomi, politik, dan budaya serta kesepakatan-kesepakatan, yang secara lahiriah seakan-akan hanya hubungan-hubungan internasional, bukan dikte-dikte imperialistik. [3]
 Gambar 1. Asia Tenggara

Bagi Amerika Serikat, Asia tenggara sangat signifikan peranannya dalam kepentingan ekonominya. Dengan populasi lebih dari 500 juta, pertumbuhan ekonomi yang cepat sebelum krisis 1997-1998, serta kekayaan SDA yang melimpah; Asia Tenggara sangat strategis menjadi pasar komoditas bagi produk industri Amerika Serikat juga lahan empuk eksploitasi Sumberdaya Alam. Dari perspektif militer, Asia Tenggara yang memiliki jalur laut strategis (sea lanes of communication) yang merupakan jalur persimpangan (crossroad) dunia; jalur laut ini sangat kritis bagi pergerakan Angkatan bersenjata Amerika Serikat dari Pasifik Barat ke Samudera Hindia dan Teluk Persia. [4]
Di sisi lain terjadi perkembangan Islam yang semakin pesat di kawasan ini, disebabkan 230 juta orang muslim berdomisili di kawasan Asia Tenggara. Indonesia dan Malaysia bisa menjadi kekuatan yang menentukan di kawasan Asia Pasifik yang tidak kalah dari kekuatan besar lainnya yang berpengaruh di kawasan ini. Itu dapat terwujud jika Indonesia dan Malaysia mengambil Islam sebagai ideologi dan sistem kehidupan. Demikian pula terdapat potensi yang menghubungkan Malaysia dan Indonesia dengan Dunia Islam lainnya karena adanya kemajuan ilmu dan teknologi di bidang komunikasi dan transportasi. Hal ini semakin membuat khawatir negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat sang adidaya.

II.        ISLAM DI ASIA TENGGARA : REKAYASA IDENTITAS
Keseriusan Barat dalam merekayasa identitas Islam di Asia Tenggara sangatlah terlihat, bukti kekhawatiran mereka yang demikian besar terhadap perkembangan Islam. Berpangkal dari dokumen RAND Corporation yang berjudul Building Moderate Muslim Network (2007) yang merupakan penelitian tentang bagaimana menciptakan "Jaringan Muslim Moderat" di berbagai belahan dunia; dengan tujuan meredam, meminimalisir, bahkan menghapuskan sama sekali kelompok-kelompok yang mereka cap sebagai "ekstremis/ radikal Islam" dan menjadi ancaman bagi hegemoni Amerika Serikat. Dimana karakter Islam moderat menurut RAND adalah Muslim yang mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM (termasuk kesetaraan jender dan kebebasan beragama), menghormati sumber hukum yang non sektarian, dan menentang terorisme. [5]
Khusus Asia Tenggara mereka bahas tersendiri pada bab ke-7, disitu dipetakan siapa saja yang menjadi komponen kunci dalam membangun jaringan Islam moderat di kawasan ini, yaitu : (1) institusi pendidikan yang moderat baik itu pesantren maupun universitas Islam, (2) media, (3) institusi demokrasi seperti Lakpesdam NU, (4) bangunan jaringan regional yang melink-kan antara jaringan nasional dengan jaringan kawasan seperti International Center for Islam and Pluralism (ICIP). Selain itu pada ranah sosial, prioritas yang akan dirangkul oleh AS untuk membangun saluran propaganda hegemonis mereka dan memerangi ekstremisme Islam adalah: Pertama, intelektual atau akademisi yang sekular dan liberal. Kedua, cendekiawan muda religius yang moderat. Ketiga, komunitas aktivis (sekular). Keempat, kelompok perempuan yang aktif dalam propaganda kesetaraan gender. Kelima, jurnalis dan penulis moderat. [6]
Terlebih Asia Tenggara adalah sebuah kawasan yang disebut-sebut sebagai a global epicenter of cultural diversity, yaitu kawasan dengan tingkat heterogenitas budaya yang sangat tinggi. Kondisi ini menyebabkan Asia Tenggara potensial terhadap masalah kerawanan identitas. Dengan kata lain, Barat bisa lebih mudah dalam melakukan pembentukan identitas terhadap Muslim di Asia Tenggara.
 Gambar 2. Busur panjang sebaran Muslim di Asia Tenggara

