Pages

Visi Geospasial

Rasulullah Saw bersabda : “Allah memperlihatkan kepadaku seluruh penjuru bumi ini. Aku melihat bagian Timur dan Baratnya, dan aku melihat umatku akan menguasai apa yang telah Dia tunjukkan kepadaku”. (HR.Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)

Tuesday, September 27, 2016

Perairan Sulu: Poros Kriminalitas Maritim Indonesia-Malaysia-Filipina?

ANTARA melaporkan insiden penculikan ABK WNI di kapal-kapal di mana mereka bekerja terjadi lagi. Kini kelompok bersenjata menculik tiga WNI awak kapal tunda Indonesia di Negara Bagian Sabah, Malaysia timur bagian dari Laut Sulu. Hal itu dinyatakan secara resmi oleh polisi setempat, Minggu 10 Juli lalu. Kronologisnya kapal tunda itu, dengan tujuh awak, berada di perairan lepas pantai Sabah di Pulau Kalimantan, sekitar delapan mil laut dari pantai, ketika diserang kelompok bersenjata dalam perahu putih itu, Sabtu malam, kata polisi kelautan daerah setempat. “Tersangka bertanya siapa membawa paspor dan tiga yang membawa digiring ke perahu mereka, sementara empat yang tidak membawa ditinggalkan,” kata polisi laut dalam pernyataan persnya.
Kelompok Abu Sayyaf, langsung dituding bertanggung jawab atas penculikan ini karena sebelumnya melakukan pengayauan (penggal kepala) sandera asal Kanada dan terkenal atas pemerasan jutaan dolar dalam uang tebusan. Saat ini, 10 ABK WNI diketahui menjadi sandera kelompok separatis Abu Sayyaf. Selain menculik tiga WNI di perairan Sabah, Malaysia, kelompok bersenjata itu juga menyandera tujuh WNI di perairan Sulu, Filipina selatan sejak 23 Juni 2016.
Internasionalisasi Masalah (Lagi?)
Anggota Komisi I DPR, Charles Honoris mengusulkan perlu adanya upaya humanitarian intervention untuk menyelamatkan Warga Negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Filipina. “Dalam hukum internasional dikenal doktrin Humanitarian Intervention yaitu militer negara asing atau pasukan yang diberikan mandat oleh PBB bisa saja masuk ke wilayah kedaulatan sebuah negara untuk menyelamatkan nyawa manusia dan menghindari terjadinya pembunuhan massal,” katanya di Jakarta, Minggu 17 Juli kemarin.
Sebelum kejadian di bulan Juli ini, Militer AS sudah memberi pernyataan siap mengulurkan bantuan jika diperlukan karena ini adalah bagian kepentingan AS untuk menjamin kebebasan dan keselamatan pelayaran seperti diberitakan South China Morning Post Senin 4 Juli yang lalu. Bahkan Laksamana Brian Hurley mengatakan Angkatan Laut AS sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah Negara-negara Asia Tenggara untuk memastikan kebebasan navigasi dan keselamatan orang di kawasan ekonomi yang ramai dan akan terus melakukannya. Ia mencontohkan seperti yang mereka lakukan di kawasan sengketa Laut China Selatan, Angkatan Laut AS menyebarkan sekitar 700 kapal setiap tahun untuk patroli – rata-rata dua kapal per hari – untuk menjamin kebebasan navigasi “dan kami akan terus melakukannya di seluruh dunia“, kata Hurley.
Kawasan perairan Sulu saat ini memang sudah dicap sebagai area rawan dan tidak stabil karena isu terorisme. Perairan Sulu juga strategis karena merupakan poros interaksi 3 negara (Indonesia – Malaysia- Filipina). Secara tradisional, terbentuk jejaring alami masyarakat lintas negara antara Kaltara di Tarakan – Nunukan, Sabah di Tawau hingga Sandakan, hingga di Pulau Sibutu, Tawi-tawi, Jolo – Basilan, hingga kota Zamboanga di ujung Barat Mindanao. Karena eratnya hubungan, maka penyelundupan, smokel sudah menjadi bagian dari keseharian di sana.
Berdasarkan pengalaman banyak negeri-negeri Islam, internasionalisasi masalah kaum Muslimin selain menunjukkan kelemahan kedaulatan negeri-negeri Muslim, juga bermakna mengundang tamu tamu penjajahan ke tanah dan wilayah perairan kaum Muslimin. Padahal di masa kekuatan Islam di abad 15 kawasan Laut Sulu ini justru stabil, aman dan tumbuh menjadi kekuatan politik dan ekonomi, dimana Islam dengan konsep negara supra nasionalnya tidak kelimpungan menghadapi berbagai ATHG di kawasan strategis titik temu berbagai kepentingan ekonomi banyak negara, seperti hari ini. Karena pada masa itu semua Muslim baik di Mindanao, Sulu, Sabah, Tarakan adalah satu entitas politik. Tidak tersekat sekat batas negara seperti hari ini.
Dua Dimensi Masalah
Untuk memahami apa yang terjadi di kawasan ini perlu menelaahnya dari dua aspek, yang pertama dari sisi pelekatan kelompok kriminal dengan label Islam terutama di wilayah yang memiliki nilai strategis secara politik ekonomi seperti di perairan Sulu ini. Lokasi dengan profil seperti ini jelas mengundang banyak perhatian dan pihak-pihak lain yang ingin terlibat dan campur tangan, karena sangat strategis bagi perdagangan dunia dan kepentingan militer secara geopolitik. Sementara isu terorisme yang dilekatkan dengan umat Islam Moro di Filipina bagian selatan juga menjadi semacam legitimasi bagi banyak kepentingan Barat untuk masuk ke kawasan ini.
Umat Islam perlu bersikap, kita perlu menolak dengan tegas segala pengkaitan tindakan criminal dengan Islam, karena aksi perompakan atau penculikan, apalagi kepada sesama Muslim, jelas diharamkan oleh Islam. Kemudian umat Islam perlu terus mengkritisi keras setiap retorika anti terorisme yang digaungkan sebagaai solusi kasus rawannya perairan Sulu, karena ini sebenarnya adalah trik murahan dalam mempropagandakan Islamophobia. Setiap narasi anti- teroris hari ini baik melalui retorika kebijakan maupun media sebenarnya sudah terkandung upaya rekayasa sosial menciptakan atmosfer merendahkan Islam dan pembenaran untuk melanggar kehormatan dan hak Muslim.
Sisi kedua adalah masalah kapasitas penanganan keamanan regional. Pertanyaan yang juga muncul adalah kenapa kelompok – kelompok tersebut tetap eksis, meski sudah diadakan ronda dan patroli kerjasama tiga negara? Pertanyaan ini selalu berakhir dengan jawaban bahwa kapasitas patroli tiga negara ternyata tidak memadai, dan lemahnya kapasitas ini hampir pasti selalu berakhir dengan kehadiran pihak ketiga, dalam hal ini militer adidaya AS yang punya kepentingan besar mengendalikan jalur-jalur laut di Asia Tenggara. Dimana kita tahu Armada Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) juga menjaga poros Manila-Jawa-Australia dari perairan Laut Sulu-Laut Sulawesi-Selat Makassar hingga Laut Jawa.
Wahai penguasa Muslim, singkirkan uluran tangan asing dan kembalilah pada hukum Islam dalam menyelesaikan masalah keamanan perairan Sulu ini! Politik luar negeri Islam yang dijalankan oleh institusi Khilafah akan mengakhiri politik luar negeri negeri-negeri Muslim yang penuh nuansa kelemahan dan ketertundukan ini, diganti dengan pola baru dengan dasar Islam. Seperti yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis berlandaskan QS. Al-Baqarah 2:85-86, yang menegakkan kedaulatan maritim Negara Islam namun melarang menghalangi pelayaran dilautan bebas dan menarik bea cukai, terkecuali apabila masuk daerah landas kontinen. Khilafah jelas akan menjalankan sebuah visi politik luar negeri yang berorientasi mulia untuk penyebaran dakwah Islam ke seluruh dunia dengan metode dakwah dan Jihad.

