Visi Geospasial

Rasulullah Saw bersabda : “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya, dan aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepadaku”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Monday, May 26, 2014

Konflik Laut China Selatan yang berkepanjangan | Ajang perebutan predator kapitalis global yang berpotensi memakan korban

Sebuah protes yang jarang sekali terjadi di Vietnam berlangsung di Hanoi dan Ho Chi Minh Minggu 11 Mei 2014 hari ini. Ratusan orang bersatu menentang China yang membangun kilang minyak raksasa di Laut China Selatan.

Sekira 300 orang melakukan aksi protes di depan Kedubes China di Hanoi. Aksi protes juga berlangsung di Konsulat China di Ho Chi Minh. Massa terdengar meneriakan kata-kata "keruntuhan China".

Protes yang terjadi menunjukkan ketegangan yang meningkat tajam antara China dengan Vietnam. Kedua negara diketahui saling berebut wilayah Laut China Selatan. (http://international.okezone.com/read/2014/05/11/411/983391/jarang-terjadi-protes-di-vietnam-menentang-china)

Sengketa kawasan beberapa negara di Laut Cina Selatan, khususnya konflik atas Kepulauan (disingkat: Kep) Spratly dan Kep Paracel ternyata memiliki referensi panjang. Berbagai literatur menyatakan bahwa perebutan keduanya semenjak dulu memang melibatkan banyak negara, antara lain Inggris, Prancis, Jepang, Vietnam dan Cina. Tampaknya kini lebih banyak lagi peserta yang masuk lingkaran sengketa, terutama sejak Komisi PBB tentang Batas Landas Kontinen pada Mei 2009 menetapkan pengajuan klaim untuk rak kontinental diperpanjang di luar 200 mil garis pantai. Akibatnya Vietnam, Malaysia, dan lain-lain baik secara terpisah atau bersama-sama mengajukan perpanjangan. Ini memicu protes Cina.






Ya, ribetnya pertikaian teritorial ini ternyata bukan sebatas klaim kepemilikan pulau-pulau, namun persoalan lain pun bercampur, seperti hak berdaulat atas Landas Kontinen dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), termasuk penggunaan teknologi baru terkait exploitasi serta explorasi minyak dan gas bumi oleh negara tertentu, dan lain-lain.

Secara garis besar pertikaian kepulauan di atas dapat digolongkan sebagai berikut, (1) Kep Paracel: antara Cina versus Taiwan, (2) Kep Spratly: antara Cina versus beberapa negara yaitu Malaysia, Philipina, Taiwan, Vietnam dan Brunai Darussalam. Cina pun sebenarnya tengah ribut dengan Philipina terkait Dangkalan Scarborough Shoal, juga berkonflik versus Jepang soal Pulau Dioayu atau Senkaku, dan lainnya.

Dari semua sengketa barangkali yang menarik ialah Kep Spratly. Kenapa demikian, betapa geografisnya memiliki leverage dibanding pulau-pulau lain. Artinya selain merupakan jalur perairan internasional, ia dianggap strategis dari aspek pertahanan karena geo-possition dan yang utama ialah kandungan sumber daya alam (SDA) berupa minyak dan gas alam. Lebih signifikan sebenarnya dari kajian geopolitik, artinya jika menguasai Spratly berarti akan mengontrol lintasan rute pelayaran antara Pasifik atau Asia Timur menuju Lautan Hindia.
(http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=9188&type=4#.U3p4J3av8dw)

 

Khilafah adalah Masa Depan Hakiki bagi Muslim Moro di Filipina Selatan, Bukan Perjanjian Damai Demokratis yang Sarat dengan Kepentingan Imperialis!!