Asia Tenggara merupakan persimpangan geografi Asia dimana Sinic, Hindu, Islam dan Budaya Barat telah bertemu dan berinteraksi selama sekitar 100 tahun. Di kawasan ini, terdapat 1413 bahasa (37% dari total bahasa yang ada di dunia), dan juga dapat ditemukan hampir seluruh agama yang ada di dunia (Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konfusian, dan berbagai aliran kepercayaan lainnya). Jika batas negara bangsa digantikan dengan batasan ethno-religious, maka akan terbentuk sebuah busur panjang homogen yang menandakan identitas Muslim, terbentang dari Thailand Selatan, melalui semenanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, area pantai Kalimantan, sampai kepulauan Sulu dan sebagian Mindanao pada Philipina Selatan.
Saat ini, ada sekitar 230 juta Muslim di Asia Tenggara atau sekitar 42 persen dari jumlah populasi penduduk Asia Tenggara. Jumlahnya sekitar 25 persen dari total penduduk Muslim dunia yang berjumlah 1,6 miliar jiwa. Dalam buku A Muslim Archipelago: Islam and Politics in Southeast Asia, peta kekuatan Islam Politik di Asia Tenggara dipetakan berada pada 4 (empat) negara, yaitu : Indonesia (yang terbesar), Malaysia, Philipina dan Thailand.
Indonesia merupakan negara terbesar di dunia dalam hal populasi Muslim, meskipun sekitar 12 persen dari penduduknya adalah non-Muslim. Malaysia, meskipun tingkat kepadatan populasinya jauh lebih rendah dari Indonesia, secara politis didominasi oleh penduduk Muslim Melayu, dan faktanya Muslim Melayu adalah etnis mayoritas di negara ini. Di Thailand dan Philipina, populasi Muslim adalah minoritas yaitu hanya sekitar empat sampai lima persen, namun demikian, Muslim tetap terhitung sebagai minoritas yang besar, karena populasinya terkonsentrasi signifikan secara politis.
Islam masuk ke Asia Tenggara sejak abad ke-7 M yang disebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang yang mendakwahkan Islam, tentu tanpa menafikan adanya visi politik terorganisir dari Daulah Islam yang saat itu berada di Timur Tengah. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di belahan dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklukan (futuhat(. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Nilai-nilai keterbukaan (inklusivitas), tanpa kekerasan, plural, dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Asia Tenggara inilah yang kemudian dikedepankan untuk mengkonstruksi identitas Islam di Asia Tenggara. Nilai-nilai ini sering disebut sebagai ASEAN Way atau ASEAN Values dan sering dianggap sebagai identitas penting negara-negara ASEAN.
Di Indonesia dan Malaysia pembiasan identitas terus terjadi karena dibangunnya kehidupan pluralisme di tengah-tengah Umat Islam, bahkan sebagian pihak mengklaim bahwa Malaysia dan Indonesia adalah model sukses dalam demokrasi dan pembangunan ekonomi, dan merupakan model yang layak untuk ditawarkan pada dunia Arab yang saat ini sedang menjalani 'Musim Semi Arab'. Thailand dan Philipina beda lagi, kedua negara itu menghadapi gerakan gerilyawan etno-religius yang didefinisikan oleh pihak tertentu sebagai gerakan berideologi Islam namun dari perspektif etnis yakni ideologi Islam yang meletakkan penekanan pada kekerabatan, bahasa dan budaya yang lagi-lagi merupakan pembiasan identitas.
            Sementara itu, Indonesia sebagai negara terbesar (dari sisi luas wilayah dan jumlah penduduknya) dipandang paling memiliki identitas yang kuat dan representatif untuk memimpin ketahanan regional di Asia Tenggara. Indonesia yang berpenduduk keempat terbesar di dunia memiliki posisi strategis di kawasan Asia secara umum dan dunia pada umumnya. Pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana Indonesia sebagai negeri muslim terbesar berhadapan dengan isu-isu demokrasi dan keragaman politik dan agama? Eksperimen demokrasi yang gagal di Indonesia akan semakin menguatkan klaim bahwa demokrasi tidak akan pernah kompatibel dengan kultur politik di negeri-negeri muslim.

