Di abad ke-10 M, Abu Zayd Al-Balkhi dari Balkh mendirikan sekolah di
kota Baghdad yang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.
ILMU geografi di dunia Islam mulai berkembang pada masa era kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid mendorong para sarjana Muslim menerjemahkan naskah-naskah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab.
Diantara buku yang diterjemahkan adalah Alemagest dan Geographia. Kedua
buku ini membahas tentang ilmu geografi. Dari sinilah kemudian banyak
pelajar yang mempelajari ilmu tersebut sehingga dalam waktu yang tidak
lama lahir para pakar geografi.
Ketertarikan kaum Muslimin terhadap geografi diawali dengan
kegandrungannya kepada astronomi. Dari ilmu inilah kemudian membawa
mereka menggeluti ilmu bumi. Peta yang dibuat bangsa Yunani dan Romawi
menarik minat pelajar Muslim untuk mempelajarinya.
Bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama dikenal secara aktif
menjelajahi geografi. Beberapa tokoh Yunani yang berjasa mengeksplorasi
geografi sebagai ilmu dan filosofi antara lain; Thales dari Miletus,
Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus, Aristotle, Dicaearchus dari
Messana, Strabo, dan Ptolemy. Sedang bangsa Romawi turut memberi
sumbangan pada pemetaan setelah mereka banyak menjelajahi negeri dan
menambahkan teknik baru. Salah satu tekniknya adalah periplus, deskripsi
pada pelabuhan, dan daratan sepanjang garis pantai yang bisa dilihat
pelaut di lepas pantai.
Namun para sarjana Muslim tidak hanya menerjemahkan dan mempelajari
karya-karya Yunani tetapi juga mengkombinasikannya dengan pengetahuan
yang telah berkembang di pusat kebudayaan di Mesir, India, dan Persia.
Inilah yang membuat ilmu geografi di tangan kaum Muslimin maju pesat.
Demikian pula ilmu-ilmu yang berhubungan dengan geografi seperti
perpetaan dan kosmografi mengalami kemajuan yang besar. Dari sinilah
kemudian muncul istilah mil untuk mengukur jarak. Sedangkan orang Yunani
menggunakan istilah stadion.
Dalam hal ini seorang sarjana Barat seperti Gustave Le Bon dalam bukunya Arabs Civilization
hal 468 mengatakan bahwa meski geografi sebagai ilmu pengetahuan
dimulai sebelum Islam, namun kontribusi umat Islam sangatlah besar.
“Meski kaum Muslimin belajar geografi kepada ilmuwan Yunani seperti
Ptolemy, namun ilmu mereka melampaui guru mereka,” jelas Gustave.
Sederet geografer Muslim telah banyak memberi kontribusi bagi
pengembangan ilmu bumi. Al-Kindi diakui begitu berjasa sebagai geografer
pertama yang memperkenalkan percobaan ke dalam ilmu bumi. Sedangkan,
Al-Biruni didapuk sebagai ‘bapak geodesi’ yang banyak memberi kontribusi
terhadap geografi dan juga geologi.
John J O’Connor dan Edmund F Robertson menuliskan pengakuannya
terhadap kontribusi Al-Biruni dalam MacTutor History of Mathematics.
Menurut mereka, ‘’Al-Biruni telah menyumbangkan kontribusi penting bagi
pengembangan geografi dan geodesi. Dialah yang memperkenalkan teknik
pengukuran bumi dan jaraknya dengan menggunakan triangulation.’’
Al-Biruni-lah yang menemukan radius bumi mencapai 6.339,6 km. Hingga
abad ke-16 M, Barat belum mampu mengukur radius bumi seperti yang
dilakukan Al-Biruni.Bapak sejarah sains, George Sarton, juga mengakui
kontribusi sarjana Muslim dalam pengembangan geografi dan geologi.
‘’Kita menemukan dalam tulisannya metedo penelitian kimia, sebuah teori tentang pembentukan besi.’’
Salah satu kekhasan yang dikembangkan geografer Muslim adalah
munculnya bio-geografi. Hal itu didorong oleh banyaknya orang Arab di
era kekhalifahan yang tertarik untuk mendistribusi dan mengklasifikasi
tanaman, binatang, dan evolusi kehidupan. Para sarjana Muslim mencoba
menganalisis beragam jenis tanaman.
Dukungan Penguasa
Geliat mempelajari ilmu geografi semakin besar ketika Khalifah
Al-Mam’un, penerus Harul Al-Rasyid memerintahkan para geografer Muslim
untuk mengukur kembali jarak bumi. Untuk mendukung proyek tersebut,
Al-Ma’mun juga membiayai semua perjalanan yang dilakukan dalam
menjelajahi dunia.
Tentu saja dukungan ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para
sarjana islam. Apalagi mereka melakukan ekespedisi juga dalam rangka
menyebarkan dakwah Islam. Tak pelak umat Islam pun mulai mengarungi lautan dan menjelajah
daratan untuk menyebarkan agama Allah Subhanahu Wata’ala. Seiring
meluasnya ekspansi dan ekspedisi rute-rute perjalanan melalui darat dan
laut pun mulai bertambah. Tak heran, jika sejak abad ke-8 M, kawasan
Mediterania telah menjadi jalur utama umat Islam.
Atas upaya dan kerja keras para geografer Muslim, akhirnya apa yang
diharapkan Al-Ma’mun bisa terwujud. Para sarjana Muslim mampu menghitung
volume dan keliling bumi. Berbekal keberhasilan itu, Khalifah Al-Ma’mun
memerintahkan untuk menciptakan peta bumi yang besar. Adalah Musa
Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya mampu membuat peta globe
pertama pada tahun 830 M.
Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi yang berjudul Surah
Al- Ard (Morfologi Bumi) sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab
itu menjadi landasan ilmiah bagi geografi Muslim tradisional.
Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk ‘Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni’. Sejak saat itu, geografi pun berkembang pesat. Sejumlah geografer Muslim berhasil melakukan terobosan dan penemuan penting.
Di awal abad ke-10 M, secara khusus, Abu Zayd Al-Balkhi yang berasal
dari Balkh mendirikan sekolah di kota Baghdadyang secara khusus mengkaji
dan membuat peta bumi. Di abad ke-11 M, seorang geografer termasyhur dari Spanyol, Abu Ubaid
Al- Bakri berhasil menulis kitab di bidang geografi, yakni Mu’jam Al-Ista’jam (EksiklopediGeografi) dan Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan). Buku pertama berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab. Sedangkan yang kedua berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman dahulu.
Pada abad ke-12, geografer Muslim, Al-Idrisi berhasil membuat peta
dunia. Al-Idrisi yang lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol itu juga
menulis kitab geografi berjudul Kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat
Orang yang Rindu MenembusCakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh
sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.
Seabad kemudian, dua geografer Muslim yakni, Qutubuddin Asy-Syirazi
(1236 M -1311 M) dan Yaqut Ar-Rumi (1179 M -1229 M) berhasil melakukan
terobosan baru. Qutubuddin mampu membuat peta Laut Putih/Laut Tengah
yang dihadiahkan kepada Raja Persia. Sedangkan, Yaqut berhasil menulis enam jilid ensiklopedi bertajuk Mu’jam Al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).
Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta di abad ke-14 M memberi
sumbangan dalam menemukan rute perjalanan baru. Hampir selama 30 tahun,
Ibnu Battuta menjelajahi daratan dan mengarungi lautan untuk berkeliling
dunia. Penjelajah Muslim lainnya yang mampu mengubah rute perjalanan
laut adalah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok. Dia melakukan ekspedisi
sebanyak tujuh kali mulai daritahun 1405 hingga 1433 M.Dengan menguasai
geografi, di era keemasan umat Islam mampu menggenggam dunia.
Tak pelak, Islam banyak memberi kontribusi bagi pengembangan
geografi. Sumbangan dunia Islam meliputi pengetahuan klimatologi
(termasuk angin munson), morfologi, proses geologi, sistem mata
pencaharian, organisasi kemasyarakatann, mobilitas penduduk, serta
koreksi akan kesalahan yang tertulis pada buku yang ditulis ptolomeus.
Karya-karya sarjana Muslim seperti Al-Biruni, Ibnu Sina, Ai
Istakhiri, Al Idrisi, Ibn Khaldun dan Ibn Batuta telah menjadi dasar
pemicu kembalinya perkembangan ilmu pengetahuan. Bukan hanya geografi
namun juga dalam berbagai ilmu lain. Karena demikian besar jasanya dalam
geografi dan Kartografi, Al-Idrisi diangkat diangkat sebagai penasihat
dan pengajar di istana raja Sicilia, Roger II (1154), dan akhir-akhir
ini namanya (Idrisi) diabadikan untuk nama perangkat lunak yang
dikembangkan Universitas Clark di Worcester (Amerika Serikat) untuk alat
bantu analsisis geografi, citra digital, kartografi, dan sistem
informasi geografis.*
Sumber : Hidayatullah
http://www.hidayatullah.com/spesial/ragam/read/2014/12/29/35914/sumbangan-islam-pada-ilmu-geografi.html#.VKsmesmrE1R
Menjelajahi penjuru ruang spasial demi visi peradaban yang lebih baik untuk kaum Muslimah
Pages
Visi Geospasial
Rasulullah Saw bersabda : “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya, dan aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepadaku”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Tuesday, January 6, 2015
Tuesday, November 25, 2014
Wajah sebenarnya "Investasi Asing"
Ketika saya kritisi soal investasi asing, kemudian ada yg bilang dengan
jumawa katanya saya sok keminter, karena investasi asing itu adalah cara
cepat membangun Indonesia dng cara tidak berhutang, saya gatal pengin
menjawab di tulisan ini. Minimal agar tidak semua orang terbodohi dengan
teori tersebut.
Menurut saya apa yg dikatakan mengundang investor asing untuk mengganti utang luar negeri itu hanya TEORI . Mungin di negara lain bisa kejadian tapi di Indonesia tidak terbukti.
Soal investasi asing atau PMA, cobalah cek ke BKPM , di bidang apa mereka paliang banyak masuk ?
No 1. Pasti yang mengeruk sumber daya alam (SDA), mulai dari tambang, kebun, perikanan, dll , pokoknya yg bersifat mengambil sumber daya alam kita.
No 2. Di bidang jasa -jasa. Jasa Keuangan (perbankan, asuransi, sekuritas dll), dan jasa lainnya, termasuk biro iklan , bahkan jasa konsultan politik. Ini juga bersifat mengeruk uang rakyat Indonesia.
No.3 . Industri . Di bidang industri jangan dikira kita dijadikan basis industri mereka, kita hanya dijadikan "tukang jahit" saja , brand tetap mereka yg pegang dan tdk ada alih teknologi. Mereka membuat pabrik di Indonesia karena raw material yang murah dan juga ongkos buruh yang murah.
Nah, pertanyaan saya dengan orang yg mengatakan bahwa mengundang investor bisa membangun Indonesia tanpa berhutang, dari tiga bidang itu mana yg bisa membangun Indonesia ?
Untuk yg no. 1 (Yg basisnya eksplorasi SDA) . Mereka (PMA) yg mengeruk sumber daya alam kita mau di bidang apapun hampir tidak ada yg membuat pabrik turunan baik di sektor antara atau hilir di Indonesia. Mereka hanya mengeruk bahan mentah (hulu) kemudian langsung di ekpor , dan duit hasil ekspor ditaruh di bank mereka di luar negeri .