Pada hari Minggu tanggal 4 Mei lalu, berbagai media Filipina melaporkan  aksi massif “ratifikasi rakyat” yang diselenggarakan serentak di beberapa area penting di Mindanao dalam rangka mendesak Kongres untuk meloloskan Hukum Dasar Bangsamoro (Bangsamoro Basic Law). Laporan dari Luwaran.com, situs informasi resmi dari Front Pembebasan Islam Moro (MILF), menginformasikan jumlah peserta aksi long march tersebut mencapai 200.000 orang termasuk ribuan Muslimah di delapan kota dan empat kotamadya di Filipina Selatan.
Setelah lebih dari 40 tahun konflik berdarah antara MILF dan pemerintah Filipina, presiden Kelompok Wanita Barangay – Hazar Muarip Ahmad mengatakan mereka sudah “sakit dan lelah dengan perang,” karena perempuan dan anak-anak adalah korban pertama yang paling terimbas jika konflik meletus. Di sisi lain, hal itu juga mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak sebagaimana yang disampaikan oleh Ahmad Al-Amin, Ketua Kaukus Masyarakat Adat Bangsamoro dalam wawancara terpisah.

Hukum Dasar Bangsamoro merupakan bagian dari Perjanjian Komprehensif pada Bangsamoro (Comprehensive Agreement on Bangsamoro/CAB) antara pemerintah Filipina di bawah pemerintahan Aquino, dan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) yang telah dicapai setelah perundingan panjang selama 17 tahun dan secara intensif difasilitasi oleh lembaga-lembaga internasional, termasuk beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Jepang, dan Malaysia.

Perjanjian ini juga memberikan peta jalan (roadmap) baru untuk Bangsamoro, yakni sebagai entitas politik otonom baru yang akan menggantikan Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM) yang dianggap oleh Presiden Filipina sebagai “percobaan yang gagal”. Di sisi lain, perjanjian ini juga membentuk identitas baru untuk Muslim Moro sebagai “bangsa Moro”, bangsa adalah kata Melayu yang berarti ‘bangsa’ yang akan mencakup tidak hanya suku Muslim etnis, tetapi juga penduduk yang beragama Kristen dan masyarakat adat di wilayah Bangsamoro.


Perangkap Demokrasi yang Sarat dengan Kepentingan Asing
Perjanjian damai yang diupayakan pemerintah sekuler Filipina yang didukung oleh lembaga-lembaga dunia, sejatinya tidak akan pernah menciptakan kemerdekaan hakiki bagi Muslim Moro yang minoritas, termasuk kaum Muslimah dan anak-anak Moro yang puluhan tahun hidup tertindas hingga lebih dari 120 ribu nyawa Muslim Moro melayang selama 40 tahun terakhir.

Perjanjian komprehensif ini tidak lain adalah sekedar “perangkap demokrasi” yang digunakan untuk mengaburkan identitas sejati umat Islam di Filipina Selatan, menganeksasi wilayah selatan Filipina yang sangat kaya akan sumberdaya alam, melumpuhkan gerakan politik bersenjata Moro Islamic Liberation Front (MILF), dan menjinakkan umat Islam agar menjadi lebih moderat, pragmatis sehingga menyakini bahwa demokrasi adalah kancah perjuangan Islam yang ideal. Semua upaya dilakukan oleh penguasa kufar Filipina dan lembaga-lembaga internasional yang tidak menginginkan Islam tegak di Filipina Selatan, yang bermuara pada tujuan yaitu partisipasi dalam demokrasi dari kaum Muslimin dan menyibukkan mereka dengan hal tersebut sehingga meninggalkan segala upaya untuk merealisasikan perjuangan penegakan Syariat Islam.

Dengan terikat dengan perjanjian damai seperti CAB, bahaya yang lebih besar sesungguhnya menanti umat Islam di Filipina Selatan. Imperialisme AS dan negara-negara Kapitalis lainnya semacam Australia dan Jepang siap mengeksploitasi kekayaan ekonomi yang dimiliki pulau Mindanao dan Sulu di Filipina Selatan. Hal ini tidaklah aneh, karena hampir empat abad kekuasaan Spanyol dan enam dekade pengawasan AS telah membelenggu Filipina dengan eksploitasi feodal dan semi-feodal. Petani Filipina telah kehilangan tanah; pekerja dihinakan menjadi tenaga kerja murah; dan sumber daya alam dan lingkungan, dijarah dan dirusak. Filipina telah lama menjadi pasar pembuangan untuk barang-barang mahal, dan pangkalan depan untuk hegemoni imperialis AS dan sekutunya di Asia-Pasifik. Bahkan untuk mengamankan kepentingan geopolitiknya di Asia Pasifik, secara khusus AS telah mengerahkan pasukannya di Mindanao.