III.        KAMUFLASE  IDENTITAS PEREMPUAN ASIA TENGGARA
Dalam dokumen RAND Building Moderate Muslim Network juga disebutkan bahwa isu kesetaraan gender adalah salah satu medan pertempuran utama dalam perang pemikiran melawan Islam, promosi kesetaraan gender adalah komponen penting dari setiap proyek untuk memberdayakan muslim moderat. Bahkan Chris A.Wade mengatakan bahwa perempuan dan kelompok perempuan adalah sekutu kuat dalam mengurangi pengaruh sebaran Islam Ideologis.[7] Karena itu dengan dipetakannya kelompok aktivis perempuan feminis sebagai elemen penting yang harus dirangkul Amerika Serikat dalam rangka membangun jaringan Islam Moderat; maka ini berarti menyangkut persoalan identitas perempuan Asia Tenggara, dengan kata lain merupakan serangan pemikiran bagi perempuan Muslim.
Adalah Kaukus Perempuan Asia Tenggara ASEAN [The Southeast Asia Women’s Caucus on ASEAN] yang bercita-cita membentuk identitas perempuan Asia Tenggara dengan nilai-nilai ASEAN. Dengan slogan A New ASEAN is on Her Way  mereka berupaya merepresentasikan perempuan di Asia Tenggara yang plural, inklusif dan memiliki keberagaman tinggi. Organisasi yang terbentuk sejak 2008 ini terdiri dari 55 organisasi hak asasi perempuan dari 10 (sepuluh) negara anggota ASEAN serta Timor Leste. Kaukus ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ASEAN. Terdapat 5 (lima) isu besar yang menjadi prioritas Kaukus Perempuan Asia Tenggara ASEAN, berangkat dari konteks persoalan perempuan di kawasan ini, yakni : (1) Migrasi, (2) Kekerasan terhadap Perempuan (Violence Against Women), (3) Hak-hak Ekonomi Perempuan, (4) Partisipasi Politik, dan (5) Diskriminasi dalam Hukum, Kebijakan dan Implementasinya
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Kaukus Perempuan Asia Tenggara ASEAN ini bukanlah hal yang baru, apa yang menjadi cita-citanya selaras dengan apa yang telah dirumuskan dalam Convention on the Elimination of Discrimination Against Women (CEDAW) -yang sering dianggap Bill of Rights-nya segala permufakatan internasional ide-ide gender. Hanya saja Kaukus Perempuan Asia Tenggara ASEAN mencoba mengdaptasikannya dengan nilai-nilai masyarakat  di Asia Tenggara.
CEDAW sendiri memiliki program yang disebut CEDAW SEAP atau CEDAW South East Asia Programmes, yang telah bekerja sejak tahun 2004 untuk memfasilitasi implementasi CEDAW yang lebih baik dalam memajukan hak-hak perempuan di Asia Tenggara. Program ini menitikberatkan pekerjaannya di tujuh negara - Kamboja, Indonesia, Laos, Filipina, Thailand, Vietnam dan Timor-Leste - dan telah berusaha untuk memainkan peran sebagai katalisator dalam mendorong tindakan yang lebih efektif di sekitar tujuan CEDAW.
Demikianlah gambaran upaya mereka untuk membentuk identitas perempuan Asia Tenggara yang massif dilakukan oleh The Southeast Asia Women’s Caucus on ASEAN maupun oleh CEDAW SEAP. Upaya serangan pemikiran ini merupakan kombinasi dari ide-ide tentang gender dan nilai pluralisme dari Asia Tenggara yang mereka ramu untuk mempengaruhi dan merusak identitas perempuan Asia Tenggara terutama perempuan Muslimnya.