Lalu apa yang Indonesia dapat? Hanya pajak dan sedikit tenaga kerja terserap. Bahkan untuk tenaga kerja di tingkat eksekutif mereka masih menggunakan tenaga asing, termasuk dari Philiphina yg kwalitasnya tdk lebih bagus dari eksekutif Indonesia.
Sedangkan dari pendapatan pajak pemerintah pun masih bisa GIGIT JARI. Coba saja googling berapa perusahaan asing yg nunggak pajak alias ngemplang pajak dengan berbagai alasan????
Kemudian untuk no.2 , di bidang jasa-jasa . Nah ini lebih gila lagi, mereka itu hanya bawa badan, dan mengeruk duitnya orang Indonesia . Lagi-lagi kalau sudah terkumpul ya dibawa ke luar negeri. Coba cek bank-bank asing , baik yg berbendera asing atau yg berbendera nasional tapi sahamnya sudah pindah ke asing, apakah mereka memberikan kredit ke perusahaan nasional ? Hampir tidak ada! Mereka lebih banyak memberikan kredit pada perusahaan asing yg investasi di Indonesia.
Jadi mohon jangan pada mimpi kalau judulnya investor asing itu mau investasi di Indonesia terus bawa duit dari luar negeri masuk ke Indonesia. Mereka masuk itu hanya bawa barang modal (sudah berupa barang) produksi negara mereka, dan uangnya ya dari bank asing yg operasional di Indonesia , jadi meski judulnya PMA, aslinya yg untuk membangun proyek mereka itu ya sebagian duitnya orang Indonesia. Ingat ya yg mereka bawa masuk itu hanya barang modal!
Kemudian yg no .3. Di bidang industri juga sami mawon. Mereka itu hanya menjadikan kita tukang jahit , karena secara keseluruhan ongkos produksi mereka lebih murah. Apakah mereka menjadikan kita basis Industri? Tidak. Kita hanya disuruh bikin barang bodongan tanpa merek, karena merek mereka yg kasih nanti setelah di bawa ke negara mereka. Dan ketika harga mereka menjadi melambung ya bukan kita yg menikmati value penjualan yg melambung tadi, tapi perusahaan dan negara asal mereka, karena mereka akan ekspor ke negara -negara lain dari negara mereka! Bahkan rakyat Indonesia yg pengin pakai barang berkwalitas buatan Indonesia harus membeli dng harga lima kali lipat, karena mereka me-reekspor produk buatan Indonesia dari negara mereka.
Di bidang infrstruktur PMA mau masuk????? Kalau ada coba deh tunjukin dimana ?? PMA idak akan mau masuk di investasi yg balik modalnya lama, dan revenue-nya kecil . Tapi kalau jadi Sub kon-nya mereka pasti berebut. Misalnya membangun pelabuhan atau jalan , duitnya dari APBN, tapi sub konraktor atau yang bangun konstruksi asing semua, karena mereka tau lebih enak jadi sub kontraktor-nya karena gak ada resiko bisnis, dan tidak harus bawa modal, malah dapat bayaran besar dari duit Indonesia.
Jadi jujur saya gak percaya-percaya amat , ngundang investor itu bisa membangun Indonesia ? bahwa sedikit menambah pajak kita mungkin iya, tapi mudharatnya lebih banyak , karena aslinya kekayaan kita justru banyak keluar. Ini bukan saya saja yg ngomong, Ketua KPK Abraham Samad, juga pernah ngomong soal potensi hilangnya investasi yg berbasis dari sumber daya alam kita , dan nilainya mencapai ribuan triliun setiap tahun.
Jadi kalau dapatnya kecil , kemudian hilangnya lebih banyak , apakah betul mengundang investor asing bisa MEMBANGUN INDONESIA ?
Akan lebih bijak kalau kita semua jujur pada hati masing-masing untuk melihat kenyataan, bukan teori. PMA ini dibuka sejak Indonesia Merdeka , Indonesia tambah hebat atau tambah terpuruk?
Kemudian sejak jaman reformasi itu kan banyak investasi yg tadinya masuk dalam list negative investasi, kemudian di obral habis alias dibuka selebar-lebaranya, artinya yg tadinya tidak boleh dimasuki asing menjadi boleh. Pertanyaannya lagi sejak jaman Soeharto lengser hingga sekarang pembangunan Indonesia menjadi maju ? Kalau ada mohon ditunjukkan, siapa tau sy kelewat gak lihat kemajuannya!
Sebagai rakyat saya tidak anti PMA, tapi coba deh ditata, jangan seperti sekarang kita hanya memberi karpet merah utk para penguras sumber daya alam kita, sementara rakyat pada jejeritan hidupnya makin susah!
Sebelum obral PMA, coba disurvei mana PMA yg memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya untk negara dan rakyat? Dan kontrak-kontrak karya yg sudah habis dan sekarang rakyat dan bangsa Indonesia mampu menjalankan sendiri , lebih baik dijalankan BUMN kita, sehingga akan menambah pemasukkan negara, yg ujungnya diharapkan bisa untuk rakyat banyak. Jangan sampai lobi asing untuk sekelompok manusia "dewa" membuat semua dibuat alasan sehingga asing tetap bercokol.
Misalnya alasannya, kita belum mampu, tidak punya uangnya. Saya kasih contoh blok Mahakam misalnya, Pertamina secara finansial mampu membiayai, kemudian secara teknologi dan SDM, ternyata 95 persen yg mengebor minyak di Blok Mahakam itu orang-orang Indonesia, yg sudah sangat ngerti teknologi dan mumpuni menjalankan. JAdi apa alasannya tidak dikasih BUMN kita???
Sebetulnya ya, andai kata pemerintah ini justru berani mengambil langkah memoratorium PMA , dan memberi kesempatan pada PMDN , dan juga mengoptimalkan BUMN, maka serusak-rusakanya alam kita masih ada harapan untuk Indonesia yg lebih baik.