Khilafah: Masa Depan Hakiki untuk Muslim Moro
Wahai saudariku Muslimah Moro, sadarilah! Bahwa muslim Moro adalah bagian tidak terpisahkan dari umat Islam yang satu di seluruh dunia Islam yang terbentang dari Maroko hingga Merauke! Kaum Muslimah di sepanjang bentangan kawasan itu mengalami penderitaan yang sama seperti yang kalian rasakan, tertindas dan terjajah di tanah mereka sendiri. Kita adalah umat yang satu, nabi kita satu, dan Al-Quran kita pun satu, maka tinggalkanlah atribut kebangsaan sekuler yang mengkotak-kotakkan umat Islam!  Karena Islam mengajarkan bahwa ikatan terkuat bagi seorang Muslim itu adalah Aqidah Islam yang termanifestasi dalam ukhuwah Islamiyah, dan ikatan ini wajib diletakkan diatas suku bangsa, ras ataupun warna kulit.

Islam juga mewajibkan umatnya untuk hidup di bawah satu kepemimpinan politik (Khilafah). Haram bagi mereka terfragmentasi di bawah kepemimpinan politis yang lebih dari satu, apalagi harus hidup tertindas dibawah tirani mayoritas kaum kafir. Rasulullah SAW pernah bersabda:
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
Apabila ada dua khalifah yang dibaiat, maka bunuhlah yang paling terakhir dari keduanya.“ (HR. Muslim no. 3444). Oleh karena itu Khilafah akan menyatukan wilayah Filipina Selatan dengan kepulauan Indonesia, Malaysia dengan seluruh tanah kaum Muslimin di seluruh dunia. Khilafah juga akan membebaskan tanah kaum Muslimin di Mindanao, Sulu, Burma, Suriah, hingga Afrika Tengah, serta akan menjadi perisai bagi kehormatan umat Islam termasuk kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh wilayah negara Khilafah.

Khilafah dengan visi politik luar negerinya yang luhur tidak akan pernah membiarkan wilayah kaum Muslimin jatuh ke tangan kuffar melalui berbagai jerat perjanjian imperialis. Daulah Khilafah akan mengakhiri politik luar negeri negeri-negeri Muslim yang penuh dengan nuansa kelemahan dan ketertundukan ini akibat jerat nasionalisme dan pengkhianatan penguasa boneka Barat. Khilafah akan menggantinya dengan sebuah visi politik luar negeri yang berorientasi mulia untuk penyebaran dakwah Islam ke seluruh dunia dengan metode dakwah dan Jihad.

Wahai saudariku tercinta Muslimah Moro! ingatlah bahwa jalan satu-satunya untuk merdeka adalah kembali pada pangkuan Islam dan bersatu dengan seluruh umat Islam di bawah naungan Khilafah! Sadarilah bahwa umat Islam tidak boleh kembali masuk perangkap musuh untuk kesekian kalinya, kekuatan umat Islam tidak boleh dilucuti oleh perangkap bernama demokrasi dan nasionalisme! Tetaplah konsisten dengan jalan perubahan melalui metode dakwah yang lurus yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw, karena itu  bergabunglah dengan perjuangan demi tegaknya Khilafah Islam yang kedua yang akan membungkam siapapun yang menyerang dan menodai kehormatan kaum Muslimah di seluruh dunia di bawah kalimah Tauhid dan pemerintahan Islam.

Fika Komara

Islam mensejahterakan Nusantara lebih dari 3 abad, kolonialisme Barat justru yang memiskinnya hingga hari ini!



وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ
Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (TQS An Nahl : 112)



 http://4.bp.blogspot.com/-CyxcXen7P1g/U0n2uBeecfI/AAAAAAAAFdc/4xSNykm6jgE/s1600/Indonesia+Milik+Allah

Dalam periodisasi abad ke-16 sampai dengan 18 sejarah Indonesia dikenal sebagai masa keemasan kesultanan Islam yang tersebar di kepulauan Nusantara yang sebagian besar lahir berbasiskan perekonomian maritim. Era Islam di Nusantara ini, mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan di hampir seluruh wilayah di Nusantara, sehingga era ini sering disebut sebagai era kebangkitan dan kemajuan Nusantara. Kemunculan era ini akibat peningkatan aktivitas lalu lintas perdagangan Islam di jalur Samudera Hindia dan Asia Tenggara pada abad ke-16 serta keruntuhan kerajaan Hindu-Budha Majapahit pada sekitar peralihan abad ke-15 dan 16. Kemakmuran yang dibawa Islam ke tanah Nusantara ditandai oleh meningkatnya lalu lintas pelayaran, kelahiran kota pelabuhan emporium, kelahiran pusat politik Islam di bawah kesultanan, munculnya komunitas pedagang muslim yang menjadi pelaku ekonomi perdagangan, dan terbentuknya jaringan perekonomian nusantara.


Kolonialisme Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris) menimbulkan dampak terhadap dinamika Islam di Nusantara. Secara politik-ekonomi, kolonialisme mengakibatkan kemunduran ekonomi kaum Muslimin sehingga era colonial ini juga disebut sebagai era kesuraman – pemaksaan monopoli perdagangan menyebabkan kemunduran dan kesengsaraan rakyat. Di bidang politik kolonialisme mengakibatkan hancurnya sebagian besar entitas politik kesultanan Islam. Periode ini merupakan masa kemunduran dan kemerosotan kaum Muslim di Nusantara sebagai akibat dari penetrasi kolonialisme Barat yang berlangsung sejak awal abad ke-19.

Di era kesultanan Islam di Nusantara nyaris tidak terdengar praktek eksploitasi atau kerja paksa pada rakyat, termasuk kaum perempuan. Namun pada era kolonialisme Eropa dan Jepang praktek ini sangat menonjol. Pada masa pendudukan Jepang, kita mengenal istilah romusha, yaitu orang Indonesia yang 'diperbudak' dalam kerja paksa. Sebelumnya ada cultuurstelsel alias aturan tanam paksa pada zaman penjajahan Belanda.


Sumber: Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid Asia Tenggara, Ichtiar Baru Van Hoeve


Tuesday, January 14, 2014

Tanpa Khilafah, Rezim Brutal China Leluasa Mengaborsi Rahim Mulia Muslimah Uyghur

Tanpa Khilafah, Rezim Brutal China Leluasa Mengaborsi Rahim Mulia Muslimah Uyghur

Oleh: Fika Komara (Member of Central Media Office Hizb ut Tahrir)