IV.        PETA PERSOALAN MUSLIMAH ASIA TENGGARA
Berdasarkan data statistik populasi yang dikeluarkan PBB Desember 2011 dan laporan Mapping The Global Muslim Population 2009 dari PEW Research Centre, maka perkiraan jumlah perempuan Muslim di Asia Tenggara, sebagai berikut [8] :
Negara Asia Tenggara
Prosentasi Muslim di Negara
(%)
Total Populasi Muslim
(juta jiwa)
Rasio Perempuan Per Laki-Laki (%)
Total Perempuan Muslim
(juta jiwa)
Indonesia
88,1
204,8
50,5
103,424
Malaysia
61,4
17,14
48,5
8,3129
Philipina
5,1
4,74
49,5
2,3463
Thailand
5,8
3,95
52
2,054
Brunei Darussalaam
51,9
0,21
49
0,1029
Singapura
14,9
0,72
49
0,3528
Kamboja
1,6
0,24
52
0,1248
Myanmar
3,6
1,9
51,5
0,9785
Vietnam
0,2
0,16
51
0,0816
Laos
0,1
0,001
50
0,0005
Total

233,861

117,6962
          Jumlah Muslimah di Asia Tenggara mencapai 117,7 juta jiwa, dimana sumbangan terbesar tentu berasal dari Indonesia sebanyak 103.424.000 jiwa, lalu berikutnya dari Malaysia, Philipina dan Thailand. Keempat negara ini total menyumbang 116.137.200 jiwa atau 98,7% dari total populasi Muslimah di Asia Tenggara. Jumlah yang fantastis ini sekaligus mengindikasikan bahwa populasi Muslimah terbesar dunia ada di kawasan Asia Tenggara, lebih spesifik lagi adalah di Indonesia.
Meski besar secara kuantitatif, sejauh ini belum ditemukan secara kualitatif pergerakan perempuan Islam yang bergerak lintas negara di Asia Tenggara, kecuali LSM atau NGO sekuler yang justru sering menyudutkan Islam. Pergerakan perempuan Islam baru didapati dalam sekup nasional saja, seperti Sister in Islam (Malaysia), Aisyiyah (Indonesia), dan sebagainya; itupun tidak mengusung Islam sepenuhnya dan belum mampu menjawab persoalan perempuan di wilayahnya.
Besarnya jumlah populasi perempuan Muslim di Asia Tenggara, menuntut kejelian kita dalam memetakan motif dan strategi barat yang membidik populasi perempuan Muslim di kawasan ini. Berikut dipetakan dalam dua klasifikasi besar yaitu masalah utama dan masalah cabang :
1.          MASALAH UTAMA
a.    Serangan Pemikiran (Ideologis(
Seperti yang diyakini oleh RAND bahwa ide kesetaraan gender adalah salah satu senjata utama dalam perang pemikiran melawan Islam, maka persoalan mendasar yang dihadapi oleh perempuan muslim Asia Tenggara adalah ide kebebasan (liberalisme) dan feminisme. Ditambah lingkungan Asia Tenggara yang dikenal moderat dan plural karena nilai-nilai ASEAN-nya akan semakin menggiring perempuan-perempuan muslimnya menjadi sekuler dan pluralis, meninggalkan agamanya.
Menurut John L. Esposito, perempuan berada di pusat perang budaya di banyak negara muslim saat ini. Mereka dipandang sebagai “pengemban budaya”, “pengelola tradisi dan nilai-nilai keluarga”, “benteng terakhir” melawan penetrasi dan dominasi budaya Barat. Mengenakan jilbab bukan hanya menjadi lambang kesopanan, melainkan lambang pertahanan Islam. Perempuan Muslim dianggap memegang peranan penting dalam mempertahankan keluarga dan sekaligus identitas Islami masyarakat Muslim. [9] Oleh karena itu jika pemikiran perempuan Muslim dinodai maka sama saja dengan  menodai entitas masyarakat Muslim secara luas.
Kombinasi ide gender dan pluralisme yang dipropagandakan oleh The Southeast Asia Women’s Caucus on ASEAN maupun oleh CEDAW SEAP merupakan racun pemikiran yang berbahaya karena nilai-nilainya sangat bertentangan dengan Aqidah serta prinsip dasar Islam. Di dalam ide gender terkandung paham kebebasan yang justru akan menjerumuskan perempuan pada jurang kenistaan, sementara ide pluralisme akan membuat kebenaran menjadi nisbi. Perpaduan kedua ide ini tentu lebih berbahaya.

