Visi Geospasial

Rasulullah Saw bersabda : “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya, dan aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepadaku”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Sunday, May 12, 2013

Keputusasaan Media Liberal di Indonesia Menghadapi Kebangkitan Islam dan Khilafah



Keputusasaan Media Liberal di Indonesia Menghadapi Kebangkitan Islam dan Khilafah

Pada tanggal 8 Mei lalu, Fitri Bintang Timur melalui opininya yang dimuat di Jakarta Post berjudul “Do RI women want sharia, too?” jelas bersikap skeptik terhadap hasil survey PEW forum yang menunjukkan 72% umat Islam di Indonesia menginginkan Syariah Islam sebagai hukum resmi di negeri mereka, ia berusaha mengingkari hasil survey PEW tersebut dengan menggaribawahi segelintir data minor yang menguntungkan opini liberal dari bab Women in the Society hasil survey ini. Sebelumnya, Jakarta Post juga melansir respon pentolan kelompok liberal terkait hasil studi Pew Research Center yang berbasis di Amerika pada 30 April lalu. Adjie Alfaraby misalnya, peneliti dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), mengatakan jika penemuan ini benar harus dianggap serius. Sedangkan Azyumardi Azra, direktur Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, mempertanyakan sejauh mana hasil survei mencerminkan kebenaran. “72 persen angka yang tidak masuk akal,” ujarnya kepada The Jakarta Post pada Rabu (2/5).
Kemudian yang lebih mengejutkan adalah pernyataan Endy Bayuni, 9 Mei 2013 di Jakarta Globe yang secara terbuka menyerukan kepada media-media di Indonesia agar bekerja sama memastikan bahwa kelompok ekstremis Islam yang ia labeli dengan “radikal dan garis keras” tidak memiliki suara yang dipublish media. Editor senior Jakarta Post yang mengatasnamakan International Association of Religion Journalists itu menyatakan “Jangan berikan ruang sedikitpun pada kalangan garis keras! Silakan meliputi mereka ketika mereka melanggar hukum, tetapi jangan beri ruang untuk sekelompok kecil orang-orang itu ketika mereka berjuang melawan sesuatu yang absurd. Mereka menggunakan media secara efektif dan menipu media yang sesuai dengan cara mereka sendiri. "
Menariknya apa yang dikatakan oleh Endy Bayumi bersamaan dengan tahap awal penyelenggaraan Muktamar Khilafah (MK) di 31 kota di seluruh Indonesia di sepanjang bulan Mei – Juni 2013, yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan akan dihadiri ratusan ribu masyarakat Indonesia. Tokoh-tokoh liberal ini melalui jaringan media mereka seperti Jakarta Globe dan Jakarta Post, berusaha mengingkari realitas bahwa umat Islam di Indonesia secara jelas menginginkan Syariah Islam.

Omong Kosong Kebebasan Berekspresi di Negeri Demokrasi
Media liberal terus berusaha untuk mengecam bahkan membungkam mereka yang tidak setuju dengan nilai-nilai cacat sekuler liberal yang mereka anut dan ini merupakan cerminan kemunafikan dan kelemahan sistem sekuler demokrasi. Karena demokrasi selalu menerapkan kebebasan berekspresi tebang pilih. Media-media seperti ini jelas hanya akan mempublikasikan suara dari orang-orang yang setuju dengan nilai-nilai mereka, di saat yang sama terus mencari-cari kesalahan pihak-pihak yang memiliki sudut pandang berbeda dan menentang nilai – nilai Sekuler - bahkan ketika suara yang menentang adalah pandangan dominan dari masyarakat seperti yang ditunjukkan oleh survei PEW.
Keputusasaan jelas terlihat dari upaya mereka menyoroti segelintir kecil data minor yang mereka cari-cari dari setumpuk besar data hasil survey PEW dimana di Asia terdapat prosentase sangat tinggi penduduk dunia yang mendukung syariah Islam: Pakistan (84%), Bangladesh (82%), Afghanistan (99%), Indonesia (72%), Malaysia (86%). Demikian pula di Timur Tengah dan Afrika, prosentase yang mendukung syariah : Irak (91%), Palestina (89%), Maroko (83%), Mesir (74%), Yordania (71%), Niger (86%), Djibouti (82%), Kongo (74%) dan Nigeria (71%). Fitri Bintang Timur tidak boleh menutup mata dari bentangan data ini hanya dengan sekedar menampilkan data minor bahwa 76% masyarakat Indonesia setuju bahwa hak waris antara laki-laki dan perempuan dibagi sama rata.
Begitupun pernyataan tokoh media sekaliber Endy Bayuni yang nampak putus asa membungkam gelombang dukungan masyarakat Indonesia terhadap Syariah dan Khilafah melalui Muktamar Khilafah 2013 yang menggema di seluruh nusantara, dan telah berjalan dengan ijin Allah di beberapa kota, dihadiri puluhan ribu umat dan menuai kesuksesan luar biasa.
Hal ini mengingatkan apa yang dikatakan Noam Chomsky dalam bukunya "Kuasa Politik Media" yang mengungkap peran propaganda media massa dalam rekayasa opini publik, dimana para penguasa sebenarnya memiliki tujuan yang kontraproduktif dengan keinginan publik/ rakyat untuk terus melanggengkan kekuasaan, bahkan Noam Chomsky juga mengatakan bahwa pengusaha media liberal telah mendidik orang-orang bodoh sebagai corong pengusaha dan penguasa.
Hipokrasi terang-terangan yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh liberal seperti ini hanyalah bukti lain dari kegagalan sistem sekuler Barat dan penjelasan mengapa semakin banyak umat Islam menolak demokrasi sekuler dan memeluk Islam sebagai sistem yang mampu menentukan masa depan politik, ekonomi, dan sosial mereka.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaf 61:8)