Ditulis untuk Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir oleh, Juli 2016
Fika Komara
Anggota Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir

Natuna, Laut China Selatan dan Tanah Ribath


Analisa #MuslimahGeospasial



Menjaga perbatasan negeri sangatlah penting dalam kacamata politik pertahanan Islam. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran 200).

Dalam Tafsir Jalalain diterangkan sebagai berikut:  Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dalam melaksanakan ketaatan, dalam menghadapi berbagai musibah, maupun dalam menghindari berbagai kemaksiatan, serta lebih bersabarlah kalian dalam menghadapi musuh-musuh kalian, janganlah musuh kalian lebih sabar daripada kalian, dan jagalah perbatasan kalian dengan menegakkan jihad fi sabilillah, bertaqwalah kalian kepada dalam berbagai situasi dan kondisi kalian, agar kalian beruntung di surga dan selamat dari siksa neraka.

Kepulauan Natuna adalah wilayah dengan nilai strategis sangat tinggi karena merupakan satu- satunya pulau terdepan yang secara geopolitik berbatasan dengan delapan negara, yakni Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Brunei, Tiongkok, Filipina, dan Taiwan. Letak Pulau Natuna yang sangat strategis di dekat wilayag konflik Laut Cina Selatan dengan sumber daya alam luar biasa, dimana kawasan ini adalah kawasan paling vibrant di Asia Pasifik hari ini. Hal ini menjadikan Natuna sangat strategis sekaligus sangat rawan invasi dan konflik.

Strategisnya wilayah Natuna ini sebagai perbatasan terdepan dan terluar mengingatkan pada sabda Rasulullaah Saw :

 “Ribath (menjaga perbatasan wilayah Islam dari serangan musuh-musuh Islam) sehari semalam lebih baik dari pada puasa sunnah dan shalat sunnah sebulan penuh, dan jika seorang murabith mati di tengah ia melakukan ribath, maka amal perbuatannya itu akan terus berpahala, dan ia diberikan rizqinya di surga kelak, serta tidak ditanya di dalam kubur (oleh malaikat munkar dan nakir)” (HR. Muslim).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
 “(ada) Dua mata yang niscaya kelak tidak akan tersentuh oleh api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga malam (tidak tidur) demi menjaga keamanan umat Islam berjuang di jalan yang diridlai Allah” (HR. Tirmidzi).