Sayang kepentingan individual penguasa, politikus, dan sekelompok manusia yg hidup dari duit dolar , telah membangun image yg mematikan nalar, sehingga selalu terbangun pandangan bahwa hanya DENGAN ASINGLAH KITA BISA MEMBANGUN INDONESIA!
Sedihhhh ....60 tahun merdeka, rakyat hanya terus jadi penonton di negeri yg gemah ripah loh jinawi, atas akrobat para pemegang kekuasaan demi kepentingan pribadi dan golongannya dari jaman ke jaman.
Penulis : Nanik S Deyang https://www.facebook.com/prokebangkitan/posts/1572324579664539?fref=nf
Menurut saya apa yg dikatakan mengundang investor asing untuk mengganti utang luar negeri itu hanya TEORI . Mungin di negara lain bisa kejadian tapi di Indonesia tidak terbukti.
Soal investasi asing atau PMA, cobalah cek ke BKPM , di bidang apa mereka paliang banyak masuk ?
No 1. Pasti yang mengeruk sumber daya alam (SDA), mulai dari tambang, kebun, perikanan, dll , pokoknya yg bersifat mengambil sumber daya alam kita.
No 2. Di bidang jasa -jasa. Jasa Keuangan (perbankan, asuransi, sekuritas dll), dan jasa lainnya, termasuk biro iklan , bahkan jasa konsultan politik. Ini juga bersifat mengeruk uang rakyat Indonesia.
No.3 . Industri . Di bidang industri jangan dikira kita dijadikan basis industri mereka, kita hanya dijadikan "tukang jahit" saja , brand tetap mereka yg pegang dan tdk ada alih teknologi. Mereka membuat pabrik di Indonesia karena raw material yang murah dan juga ongkos buruh yang murah.
Nah, pertanyaan saya dengan orang yg mengatakan bahwa mengundang investor bisa membangun Indonesia tanpa berhutang, dari tiga bidang itu mana yg bisa membangun Indonesia ?
Untuk yg no. 1 (Yg basisnya eksplorasi SDA) . Mereka (PMA) yg mengeruk sumber daya alam kita mau di bidang apapun hampir tidak ada yg membuat pabrik turunan baik di sektor antara atau hilir di Indonesia. Mereka hanya mengeruk bahan mentah (hulu) kemudian langsung di ekpor , dan duit hasil ekspor ditaruh di bank mereka di luar negeri .
Lalu apa yang Indonesia dapat? Hanya pajak dan sedikit tenaga kerja terserap. Bahkan untuk tenaga kerja di tingkat eksekutif mereka masih menggunakan tenaga asing, termasuk dari Philiphina yg kwalitasnya tdk lebih bagus dari eksekutif Indonesia.
Sedangkan dari pendapatan pajak pemerintah pun masih bisa GIGIT JARI. Coba saja googling berapa perusahaan asing yg nunggak pajak alias ngemplang pajak dengan berbagai alasan????
Kemudian untuk no.2 , di bidang jasa-jasa . Nah ini lebih gila lagi, mereka itu hanya bawa badan, dan mengeruk duitnya orang Indonesia . Lagi-lagi kalau sudah terkumpul ya dibawa ke luar negeri. Coba cek bank-bank asing , baik yg berbendera asing atau yg berbendera nasional tapi sahamnya sudah pindah ke asing, apakah mereka memberikan kredit ke perusahaan nasional ? Hampir tidak ada! Mereka lebih banyak memberikan kredit pada perusahaan asing yg investasi di Indonesia.
Jadi mohon jangan pada mimpi kalau judulnya investor asing itu mau investasi di Indonesia terus bawa duit dari luar negeri masuk ke Indonesia. Mereka masuk itu hanya bawa barang modal (sudah berupa barang) produksi negara mereka, dan uangnya ya dari bank asing yg operasional di Indonesia , jadi meski judulnya PMA, aslinya yg untuk membangun proyek mereka itu ya sebagian duitnya orang Indonesia. Ingat ya yg mereka bawa masuk itu hanya barang modal!
Kemudian yg no .3. Di bidang industri juga sami mawon. Mereka itu hanya menjadikan kita tukang jahit , karena secara keseluruhan ongkos produksi mereka lebih murah. Apakah mereka menjadikan kita basis Industri? Tidak. Kita hanya disuruh bikin barang bodongan tanpa merek, karena merek mereka yg kasih nanti setelah di bawa ke negara mereka. Dan ketika harga mereka menjadi melambung ya bukan kita yg menikmati value penjualan yg melambung tadi, tapi perusahaan dan negara asal mereka, karena mereka akan ekspor ke negara -negara lain dari negara mereka! Bahkan rakyat Indonesia yg pengin pakai barang berkwalitas buatan Indonesia harus membeli dng harga lima kali lipat, karena mereka me-reekspor produk buatan Indonesia dari negara mereka.
Di bidang infrstruktur PMA mau masuk????? Kalau ada coba deh tunjukin dimana ?? PMA idak akan mau masuk di investasi yg balik modalnya lama, dan revenue-nya kecil . Tapi kalau jadi Sub kon-nya mereka pasti berebut. Misalnya membangun pelabuhan atau jalan , duitnya dari APBN, tapi sub konraktor atau yang bangun konstruksi asing semua, karena mereka tau lebih enak jadi sub kontraktor-nya karena gak ada resiko bisnis, dan tidak harus bawa modal, malah dapat bayaran besar dari duit Indonesia.
Jadi jujur saya gak percaya-percaya amat , ngundang investor itu bisa membangun Indonesia ? bahwa sedikit menambah pajak kita mungkin iya, tapi mudharatnya lebih banyak , karena aslinya kekayaan kita justru banyak keluar. Ini bukan saya saja yg ngomong, Ketua KPK Abraham Samad, juga pernah ngomong soal potensi hilangnya investasi yg berbasis dari sumber daya alam kita , dan nilainya mencapai ribuan triliun setiap tahun.