Pada tanggal 30 Desember 2013 yang lalu Radio Free Asia memberitakan bahwa otoritas China di Xinjiang telah mengaborsi bayi dari empat orang Muslimah Uyghur karena mereka melanggar kebijakan satu anak yang diterapkan di China sejak tahun 1970-an. Tragisnya salah satu dari empat perempuan itu bahkan telah mengandung 9 bulan. Mereka diberi suntikan mematikan yang merangsang proses aborsi dari rahim-rahim mereka.
Memettursun Kawul, suami dari korban yang mengandung 9 bulan bercerita dengan getir “meskipun istri saya disuntik oleh dokter, namun bayi saya menangis ketika ia dilahirkan.” Ketika ia mendengar tangisan bayinya ia langsung meraih bayi itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat dalam upaya untuk menyelamatkannya. “Para dokter di rumah sakit itu mencoba untuk menyelamatkannya tetapi mereka gagal. Akibat obat aborsi yang sudah telanjur disuntikkan, anakku meninggal satu jam setelah ia lahir.” Metkurban Nuri, suami dari korban lain yang mengandung empat bulan, mengatakan ia dan istrinya telah bersembunyi di kota Hotan selama seminggu tetapi pejabat keluarga berencana lokal menangkap mereka pada hari Sabtu, kemudian mereka ditahan di kantor polisi Arish selama 24 jam dan ia dipaksa untuk menyetujui agar istrinya menjalani aborsi di Rumah Sakit Nurluq.
Sungguh ini adalah tindakan biadab dan barbar yang dilakukan oleh rezim kriminal China yang amoral! Rezim yang dibutakan oleh kebencian terhadap Islam dan keserakahan terhadap pertumbuhan ekonomi ini telah mengaborsi putra-putri Islam dari rahim-rahim mulia Muslimah Uyghur. Atas nama kebijakan satu anak yang kontroversial China telah mengukir sejarah 336 juta aborsi dan 196 juta sterilisasi sejak tahun 1971, dan terus menuai hujatan dan kontroversi tanpa henti baik di dalam negerinya maupun dunia internasional. Puncaknya pada bulan November, sidang Pleno Partai Komunis mengumumkan reformasi kebijakan untuk melonggarkan kebijakan satu anak yang sudah diterapkan puluhan tahun. Akhirnya kini berdasarkan aturan baru, secara resmi disetujui oleh Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional pada tanggal 28 Desember, pasangan yang keduanya merupakan anak tunggal dapat memiliki dua anak. Para pembuat kebijakan telah memperkirakan pelonggaran itu akan menguntungkan sekitar 15 sampai 20 juta pasangan di kota-kota besar China dan akan mengakibatkan 1 – 2 juta kelahiran tambahan per tahun dalam beberapa tahun pertama, di atas 16 juta bayi yang lahir setiap tahun di China .
Namun rupanya pelonggaran kebijakan ini tidak berlaku bagi entitas Muslim Uyghur di Xinjing, Turkistan Timur. Sepuluh juta Muslim Uighur di Xinjiang yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan dengan milyaran penduduk China beretnis Han lainnya, pada realitanya sangat dibatasi pertumbuhannya oleh pemerintah China. Banyak pengamat mengatakan seharusnya Muslim Uyghur tidak dikenai kebijakan satu anak karena jumlah mereka tidak mengancam petumbuhan ekonomi di China. Namun realitasnya setiap pasangan Uighur yang tinggal di perkotaan hanya dibolehkan untuk mempunyai anak maksimal dua orang, sedangkan jika mereka tinggal di pedesaan dibolehkan mempunyai anak maksimal tiga orang. Jika jumlah anak mereka telah mencapai jumlah maksimal, mereka dipaksa untuk melakukan aborsi atau sterilisasi atau tindakan-tindakan lain yang dapat memberhentikan kehamilan dari pasangan tersebut. Tidaklah mengherankan jika selama ini, pertumbuhan jumlah penduduk etnis Muslim Uighur tergolong rendah.
Kejahatan ganda yang dilakukan rezim criminal China terhadap Muslim Uyghur di Turkistan Timur adalah pertama menerapkan kebijakan kontrol populasi yang brutal dan kedua adalah kejahatan keji memerangi Islam dan umatnya di Xinjiang.

Kejahatan Kebijakan Satu Anak
Akibat dibutakan oleh keserakahan pertumbuhan ekonomi, China telah merendahkan nilai anak-anaknya sendiri selaku generasi penerus dan memandang mereka sebagai beban dan penghambat mesin pertumbuhan ekonomi mereka. Jutaan bayi khususnya bayi perempuan diaborsi di berbagai kota dan desa di China. Ratusan juta perempuan telah ditindas selama hampir setengah abad oleh kebijakan kejam ini. Ironisnya kebijakan ini dilakukan hanya semata demi alasan ekonomi, yakni mencegah ledakan penduduk demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Sesungguhnya alasan yang sama -yakni pertumbuhan ekonomi- juga menjadi pemicu dilonggarkannya kebijakan satu anak yang baru saja diresmikan Desember lalu. Rezim serakah China baru menyadari harga mahal yang harus mereka bayar bahwa akibat ditekannya jumlah populasi selama puluhan tahun mereka kekurangan tenaga kerja usia produktif untuk memicu mesin raksasa pertumbuhan ekonomi mereka, dengan tingkat pertumbuhan tahunan yang bertahan rata-rata PDB dari 10,5 persen antara 2001 dan 2010 dan 9,7 persen antara tahun 1979 dan 2009 membuat China  muncul sebagai ekonomi terbesar kedua, manufaktur terbesar dan negara perdagangan terbesar di dunia. Namun prestasi gemilang itu ternyata membawa jejak kabut berat dan asap, dan polusi air dan tanah, yang melahirkan penyakit pernapasan massal dan menciptakan desa-desa penuh penyakit kanker, hingga merampas hak lebih dari 300 juta orang dari air minum yang aman. Jadi memang mahal sekali harga yang harus mereka bayar untuk sebuah pertumbuhan ekonomi, China bukan hanya kehilangan generasi muda usia produktif melainkan juga generasi yang sehat.
China telah dibutakan oleh ideologi Kapitalis yang memandang semua masalah dari perspektif ekonomi dan mengabaikan dampak sosial dari kebijakan-kebijakannya terhadap generasi dan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Kapitalisme membawa keyakinan yang salah bahwa sumber daya yang ada tidak cukup untuk menyediakan kebutuhan dasar dari semua orang, ini karena Kapitalisme adalah ideology yang secara konsisten menempatkan keuntungan materi di atas rakyat, keuangan di atas kemanusiaan, dan pertumbuhan ekonomi di atas jutaan nyawa generasi penerus.