Realitas Kebangkitan Khilafah yang Tak Terbantahkan
            Sebenarnya tidak terlalu diperlukan penelitian ataupun survey ilmiah akan hal ini. Dari Maroko Afrika Barat hingga Merauke di Timur Indonesia, termasuk dari populasi Muslim di negeri-negeri Barat, suara yang merindukan Syariah Islam kian nyaring terdengar. Meski media-media sekuler nyaris tidak pernah meliputnya bahkan membungkamnya namun gaung suaranya kian nyaring membahana.
            Di tengah arus perubahan besar dan pergolakan politik yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia Islam saat ini, Muktamar Khilafah 2013 yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia tak lain bertujuan sebagai medium untuk mengokohkan visi dan misi perjuangan umat untuk tegaknya kembali kehidupan Islam. Karena itulah tema “Perubahan Besar dunia Menuju Khilafah” diambil, untuk mengingatkan bahwa perubahan dunia sesungguhnya adalah sebuah keniscayaan, namun arah perubahan yang semestinya adalah menuju tegaknya Khilafah bukan yang lain.
Kami mengajak Anda untuk memberikan dukungan Anda kepada Hizbut Tahrir untuk penegakkan kembali Khilafah; dan bersumpah setia kepada sarjana terhormat, mujtahid terkemuka, dan politisi ulung, Syeikh Ata bin Khalil Abu Ar-Rashtah, Amir Hizbut Tahrir, sebagai Khalifah bagi umat Islam yang akan menjaga dan melindungi anak-anak umat ini, memuliakan kaum perempuannya, menyatukan negeri-negeri Islam, dan mengembalikan posisi umat Islam sebagai khairu Ummah, Insha Allah!

Fika M. Komara, M,Si
Member of Central Media Office Hizb ut Tahrir

Tanpa Khilafah, Penderitaan Kaum Muslimah Terbentang dari Negeri Syam Hingga Timur Jauh



Tanpa Khilafah, Penderitaan Kaum Muslimah Terbentang dari Negeri Syam Hingga Timur Jauh