Jadi kalau dapatnya kecil , kemudian hilangnya lebih banyak , apakah betul mengundang investor asing bisa MEMBANGUN INDONESIA ?
Akan lebih bijak kalau kita semua jujur pada hati masing-masing untuk melihat kenyataan, bukan teori. PMA ini dibuka sejak Indonesia Merdeka , Indonesia tambah hebat atau tambah terpuruk?
Kemudian sejak jaman reformasi itu kan banyak investasi yg tadinya masuk dalam list negative investasi, kemudian di obral habis alias dibuka selebar-lebaranya, artinya yg tadinya tidak boleh dimasuki asing menjadi boleh. Pertanyaannya lagi sejak jaman Soeharto lengser hingga sekarang pembangunan Indonesia menjadi maju ? Kalau ada mohon ditunjukkan, siapa tau sy kelewat gak lihat kemajuannya!
Sebagai rakyat saya tidak anti PMA, tapi coba deh ditata, jangan seperti sekarang kita hanya memberi karpet merah utk para penguras sumber daya alam kita, sementara rakyat pada jejeritan hidupnya makin susah!
Sebelum obral PMA, coba disurvei mana PMA yg memberikan keuntungan sebanyak-banyaknya untk negara dan rakyat? Dan kontrak-kontrak karya yg sudah habis dan sekarang rakyat dan bangsa Indonesia mampu menjalankan sendiri , lebih baik dijalankan BUMN kita, sehingga akan menambah pemasukkan negara, yg ujungnya diharapkan bisa untuk rakyat banyak. Jangan sampai lobi asing untuk sekelompok manusia "dewa" membuat semua dibuat alasan sehingga asing tetap bercokol.
Misalnya alasannya, kita belum mampu, tidak punya uangnya. Saya kasih contoh blok Mahakam misalnya, Pertamina secara finansial mampu membiayai, kemudian secara teknologi dan SDM, ternyata 95 persen yg mengebor minyak di Blok Mahakam itu orang-orang Indonesia, yg sudah sangat ngerti teknologi dan mumpuni menjalankan. JAdi apa alasannya tidak dikasih BUMN kita???
Sebetulnya ya, andai kata pemerintah ini justru berani mengambil langkah memoratorium PMA , dan memberi kesempatan pada PMDN , dan juga mengoptimalkan BUMN, maka serusak-rusakanya alam kita masih ada harapan untuk Indonesia yg lebih baik.
Sayang kepentingan individual penguasa, politikus, dan sekelompok manusia yg hidup dari duit dolar , telah membangun image yg mematikan nalar, sehingga selalu terbangun pandangan bahwa hanya DENGAN ASINGLAH KITA BISA MEMBANGUN INDONESIA!
Sedihhhh ....60 tahun merdeka, rakyat hanya terus jadi penonton di negeri yg gemah ripah loh jinawi, atas akrobat para pemegang kekuasaan demi kepentingan pribadi dan golongannya dari jaman ke jaman.
Penulis : Nanik S Deyang https://www.facebook.com/prokebangkitan/posts/1572324579664539?fref=nf
Jokowi Serahkan Pembuluh Darah Indonesia ke Asing!!
Pengamat Ekonomi Ichsanuddin Noorsy menilai Presiden Joko Widodo telah
melupakan sejarah. Pasalnya Jokowi sudah membuka kesempatan asing untuk
menanamkan investasinya di Indonesia.
"Jokowi telah melupakan sejarah," kata Ichsanuddin saat menyampaikan pendapatnya di salah satu stasiun televisi, Rabu (12/11).
Seharusnya kata sapaan akrab Ichsanur, Jokowi memanfaatkan investasi dalam negeri daripada mengajak asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia yang bisa mengeruk kekayaan alam Indonesia oleh asing.
"Makanya Presiden Soekarno membatalkan UU Ivestasi Asing yang akhirnya dia digulingkan," katanya.
Dengan digulingkannya kekuasaan Presiden Soekarno melalui kekuatan asing karena telah membatalkan UU investasi Asing, Soekarno menekankan seluruh rakyatnya untuk berdirikari di atas kaki sendiri.
Selain itu kata Ichsanur, dengan membuka peluang sebesar-besarnya terhadap asing Jokowi sama saja menyerahkan pembuluh darahnya kepada asing.
"Sama saja Anda memberikan pembuluh dara kepada orang lain yang kapan saja bisa diambil," katanya.
Yang paling dikritik oleh Icshanur dalam pidatonya di KTT APEC di Beijing adalah rencana Jokowi yang akan membangun tol laut yang biayanya dibantu oleh modal asing. Menurut Ichsnur dengan dibangunkan tol laut maka mempermudahkan pihak asing mengambil kekayaan Indonesia di laut.
"Ini sama saja mempermudah mereka berdagang di sini," katanya.
Dalam sepekan kedepan Presiden Jokowi akan menyelesaikan pertemuan bilateral dengan dua pemimpin negara berpengaruh dunia pada Forum Kerja Sama Ekonomi Asisan Pasifik (APEC) di Beijing, Tiongkok.
Sumber : Republika http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/12/newigi-ajak-asing-investasi-jokowi-serahkan-pembuluh-darah-indonesia
"Jokowi telah melupakan sejarah," kata Ichsanuddin saat menyampaikan pendapatnya di salah satu stasiun televisi, Rabu (12/11).
Seharusnya kata sapaan akrab Ichsanur, Jokowi memanfaatkan investasi dalam negeri daripada mengajak asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia yang bisa mengeruk kekayaan alam Indonesia oleh asing.
"Makanya Presiden Soekarno membatalkan UU Ivestasi Asing yang akhirnya dia digulingkan," katanya.