  1. b.   Belenggu Politik – Ekonomi
Penerapan sistem ekonomi dan sistem politik Sekuler-Kapitalistik sejatinya adalah sumber dari kesengsaraan perempuan dunia, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Ditambah negara-negara Asia Tenggara pada umumnya  masih tergolong negara berkembang dengan jumlah populasi besar yang diliputi oleh kemiskinan.
Seperti yang sudah digambarkan di awal tulisan bahwa Amerika Serikat tetap berupaya menghegemoni Asia Tenggara dengan penjajahan gaya baru melalui banyak program politik dan ekonomi. Dari sisi politik, gelombang demokratisasi dengan program good governance –nya ternyata tidak mampu membuat sistem politik negara-negara ASEAN mampu menjamin hak-hak politik, keamanan dan perlindungan bagi perempuan terwujud. Suara perempuan hanya dibeli untuk kepentingan pragmatisme politik praktis saat Pemilu di sisi lain kriminalitas dan eksploitasi perempuan terus dibiarkan.
Dari sisi ekonomi pembentukan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN –yang banyak dimotori oleh AS- alih-alih mensejahterakan justru malah semakin mengeksploitasi tenaga perempuan sebagai buruh murah. Kebijakan itu antara lain seperti Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT), Singapura-Johor-Riau (Sijori atau IMS-GT) dan Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philipina (BIMP-EAGA), sampai pada akhirnya melahirkan Master Plan ASEAN Connectivity yang justru melayani kepentingan perdagangan bebas 2015 di ASEAN.
Di sisi lain keterbatasan kemampuan negara dalam menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya di dalam negeri juga menyebabkan angka migrasi buruh perempuan Asia Tenggara menjadi sangat tinggi. Karena itulah di Indonesia dan Philipina khususnya, kaum perempuan banyak dipekerjakan sebagai buruh migran ke luar negaranya, yang dikenal dengan sebutan TKW di Indonesia. 
Sejumlah faktor menjelaskan mengapa terjadi pertumbuhan eksponensial dalam migrasi tenaga kerja perempuan di Asia Tenggara:
  • Minimnya kendala budaya pada kultur Asia Tenggara terhadap mobilitas perempuan ke ruang publik;
  • Perempuan migran Asia Tenggara biasanya berasal dari negara dengan tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan yang relatif tinggi. Kesulitan hidup dan kemiskinan, terutama di daerah pedesaan, menyebabkan para wanita memilih untuk menjadi buruh migran sebagai sarana untuk bertahan hidup,
  • Pertumbuhan sektor jasa dan industri pariwisata telah menciptakan pilihan bagi wanita selain pekerjaan di sektor industri,
  • Jaringan sosial yang telah memberi dukungan yang besar dan makin mengintensifkan tenaga kerja wanita untuk bermigrasi.
Meskipun bukan hal baru bagi Asia Tenggara, migrasi tenaga kerja wanita tidaklah sepi dari masalah. Kekerasan dan kejahatan pada buruh migran perempuan akhirnya menjadi hal yang biasa.