Kebencian Terhadap Islam
Bukan rahasia lagi bahwa pemerintah China menganggap bahwa keberadaan Muslim Uyghur di Provinsi Xinjiang sebagai pihak yang mengganggu kestabilan dan keamanan. Menurut surat kabar Xinjiang Daily, Oktober lalu, pertempuran melawan ekstrimisme tidak dapat dihindari karena ekstrimis keagamaan ini adalah bentuk halangan bagi stabilitas keamanan. China terus menyebarkan retorika melawan Muslim Uyghur yang mereka sebut teroris dan ekstrimis.
Sungguh tindakan-tindakan permusuhan terhadap kaum Muslim di Turkistan Timur yang diduduki oleh Cina mencerminkan sejauh mana kebencian rezim komunis terhadap Islam, juga merupakan ketakutan dari negara Cina akan pengaruh Islam yang besar pada masyarakat Cina. Ini menunjukkan sisa-sisa doktrin komunis yang represif dan memiliki warisan sejarah penganiayaan agama minoritas masih tetap berakar kuat dalam negara. Meski ideology komunisme di dunia telah runtuh, Muslimah Uighur khususnya merasakan tekanan dalam kehidupan mereka dari segala penjuru. Bukan hanya hak mereka untuk mengenakan busana Muslimah yang dirampas secara sistematis dan keji, namun juga hak mereka untuk berkeluarga dan memiliki keturunan! Partai komunis yang berkuasa telah berupaya secara berkala untuk membasmi hijab dan busana Muslimah sejak mengambil kekuasaan di tahun 1949, pertama kali meluncurkan upaya-upaya atheisme dan kemudian melarang jilbab sama sekali di tahun 1960-an dan 70-an.
Muslimah Uyghur bukan hanya harus berhadapan dengan kebijakan represif yang mengancam identitas mereka dengan larangan hijab, namun juga harus dihadapkan dengan kebijakan brutal yang merusak rahim-rahim mulia mereka dengan program aborsi dan sterilisasi massal yang amoral! Program brutal yang lahir dari penguasa kriminal China yang membenci Islam dan ketakutan akan lahirnya generasi Mujtahid dan Mujahid Islam yang mampu mengembalikan kejayaan Islam di Turkistan Timur dan seluruh penjuru dunia Islam. Karena dari rahim-rahim mulia kaum Muslimah di Uyghur dan Muslimah di seluruh dunia akan lahir generasi pemimpin umat yang akan membawa umat ini dari kegelapan menuju cahaya.
Inilah salah satu realitas penderitaan kaum Muslimah yang menyayat hati, di timur dunia Islam. Mereka adalah korban tak berdaya dari predator-predator penguasa Kufar yang dibiarkan eksis oleh sistem dunia yang diskriminatif terhadap Umat Islam. Selama sistem dunia masih memuja demokrasi dan sekulerisme, maka penderitaan kaum Muslimah di Xinjiang, Turkistan Timur niscaya tidak akan pernah berakhir, karena pangkal masalah dari semua penderitaan ini tidak lain adalah tidak hadirnya Khilafah yang merupakan perisai bagi umat Islam, yang akan menghilangkan hegemoni kufar atas kaum Muslimin dan melindungi kehormatan kaum Muslimah dan anak-anak di seluruh dunia Islam.