Dengan digulingkannya kekuasaan Presiden Soekarno melalui kekuatan asing karena telah membatalkan UU investasi Asing, Soekarno menekankan seluruh rakyatnya untuk berdirikari di atas kaki sendiri.
Selain itu kata Ichsanur, dengan membuka peluang sebesar-besarnya terhadap asing Jokowi sama saja menyerahkan pembuluh darahnya kepada asing.
"Sama saja Anda memberikan pembuluh dara kepada orang lain yang kapan saja bisa diambil," katanya.
Yang paling dikritik oleh Icshanur dalam pidatonya di KTT APEC di Beijing adalah rencana Jokowi yang akan membangun tol laut yang biayanya dibantu oleh modal asing. Menurut Ichsnur dengan dibangunkan tol laut maka mempermudahkan pihak asing mengambil kekayaan Indonesia di laut.
"Ini sama saja mempermudah mereka berdagang di sini," katanya.
Dalam sepekan kedepan Presiden Jokowi akan menyelesaikan pertemuan bilateral dengan dua pemimpin negara berpengaruh dunia pada Forum Kerja Sama Ekonomi Asisan Pasifik (APEC) di Beijing, Tiongkok.
Sumber : Republika http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/11/12/newigi-ajak-asing-investasi-jokowi-serahkan-pembuluh-darah-indonesia
ANTARA MARITIM BUDAK & MARITIM ORANG MERDEKA
Betapa dahsyat kondisi maritim Indonesia nanti di bawah Pak Jokowi.
Seakan mengembalikan kejayaan maritim di masa Demak Bintoro, Laut Jawa kembali menjadi jalan tol yang sangat besar di tengah-tengah Nusantara. Kota-kota di kanan kiri Laut Jawa kembali hidup. Sebagaimana dulu, di selatan ada Demak, Surabaya, Cirebon, Banten, dan Palembang. Di utara ada Banjarmasin, Makassar, dan Malaka. Terus di timur sudah menyongsong Ternate dan Tidore. Laut Jawa menjadi magnet kapal-kapal besar Eropa berdatangan setelah menyusuri setengah lingkaran bumi.
Di belakang kota-kota itu, pulau-pulau di Indonesia menjadi kebun-kebun komoditas yang begitu mengesankan. Dan sungai-sungai besar menjadi terusan jalan tol Laut Jawa untuk terus masuk ke kebun-kebun itu. Kali Tuntang menjadi jalan protokol yang membelah Demak Bintoro menuju lereng Merapi-Merbabu. Bengawan Solo, mengintari Surabaya, menjadi pintu masuk ke berbagai area persawahan yang sangat luas di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Begitu juga jalan protokol yang sangat menawan yang bernama Sungai Musi, pintu masuk Sumatera, dan Sungai Barito, pintu masuk Kalimantan. Bangsa Eropa tak heran melihat semua itu mengingat sejak zaman Romawi, Sungai Reinch dan Sungai Danube memegang peranan sentral demikian.
Bedanya dengan maunya Pak Jokowi, Kesultanan Demak Bintoro, bersama Makassar, Ternate, Tidore, dan Banjarmasin, benar-benar "memiliki" Laut Jawa.
Adapun Jokowi, sebagaimana dinyatakan Ichsanuddin Noorsy, menyerahkan pembuluh darah Nusantara ini kepada asing !!!
Masih kurangkah penjajahan selama ini?
Secara fisik memang maunya Pak Jokowi ini bagus sekali. Bagaimanapun ini menjadikan Laut Jawa kembali memegang posisi sentral. Nusantara kembali punya urat nadi. Masalahnya adalah: semua itu dikuasai siapa? Apakah orang-orang se-Nusantara akan kembali menjadi budak kembali? (sekarang pun sudah sebenarnya...)
Ini akan berakibat parah, mengingat semenjak penguasaan VOC, sebenarnya bangsa Indonesia tak pernah berpikir skala negara, kecuali di zaman Bung Karno. Orang hanya berpikir skala kerajaan-kerajaan kecil yang besarnya hanya se eks-karesidenan. Adapun yang berpikir skala negara adalah VOC, Pemerintah Belanda, dan berikutnya Kapitalis Internasional. Dalam keadaan semacam ini, dibikinkan urat nadi, langsung diserahkan asing bahkan sebelum dibuat, dan bangsa Indonesia tetap berpikir skala kerajaan partai politik, kerajaan kabupaten, dan republik skala provinsi, kerajaan bisnis, dan kerajaan proyek. Tak ada yang berpikir negara. Militer pun maunya dijadikan satpam kapitalis asing!
Lalu harus gimana?
Selama ini kita begitu tinggi hati mendengar kata Khilafah. Rendah hatilah.
Khilafah memang desain negara taqwa. Tapi khilafah juga desain negara adikuasa. (Lihat An-Nuur : 55).
Sepanjang khilafah berkuasa Laut Tengah, Laut Merah, Laut Hitam, dan Lautan Hindia, semuanya adalah jalan tol. Di seputar jalan tol itu kota-kota besar berdiri.
Jika Nusantara adalah Khilafah, maunya Pak Jokowi tentu tetap kita lanjutkan. Tapi ingat: Itu milik kaum pengemban An-Nuur 55.
Mungkin tak hanya Laut Jawa sebagai jalan tol dan sungai-sungai besar sebagai jalan protokol. Tapi kota-kota besar di seluruh perbatasan akan menjadi tempat pemberangkatan pasukan jihad. Cilacap, Malang, Lombok, mungkin akan menghadap Australia. Ternate menghadap China. Indonesia mungkin tak lagi menghadap utara seperti sekarang, tapi menghadap ke timur. Makassar sebagai kepala, Lombok tangan kanan, Ternate tangan kiri. Kapal induk dan ratusan pesawat tempur berada di kedua tangan.