Tanpa adanya perisai umat, penderitaan kaum Muslimah tidak kunjung usai. Bulan Maret lalu menjadi bulan paling berdarah di Suriah, ratusan Muslimah dan anak-anak Suriah dibantai di Syam, di pusat rumah Islam sendiri. Pada saat yang sama ratusan ribu Muslimah Rohingya di Timur Jauh ditindas rezim tiran Myanmar, diusir dari negerinya sendiri, hidup terkatung-katung hingga menjadi korban pengabaian para penguasa Muslim. Sebagaimana yang dilansir ANTARA 21 April lalu Polisi Indonesia menangkap 76 pengungsi Rohingya di Sampang, Madura dan di antara mereka terdapat 13 orang perempuan dan 15 orang anak-anak. Menurut The Arakan’s Project, diperkirakan 19.500 orang Rohingya, telah melarikan diri dengan perahu dari Bangladesh dan Utara Arakan, menuju negara-negara Asia Tenggara terdekat dengan perkiraan 100 orang telah tenggelam di lautan selama proses tersebut. Kepedihan belumlah usai, bergeser ke ujung timur di Timur Jauh, kita menyaksikan bagaimana ribuan kaum Muslimah dan anak-anak Sulu ditindas di negerinya oleh rezim Kufar Filipina, kemudian pada bulan Maret lalu menjadi korban nasionalisme buta pemerintah Malaysia di Sabah karena menganggap kesultanan Sulu telah menginvasi Sabah wilayah territorial Malaysia.
Inilah deretan fakta penderitaan kaum Muslimah yang menyayat hati, terbentang dari pusatnya Islam, negeri Syam, hingga ke negeri-negeri di Timur Jauh, di ujung Timur dunia Islam. Mereka adalah korban tak berdaya dari predator-predator penguasa Kufar yang dibiarkan eksis oleh sistem dunia yang diskriminatif terhadap Umat Islam. Mereka juga telah diabaikan oleh para penguasa boneka Muslim -sisa-sisa kolonial dari negara Kapitalis Barat- yang diaborsi rasa kemanusiaannya oleh sistem dunia hari ini yang memuja sekulerisme dan Kapitalisme. Selama sistem dunia masih seperti hari ini, maka penderitaan kaum Muslimah di sepanjang dunia Islam niscaya tidak akan pernah berakhir, karena pangkal masalah dari semua penderitaan ini tidak lain adalah tidak hadirnya Khilafah yang merupakan perisai bagi umat Islam, yang akan menghilangkan hegemoni kufar atas kaum Muslimin dan melindungi kehormatan kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh dunia Islam.
Berangkat dari panggilan Allah dan Rasul-Nya untuk melindungi kemuliaan Muslimah di Syam dan di seluruh dunia Muslim, seperti sabda Rasulullaah Saw:
الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ أَخِيهِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ
Seorang Mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang beriman; dia melindunginya dari bahaya dan membelanya di belakang punggungnya.” [HR. Bukhari]. Maka Hizb ut Tahrir, sebuah partai politik Islam internasional telah meluncurkan sebuah kampanye yang sangat penting dengan mengadakan konferensi perempuan tanggal 27 April 2013 besok di Amman, Yordania. Konferensi yang berjudul “Bersegera Menegakkan Khilafah untuk Melindungi Perempuan Mulia Syam" ini, meski fokus membicarakan penderitaan perempuan dan anak-anak Suriah akibat pembantaian yang dilakukan oleh rezim pembunuh Assad, namun gagasan dan tawaran yang diberikan konferensi ini sangat relevan dalam menjawab penderitaan Muslimah di seluruh dunia termasuk kawasan Timur Jauh. Apalagi Syam adalah rumahnya Islam, barometer perjuangan Islam hari ini karena revolusi Suriah di Syam ini adalah revolusi Islam murni yang bertujuan untuk menegakkan Khilafah dan menerapkan syariah secara kaffah. Sehingga kemenangan pada revolusi Syam adalah kemenangan bagi seluruh umat Islam di dunia, dan kemenangan itu akan senilai dengan darah murni nan suci ribuan nyawa tak berdosa yang ditumpahkan di tanah Syam yang diberkati. Insya Allah dari Bumi Syam, Khilafah akan membebaskan negeri-negeri Islam lainnya yang tertindas dan menyatukan negeri-negeri Islam yang terpecah. Demikian sebagaimana janji para Mujahidin ketika berikrar, “Wahai Rohingya, tunggulah, kami akan menolong Anda. Wahai Gaza, kami akan membebaskan Anda. Wahai Masjid al-Aqsha, kami akan menyelamatkanmu!” Allah Akbar!

Wahai kaum Muslimah Timur Jauh! wahai kaum Muslimah di Syam! Fajar Khilafah telah demikian dekat dan kita adalah umat yang satu, nabi kita satu, bendera kita satu dan perjuangan kita pun satu. Maka bergabunglah dengan perjuangan demi tegaknya Khilafah Islam yang kedua yang akan membungkam siapapun yang menyerang dan menodai kehormatan kaum Muslimah di seluruh dunia di bawah kalimah Tauhid dan pemerintahan Islam. Insya Allah

Fika M. Komara, M.Si
Member Of Central Media Office Hizb ut Tahrir

Sunday, March 24, 2013

Nasionalisme Buta Malaysia Telah Menumpahkan Darah Muslimah dan Anak-Anak Muslim di Sabah