2.          MASALAH CABANG
a.    Runtuhnya Tatanan Sosial
Perpindahan dari desa ke kota, dari daerah satu ke daerah lainnya, juga perpindahan melintasi perbatasan nasional suatu negara dalam konteks tumbuhnya “global cities” atau daerah urban global, ataupun wilayah penyangga perkotaan untuk mendukung pesatnya perindustrian.
Semua fenomena migrasi sosial ini tentu menimbulkan dampak yang signifikan, utamanya pada tatanan sosial yaitu terhadap struktur keluarga muslim di Asia Tenggara. Nilai – nilai hidup berkeluarga sesuai tuntunan Islam telah semakin memudar, sehingga muncullah bentuk-bentuk keluarga yang tidak lagi berada pada koridor Islam, semacam :
·         Bentuk keluarga urban dimana suami istri bekerja, sementara pengasuhan anak diserahkan pada pembantu,
·         Bentuk keluarga migran yang anggota keluarganya hidup jauh terpisah,
·         Bentuk keluarga sambung (patchwork family), karena pernikahan baru, setelah sebelumnya terjadi perceraian, dan
·         Bentuk keluarga single parent akibat hubungan tanpa pernikahan, dan sebagainya
Semua itu merupakan dampak dari migrasi sosial akibat tuntutan sosial ekonomi yang tidak bisa dihindari. Akibat yang paling menakutkan adalah rusaknya generasi, karena perhatian kaum ibu terforsir pada pekerjaan yang seringkali menuntutnya terpisah jauh dari anak-anaknya.

b.   Serangan Budaya
Jika di negeri Barat, tantangan besarnya adalah pelarangan busana Muslimah yang identik dengan identitas Islam. Maka di Indonesia justru adalah bergesernya nilai busana Muslimah dari sebuah kewajiban yang melekat pada identitas Muslim, menjadi hanya sekedar trend/ gaya hidup yang bisa berdampingan dengan budaya kebebasan.
Sebenarnya bukan tanpa alasan jika Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) bersama pemerintah dan para pelaku industri mode menargetkan Indonesia sebagai kiblat mode muslim dunia pada 2020. Sebab saat ini Indonesia tercatat memiliki tingkat ekspor busana muslim yang besar ke negara-negara muslim seperti Malaysia, Turki, Brunei Darussalam, Uni Emirat Arab, dan negara-negara lainnya di Timur Tengah (okezone.com, 10/10/2011).
Industri busana muslim di Indonesia seolah sengaja terus didorong untuk menarik perhatian dunia, dimana rancangan busananya dibuat jauh dari kesan kaku yang menggabungkan implementasi tren fashion terkini dan unsur budaya lokal. Walhasil, dorongan mengenakan busana muslimah bukan lagi dorongan Taqwa, melainkan lebih kepada seni dan tren masa kini yang mendukung gaya hidup permisif dan pluralis.
Imbas serangan budaya pada bidang kesehatan juga tidak kalah mengerikan. Terbukti di penghujung tahun 2011 kemarin, Indonesia mencatatkan diri sebagai negara dengan penularan HIV tercepat di Asia Tenggara. Ketua BKKBN Sugiri Syarief mengungkapkan ada 26.400 jiwa pengidap AIDS dan 66.600 jiwa positif terinfeksi HIV. Yang mencemaskan, 70 % penderita HIV/AIDS adalah kategori usia produktif (20 – 39 tahun). Penularan penderita HIV/AIDS pada kalangan ibu rumah tangga di DKI Jakarta dan Jawa Barat pun meningkat tinggi. Reportasi harian Kompas mengungkapkan bahwa penyebab penyebaran tertinggi adalah dari seks bebas (76.3%). Kebebasan seksual adalah buah pemikiran liberal yang mendewakan HAM, dan ini adalah bentuk nyata dari serangan budaya kepada umat Islam di Asia Tenggara.


[1] Konsepsi Politik Hizbut Tahrir, Edisi Mu’tamadah, 2009, hal. 157
[2] Idem, hal. 163
[3] Idem, hal. 164
[4] Laporan RAND, Indonesia's Transformation and the Stability of Southeast Asia, 2007
[5] Laporan RAND, Building Moderate Muslim Network, 2007
[6] Idem, Bab VII
[7] Chris A.Wade, Muslim Women And Women’s Organizations: Allies In The War Of Ideas (2007)
[8] Data diolah dari UN Gender Info 2010 http://www.devinfo.info/genderinfo/ dan laporan Mapping The Global Muslim Population 2009 dari PEW Research Centre
[9] John L. Esposito, Masa Depan Islam : Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat, Mizan Pustaka, 2011