Teriakan Soekarno akan kembali terulang, "Dua puluh satu juta sukarelawan akan siap....!!!" (itu penduduknya baru sekitar 100 juta, tahun 61, lha sekarang, penduduk 240 juta)
Tapi itu bukan untuk Nasakom. Tapi untuk Allah SWT. Dengan dakwah dan jihad ke seluruh alam.
Tolong pahami, hanya dengan semangat semacam ini Portugis dulu bisa terusir dari Malaka, Sunda Kelapa, dan seluruh Maluku (Jaziratul Mulk).
Penulis : Husain Matla https://www.facebook.com/husain.eagung/posts/978884102126873
Seakan mengembalikan kejayaan maritim di masa Demak Bintoro, Laut Jawa kembali menjadi jalan tol yang sangat besar di tengah-tengah Nusantara. Kota-kota di kanan kiri Laut Jawa kembali hidup. Sebagaimana dulu, di selatan ada Demak, Surabaya, Cirebon, Banten, dan Palembang. Di utara ada Banjarmasin, Makassar, dan Malaka. Terus di timur sudah menyongsong Ternate dan Tidore. Laut Jawa menjadi magnet kapal-kapal besar Eropa berdatangan setelah menyusuri setengah lingkaran bumi.
Di belakang kota-kota itu, pulau-pulau di Indonesia menjadi kebun-kebun komoditas yang begitu mengesankan. Dan sungai-sungai besar menjadi terusan jalan tol Laut Jawa untuk terus masuk ke kebun-kebun itu. Kali Tuntang menjadi jalan protokol yang membelah Demak Bintoro menuju lereng Merapi-Merbabu. Bengawan Solo, mengintari Surabaya, menjadi pintu masuk ke berbagai area persawahan yang sangat luas di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Begitu juga jalan protokol yang sangat menawan yang bernama Sungai Musi, pintu masuk Sumatera, dan Sungai Barito, pintu masuk Kalimantan. Bangsa Eropa tak heran melihat semua itu mengingat sejak zaman Romawi, Sungai Reinch dan Sungai Danube memegang peranan sentral demikian.
Bedanya dengan maunya Pak Jokowi, Kesultanan Demak Bintoro, bersama Makassar, Ternate, Tidore, dan Banjarmasin, benar-benar "memiliki" Laut Jawa.
Adapun Jokowi, sebagaimana dinyatakan Ichsanuddin Noorsy, menyerahkan pembuluh darah Nusantara ini kepada asing !!!
Masih kurangkah penjajahan selama ini?
Secara fisik memang maunya Pak Jokowi ini bagus sekali. Bagaimanapun ini menjadikan Laut Jawa kembali memegang posisi sentral. Nusantara kembali punya urat nadi. Masalahnya adalah: semua itu dikuasai siapa? Apakah orang-orang se-Nusantara akan kembali menjadi budak kembali? (sekarang pun sudah sebenarnya...)
Ini akan berakibat parah, mengingat semenjak penguasaan VOC, sebenarnya bangsa Indonesia tak pernah berpikir skala negara, kecuali di zaman Bung Karno. Orang hanya berpikir skala kerajaan-kerajaan kecil yang besarnya hanya se eks-karesidenan. Adapun yang berpikir skala negara adalah VOC, Pemerintah Belanda, dan berikutnya Kapitalis Internasional. Dalam keadaan semacam ini, dibikinkan urat nadi, langsung diserahkan asing bahkan sebelum dibuat, dan bangsa Indonesia tetap berpikir skala kerajaan partai politik, kerajaan kabupaten, dan republik skala provinsi, kerajaan bisnis, dan kerajaan proyek. Tak ada yang berpikir negara. Militer pun maunya dijadikan satpam kapitalis asing!
Lalu harus gimana?
Selama ini kita begitu tinggi hati mendengar kata Khilafah. Rendah hatilah.
Khilafah memang desain negara taqwa. Tapi khilafah juga desain negara adikuasa. (Lihat An-Nuur : 55).
Sepanjang khilafah berkuasa Laut Tengah, Laut Merah, Laut Hitam, dan Lautan Hindia, semuanya adalah jalan tol. Di seputar jalan tol itu kota-kota besar berdiri.
Jika Nusantara adalah Khilafah, maunya Pak Jokowi tentu tetap kita lanjutkan. Tapi ingat: Itu milik kaum pengemban An-Nuur 55.
Mungkin tak hanya Laut Jawa sebagai jalan tol dan sungai-sungai besar sebagai jalan protokol. Tapi kota-kota besar di seluruh perbatasan akan menjadi tempat pemberangkatan pasukan jihad. Cilacap, Malang, Lombok, mungkin akan menghadap Australia. Ternate menghadap China. Indonesia mungkin tak lagi menghadap utara seperti sekarang, tapi menghadap ke timur. Makassar sebagai kepala, Lombok tangan kanan, Ternate tangan kiri. Kapal induk dan ratusan pesawat tempur berada di kedua tangan.
Teriakan Soekarno akan kembali terulang, "Dua puluh satu juta sukarelawan akan siap....!!!" (itu penduduknya baru sekitar 100 juta, tahun 61, lha sekarang, penduduk 240 juta)
Tapi itu bukan untuk Nasakom. Tapi untuk Allah SWT. Dengan dakwah dan jihad ke seluruh alam.
Tolong pahami, hanya dengan semangat semacam ini Portugis dulu bisa terusir dari Malaka, Sunda Kelapa, dan seluruh Maluku (Jaziratul Mulk).