Nasionalisme Buta Malaysia
Telah Menumpahkan Darah Muslimah dan Anak-Anak Muslim di Sabah


 Sejak kelompok sipil bersenjata bersama sekitar 1000 warga pengikut Sultan Sulu, Jamalul Kiram III mendarat di Lahad Datu Sabah pertengahan Februari lalu sampai sekarang masih terjadi baku tembak antara ribuan pasukan Malaysia dengan pesawat jet tempurnya untuk memburu ratusan  prajurit Kesultanan Sulu tersebut. Pendaratan di Lahad Datu itu, merupakan bagian dari upaya kesultanan Sulu untuk mengklaim kembali Sabah, karena merasa dikhianati dan ditinggalkan dalam proses perdamaian antara pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF).
Pemerintah Malaysia terus memburu dengan membabi buta para loyalis kesultanan Sulu. Ironisnya kaum perempuan dan anak-anak juga turut menjadi korban konflik bersenjata ini. The Phillipine Star tanggal 11 Maret lalu telah memberitakan bahwa perempuan hamil dan anak-anak Muslim Filipina yang telah lama tinggal di Sabah juga diburu dan dibunuh oleh militer Malaysia karena dianggap bagian dari suku Tausug, dimana kebanyakan dari suku Tausug adalah anggota Kesultanan Sulu. Bahkan sebelumnya harian Indonesia, Republika, melaporkan seorang bocah berusia belasan tahun tewas setelah ditembak Polisi Malaysia 10 Maret lalu namun ditanggapi enteng oleh Komisaris Polisi wilayah Sabah, Datuk Hamza Taib, dengan menyatakan bahwa bocah tersebut sama saja dengan teroris.
Insiden ini jelas memperlihatkan wajah Malaysia sebenarnya yang tidak lagi bisa menutupi bahwa darah kaum muslimin tidak berarti apa-apa bagi mereka jika dibandingkan dengan batasan territorial negaranya yang diterobos oleh kaum Muslim Sulu, bahkan Malaysia tidak segan mengorbankan darah kaum Muslimah dan anak-anak sekalipun. Ironis, karena selama ini Malaysia kerap memerankan diri sebagai negeri Muslim yang vokal menyuarakan kepentingan umat Islam termasuk Palestina dan muslim minoritas di Asia Tenggara.

Nasionalisme dan Perdamaian Palsu untuk Umat Islam
Krisis Sabah ini sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari penindasan Muslim minoritas di Asia Tenggara dan sejarah panjang kolonialisme Barat di kawasan ini. Kolonialisme Barat di Asia Tenggara telah mewariskan perpecahan umat Islam, penindasan minoritas umat dan penjajahan sumberdaya alam melalui pengkhianatan para pemimpin Muslim di kawasan ini, sehingga kesatuan umat Islam di Nusantara terlerai satu per satu akibat nasionalisme dan kemerdekaan negara-bangsa pada pertengahan abad ke-20. Adalah Protokol Madrid tahun 1885 yang merampas Sabah dari kesultanan Sulu dan diserahkan pada kerajaan Inggris untuk menjadi bagian protectorat atau daerah jajahannya. Lalu Inggris memerdekakan Malaysia dan menyerahkan Sabah ke Malaysia melalui komisi Cobbold 1963, meski Malaysia tetap harus membayar uang sewa kepada Sultan Sulu sebanyak US$ 1.500 (Rp 14,5 juta) per tahun untuk tanah seluas 7.300 hektare di Sabah hingga saat ini. Walhasil, sengketa antara Malaysia dengan Kesultanan Sulu atas Sabah hari ini tidak bisa lepas dari desain imperialis Inggris kala itu.
Malaysia, sebagai salah satu negeri muslim mayoritas di kawasan ini nampaknya masih memerankan dengan baik peranannya sebagai sisa-sisa kolonial dari negara imperialis Barat. Malaysia jelas tidak rela memberikan sejengkal tanah Sabah pun kepada Filipina namun pada saat yang sama rela membiarkan tanah umat Islam di Mindanao dan Pattani dikuasai oleh kaum kaffir dan menutup mata terhadap penindasan minoritas Muslim disana yang mengorbankan lebih dari 120 ribu nyawa Muslim Moro di Filipina Selatan selama 40 tahun terakhir, dan sedikitnya 5500 nyawa Muslim Pattani di Thailand Selatan sejak 9 tahun silam.  Malaysia tidak berbuat apapun untuk membebaskan tanah dan menjaga kehormatan umat Islam di Pattani, Sulu dan Mindanao kecuali dengan jalan diplomatik basa-basi yang sarat dengan akomodasi kepentingan asing. Kebalikannya justru Malaysia sekuat tenaga mengerahkan tujuh batalion pasukan tempur untuk mempertahankan tanah di Sabah demi melawan ratusan kelompok sipil bersenjata alakadarnya yang sesungguhnya merupakan saudaranya se - Aqidah.
Drama kepalsuan itu terus berlanjut, Malaysia terus memainkan peran yang mencitrakan dirinya sebagai penjaga Islam dan pembela Muslim minoritas. Oktober tahun lalu Malaysia berperan memfasilitasi penandatanganan perjanjian damai di Filipina Selatan yang sudah diupayakan sejak 15 tahun lalu dan akan membentuk wilayah otonomi baru di kawasan selatan Filipina pada tahun 2016. Namun ternyata perjanjian damai ini justru menjadi racun perpecahan bagi umat Islam, memantik krisis Sabah yang menumpahkan darah umat. Ironisnya pada saat yang hampir bersamaan, Malaysia kembali memulai peran untuk menangani perdamaian Muslim minoritas di Thailand Selatan. Sungguh sebuah peran yang hipokrit dan basa-basi yang dijalankan pemerintah Malaysia yang telah merobek persaudaraan umat Islam dengan menumpahkan darah saudaranya sendiri di Sabah.