Khilafah: Perisai Bagi Muslimah Uyghur
Telah diriwayatkan dari Abi Hurairoh,dari Nabi SAW, beliau pernah bersabda:
‏إِنَّمَا الْإِمَامُ ‏‏جُنَّةٌ ‏ ‏يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya Imam/Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya. (HR Muslim).”
Muslimah Uyghur sangat membutuhkan perisai sejati yang akan melindungi kehormatan dan keluarga mereka. Dan Khilafah ialah sebuah negara dengan konsep luhur tentang kehormatan perempuan dan generasi yang berkualitas, dimana kehormatan satu orang Muslimah menyamai nilai pembebasan kota Ammuriah seperti yang terukir dari sejarah Khalifah al Mu’tashim. Masya Allah! Khalifah al – Mu’tashim menyambut seruan seorang muslimah di kota Ammuriah yang dilecehkan tentara Romawi, dengan puluhan ribu tentara yang terbentang mulai dari gerbang ibukota di Baghdad hingga ujungnya mencapai kota Ammuriah.
Khilafah menolak pandangan kapitalis materialistik yang membatasi jumlah anggota keluarga untuk kepentingan ekonomi, sekaligus menolak penindasan atas perempuan dengan menekan naluri alamiah mereka untuk memiliki banyak anak. Hal itu karena Islam memiliki cara pandang yang khas dalam menyelesaikan persoalan manusia, yang tidak melulu melihat masalah dari perspektif ekonomi namun justru dari perspektif kemanusiaan. Islam justru menganjurkan untuk memiliki banyak anak tanpa takut miskin karena melalui banyak nash-nash al Quran Islam mengajarkan kepada kita akan keyakinan bahwa Rezeki itu berasal dari Allah, ini adalah sudut pandang yang unik yang didasarkan pada Aqidah Islam, yang percaya bahwa seluruh sumber daya dunia yang cukup untuk kehidupan manusia disediakan oleh Allah Swt yang Maha Memelihara dan Maha Memberi Rezeki. Nilai mulia ini membentuk mentalis penuh tanggung jawab dalam memandang generasi penerus, dan bukan memandang mereka sebagai beban/ penghambat ekonomi. Sebagaimana sabda Rasululullaah Saw yang mulia,
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS Luqman [31]: 20).
Wahai saudari-saudariku Muslimah Uighur, bersabarlah dengan tekanan dan penindasan rezim brutal China yang zhalim, karena Fajar Khilafah telah demikian dekat dan kita adalah umat yang satu, nabi kita satu, bendera kita satu dan perjuangan kita pun satu. Hanya negara Khilafah saja yang akan memungkinkan Anda untuk hidup dengan semua Perintah Allah (swt), dan memiliki kehidupan keluarga yang harmonis sejahtera sekaligus memiliki banyak anak-anak di saat yang sama juga sangat kredibel dan telah teruji oleh waktu dalam mencetak generasi pemimpin yang mampu menaklukan dunia.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahkuKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku; dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik“. (TQS An Nuur [24] :55) [

 

 

JALUR SUTERA MARITIM DAN PENYEBARAN ISLAM DI ASIA TENGGARA



JALUR SUTERA MARITIM DAN PENYEBARAN ISLAM DI ASIA TENGGARA


Jalur Sutra (silk road) yang ada dalam benak kebanyakan orang adalah lintasan perjalanan darat panjang dari Xi'an hingga ke Konstatinopel, melintasi gurun Taklamakan dan daratan Eurasia. Tetapi, seiring dengan perkembangan dunia maritim di zaman Abad Pertengahan, Jalur Sutra yang kuno pun meredup, digantikan oleh lintasan perdagangan baru dari samudra ke samudra.