Penulis : Husain Matla https://www.facebook.com/husain.eagung/posts/978884102126873
Label:
Analisis,
For Islam,
Geopolitic,
maritim
Wednesday, November 12, 2014
Ambil Alih Posisi Pelayaran Dunia, Indonesia Harus Gandeng Tiongkok dan India
Menjadi Poros Maritim Dunia berarti bisa mengambil alih poros
pelayaran perdagangan dunia yang saat ini masih didominasi kepentingan
ekonomi internasional negara-negara besar dunia; direpresentasikan
Singapura di kawasan Asia Tenggara. Hal tersebut merupakan bentuk
kolonialisme zaman dahulu yang masih bertahan hingga sekarang.
“Negara kaya ingin mempertahankan dominasinya melalui pelayaran internasional,” ujar Prof. Daniel M. Rosyid dalam perbincangannya bersama JMOL, Sabtu (25/10/2014). Menurut Daniel, jika Indonesia mau mengambil alih posisi poros pelayaran dunia, tidak bisa sendirian, namun harus mengajak Tiongkok dan India sebagai partner membangun poros baru.
“India dan Tiongkok paling tidak bisa menjadi balance,” papar Daniel. Mengapa harus Tiongkok dan India? Karena, Tiongkok dan India saat ini menjadi titik tumpu pertumbuhan dunia. Daniel menjelaskan, meski mereka bukan Negara Maritim, namun mereka sedang membangun kekuatan maritim.
“Kita punya posisi strategis. Sekarang, harus lewat Singapura. Tantangan kita menjadi Poros Maritim adalah mengalahkan Singapura,” ungkap Daniel. Merebut posisi Singapura bagi Indonesia, menurut Daniel, bisa dilakukan dengan membangun pelabuhan berstandar internasional di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Dengan tingkat efisiensi yang tinggi dan perencanaan tata ruang hinterland yang kuat, bisa menjadi strategi pengurangan dominasi tersebut.
Lebih lanjut Daniel menjelaskan, persoalan dominasi Singapura bukan hanya persoalan posisi, namun juga persoalan koneksi. Koneksi jalur pelayaran perdagangan dunia saat ini dimonopoli oleh Singapura. “Koneksi ini juga harus kita lawan,” tegasnya.
Daniel melihat, melawan dominasi Singapura dalam pelayaran internasional sejalan dengan strategi Bung Karno dan Gus Dur. Apabila platform kebijakan yang dilandaskan kepada doktrin Nawacita sebagaimana dicetuskan Bung Karno konsisten dijalankan, seharusnya bisa diarahkan untuk melawan dominasi tersebut. “Kebijakan Jokowi, jika melihat Nawacita, seharusnya ke arah sana. Kita harus kembali ke strateginya Bung Karno dan Gus Dur. Hanya keduanya keburu jatuh. Kalau Pak Jokowi mengerti jalan pikirannya Bung Karno, seharusnya bisa itu dijalankan,” pungkas Daniel.
Sumber : JurnalMaritim.com
Komentar :
Highlighted : Prof Daniel Rosyid : "singapura jadi poros maritim dunia bukan hanya soal POSISI tapi juga KONEKSI, nah koneksi ini juga harus kita lawan!"
Jika "koneksi" yg dimaksud Prof Daniel itu adalah jaringan hegemonik yang bertujuan melemahkan negeri Muslim seperti Indonesia tentu harus kita lawan!
“Negara kaya ingin mempertahankan dominasinya melalui pelayaran internasional,” ujar Prof. Daniel M. Rosyid dalam perbincangannya bersama JMOL, Sabtu (25/10/2014). Menurut Daniel, jika Indonesia mau mengambil alih posisi poros pelayaran dunia, tidak bisa sendirian, namun harus mengajak Tiongkok dan India sebagai partner membangun poros baru.
“India dan Tiongkok paling tidak bisa menjadi balance,” papar Daniel. Mengapa harus Tiongkok dan India? Karena, Tiongkok dan India saat ini menjadi titik tumpu pertumbuhan dunia. Daniel menjelaskan, meski mereka bukan Negara Maritim, namun mereka sedang membangun kekuatan maritim.
“Kita punya posisi strategis. Sekarang, harus lewat Singapura. Tantangan kita menjadi Poros Maritim adalah mengalahkan Singapura,” ungkap Daniel. Merebut posisi Singapura bagi Indonesia, menurut Daniel, bisa dilakukan dengan membangun pelabuhan berstandar internasional di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Dengan tingkat efisiensi yang tinggi dan perencanaan tata ruang hinterland yang kuat, bisa menjadi strategi pengurangan dominasi tersebut.
Lebih lanjut Daniel menjelaskan, persoalan dominasi Singapura bukan hanya persoalan posisi, namun juga persoalan koneksi. Koneksi jalur pelayaran perdagangan dunia saat ini dimonopoli oleh Singapura. “Koneksi ini juga harus kita lawan,” tegasnya.
Daniel melihat, melawan dominasi Singapura dalam pelayaran internasional sejalan dengan strategi Bung Karno dan Gus Dur. Apabila platform kebijakan yang dilandaskan kepada doktrin Nawacita sebagaimana dicetuskan Bung Karno konsisten dijalankan, seharusnya bisa diarahkan untuk melawan dominasi tersebut. “Kebijakan Jokowi, jika melihat Nawacita, seharusnya ke arah sana. Kita harus kembali ke strateginya Bung Karno dan Gus Dur. Hanya keduanya keburu jatuh. Kalau Pak Jokowi mengerti jalan pikirannya Bung Karno, seharusnya bisa itu dijalankan,” pungkas Daniel.
Sumber : JurnalMaritim.com
Komentar :
Highlighted : Prof Daniel Rosyid : "singapura jadi poros maritim dunia bukan hanya soal POSISI tapi juga KONEKSI, nah koneksi ini juga harus kita lawan!"
Jika "koneksi" yg dimaksud Prof Daniel itu adalah jaringan hegemonik yang bertujuan melemahkan negeri Muslim seperti Indonesia tentu harus kita lawan!
Subscribe to:
Posts (Atom)