Khilafah Akan Membebaskan dan Menyatukan Sabah dan Sulu
Islam mencela keras dan mengharamkan ashabiyah (fanatisme golongan) termasuk nasionalisme untuk digunakan sebagai identitas umat Islam, mengalahkan ikatan persaudaraan Islam (ukhuwah Islam). Allah SWT berfirman: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ... "Sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara" (QS al-Hujurat [49] : 10). Islam mengajarkan bahwa ikatan terkuat bagi seorang Muslim itu adalah Aqidah Islam yang termanifestasi dalam ukhuwah Islamiyah, dan ikatan ini wajib diletakkan diatas suku bangsa, ras ataupun warna kulit.
Pertempuran di Sabah antara militer Malaysia dengan pengikut kesultanan Sulu adalah termasuk pertempuran jahiliyah, sebagaimana kita temui dalam hadits berikut yang mencela keras pelaku ashobiyah sebagai jahiliyah :
وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
Nabi Saw bersabda: "Dan barangsiapa mati di bawah bendera fanatisme golongan, dia marah karena fanatisme golongan atau karena ingin memenangkan bangsanya kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. (HR. Muslim no. 3525)
Islam juga mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah satu kepemimpinan politik (Khilafah). Haram bagi mereka terfragmentasi di bawah kepemimpinan politis yang lebih dari satu, apalagi harus hidup tertindas dibawah tirani mayoritas kaum kafir seperti Muslim Moro di Filipina, Muslim Pattani di Thailand ataupun Muslim Rohingya di Myanmar. Rasulullah SAW pernah bersabda:
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
"Apabila ada dua khalifah yang dibaiat, maka bunuhlah yang paling terakhir dari keduanya.“ (HR. Muslim no. 3444). Oleh karena itu Khilafah akan menyatukan wilayah Sabah dan kepulauan Sulu, kepulauan Indonesia, Malaysia dengan seluruh tanah kaum Muslimin di seluruh dunia. Khilafah juga akan membebaskan tanah kaum Muslimin di Myanmar, Filipina Selatan dan Thailand Selatan, serta akan menjadi perisai bagi kehormatan umat Islam termasuk kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh wilayah negara Khilafah.
                Khilafah dengan visi politik luar negerinya yang luhur tidak akan pernah membiarkan wilayah kaum Muslimin jatuh ke tangan kuffar melalui berbagai jerat perjanjian imperialis. Daulah Khilafah akan mengakhiri politik luar negeri negeri-negeri Muslim yang penuh dengan nuansa kelemahan dan ketertundukan ini akibat jerat nasionalisme dan pengkhianatan penguasa boneka Barat. Khilafah akan menggantinya dengan sebuah visi politik luar negeri yang berorientasi mulia untuk penyebaran dakwah Islam ke seluruh dunia dengan metode dakwah dan Jihad.
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa : 60)


Fika M. Komara, M.Si
Member Of Central Media Office Hizb ut Tahrir