Rute inilah yang dikenal dengan Jalur Sutra Maritim. Para pedagang dari negeri Tiongkok melintasi Laut Tiongkok Selatan, sampai ke Semenanjung Malaya, melintasi Selat Malaka dan Selat Sunda, dan menyeberangi Samudera Hindia hingga ke Arabia.

“Indonesia merupakan poros bagi “Jalur sutera maritim kuno. Ahli maritim China, Cheng Ho, bahkan sudah berkali-kali mengujungi Indonesia serta meninggalkan jejak kebudayaan dan itu telah menjadi kenangan yang indah dan terlupakan,” jelas Li Congjun, Direktur Kantor Berita China Xinhua

Zaman keemasan perdagangan maritim bahari itulah yang menjadi washilah awal bagi penyebaran Islam di nusantara. Penyebaran Islam di Asia Tenggara di-drive secara terintegrasi pada jalur-jalur perdagangan maritim dalam waktu yang lama dan berkesinambungan yang melibatkan semua unsur umat Islam baik itu ulama, penguasa bahkan rakyat biasa.

Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh dari Teluk Persia sampai Cina melalui Selat Malaka itu kelihatan sejalan pula dengan muncul dan berkembangnya kekuasaan besar, yaitu Cina di bawah Dinasti Tang (618-907), Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14) dan Khilafah Umayyah (660-749). Mulai abad ke-7 dan ke-8 (abad ke-1 dan ke-2 H), orang Muslim Persia dan Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri Cina.



Geostrategi Dakwah Islam Melalui Jalur Perdagangan Asia Tenggara

Penyebaran dakwah Islam melalui aktivitas perdagangan (tanpa peperangan) bukan berarti menunjukkan aktivitas tersebut tidak politis atau tidak terorganisir. Istilah ‘pedagang Arab’ yang sering digunakan dalam literatur sejarah seolah mengesankan penyebaran Islam yang terjadi hanya secara perorangan dan sporadis.

Hubungan kaum Muslim Melayu Asia Tenggara dengan Ulama Timur Tengah sesungguhnya telah terjalin sejak masa awal-awal Islam. Para pedagang Muslim dari Arab, Persia dan Anak benua India yang mendatangi Asia Tenggara tidak hanya berdagang, tetapi juga membawa misi tertentu untuk menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.

Meski cukup sulit dibuktikan secara ilmiah, dalam perspektif geopolitik kita akan mudah melihat bahwa penyebaran Islam di Asia Tenggara tidak terjadi secara sporadis, melainkan terencana dan berkesinambungan.

Jika dilihat lebih jeli peta sebaran umat Islam di Asia Tenggara, maka kita akan mendapati hampir semua titik-titik kekuatan umat Islam di Asia Tenggara memiliki nilai geopolitik yang sangat strategis. Posisi Kesultanan Arakan yang berada di Teluk Benggala merupakan garis pantai yang sangat penting dalam jalur perdagangan dunia sampai hari ini. Posisi Kesultanan Pattani terletak di Tanah Genting Kra, sebuah jembatan darat sempit yang menghubungkan Semenanjung Melayu dengan daratan Asia, yang juga merupakan akses terdekat ke Laut Cina Selatan. Begitu juga letak kepulauan Sulu dan Mindanao yang tidak kalah strategisnya.



Ini merupakan bukti bahwa masyarakat Islam yang sering diilustrasikan sebagai “pedagang Arab” dalam ilmu sejarah adalah mereka yang memiliki kesadaran geografis tinggi; suatu masyarakat yang biasa diistilahkan sebagai spatially enabled society. Begitu pun negara/kepala negara yang ideal adalah yang memiliki visi geopolitik dikenal dengan istilah spatially enabled government. Kombinasi kesadaran antara dua pihak ini didukung oleh sebuah peradaban Islam yang tinggi, yang tentu sangat dipengaruhi oleh kekuatan ideologinya.

Allah SWT berfirman (yang artinya): Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (TQS al-Anbiya’ [29]:107).

Rasulullah saw. bersabda, “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya. Aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepada diriku.” (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).