Al Faqir, Fika Komara
27092016

Wednesday, June 8, 2016

Kaum Muslimah dan Generasi Penakluk



Kecerdasan geospasial artinya adalah kecerdasan dan kesadaran akan ruang, tempat bumi ini dipijak. Ruang dimana umat Muhammad ini hidup dan terus tumbuh menjadi umat terbaik di tangan kaum Muslimah. 

Peran puncak Muslimah sebagai sebagai ibu generasi (ummu ajyal) bisa kita kaitkan dengan kekayaan geostrategis dunia Islam yang sangat kaya dengan lokasi dan posisi strategis, sumber daya alam, luasnya wilayah laut dan daratan, serta selat-selat strategis yang menjadi chokepoint maritime dunia. 

Kegagalan dunia Islam hari ini mengelola asset-aset geostrategisnya tidak lepas dari faktor penjajahan dan minimnya generasi penakluk yang tumbuh dari umat. Sungguh sudah lama kita menantikan kelahiran generasi Mujahid penakluk yang akan menundukkan semua ini untuk dakwah dan jihad Islam. 

Di tangan siapakah generasi seperti ini akan lahir? Kalau bukan dari mereka kaum Muslimah yang memiliki kesadaran ruang serta kematangan visi geopolitik dalam mendidik anak-anak dan generasi penerus Islam. 

Fika Komara

Tuesday, September 1, 2015

Europe Migrant Crisis

The number of Mediterranean migrants travelling to Europe by boat has increased dramatically this year. Europe is now facing an enormous dilemma regarding the desperate refugees from the Middle Eastern and North African countries. According to the United Nations, this is the worst refugee crisis since the Second World War. Hundreds and thousands of desperate migrants are fleeing their country to escape devastation of war, abject poverty, systematic abuse and persecution in the hope of a better life. But due to the inhumane concept of nationalism which values national identity over humanity, European governments treat these vulnerable refugees harshly to stop further exodus. Macedonian police forces beating back the refugees, while others have refused entry to their countries by sealing the border or by strengthening maritime petrol in the Mediterranean.

This is the direct result of corrupt manmade values which dehumanize people by refusing them sanctuary even though they are in desperate need of shelter and protection.

The European leaders need to understand that this crisis is the direct result of the colonial wars and the military interventions in the Muslim world by the West as well as the support of brutal dictatorships backed by the western governments in the Muslim lands such as in Syria and Egypt which came back to haunt these governments on their own shores.

Thursday, August 27, 2015

Laporan OKI : 17 Juta Muslim Menderita di Pengungsian, Meningkat 34,5% dari 2013

Sebuah laporan terbaru yang dirilis Departemen Urusan Kemanusiaan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengungkapkan, jumlah para pengungsi di negara-negara Islam selama 2014 mencapai 17.073.686 jiwa.

Sementara itu, jika dibandingkan pada tahun 2013 dengan 12.693.075, jumlah tersebut meningkat 34,5 persen lebih banyak. IINA melaporkan seperti dikutip Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Laporan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan korban merupakan hasil dari krisis dan bencana yang melanda 27 negara anggota OKI termasuk minoritas di Myanmar dan Afrika Tengah. Beberapa wilayah sampai saat ini masih terjadi krisis dan bencana.

http://mirajnews.com/id/internasional/asia/oki-tahun-2014-17-juta-muslim-menderita-akibat-krisis/

Ini fakta yang tidak bisa terbantahkan lagi, bahwa kaum Muslimin telah menjadi korban serta target dari berbagai bentuk penindasan negara-negara kafir dan kroni-kroninya.

Serangan mental berupa stigma teroris, serangan identitas berupa ide "Islam Moderat" dan turunannya, serangan ekonomi berupa penjajahan dan penjarahan kekayaan alam negeri-negeri Muslim, hingga serangan fisik bersenjata seperti genosida di Myanmar, Gaza, Suriah, Afrika Tengah, Xinjiang, Pattani, Mindanao, dan masih banyak lagi!

Kenapa nyawa umat Muhammad Saw saat ini demikian murah tak berharga? Kenapa hidup  belasan juta kaum Muslim demikian hina terkatung-katung di pengungsian?

Sadarilah saudara-saudaraku, semua malapetaka ini berawal dari  28 Rajab 1342 H atau 3 Maret 1924 M yang lalu, saat institusi Khilafah dihapuskan oleh penjahat Kemal Pasha beserta negara-negara kafir penjajah. Sejak itu umat Islam kehilangan institusi yang menerapkan Islam secara kaffah. Umat tak lagi memiliki institusi yang menjadi junnah (perisai) atas negeri, harta, jiwa dan kehormatan mereka.

Mereka pun hidup bercerai-berai dan terpisah-pisah dalam banyak negara hasil rekayasa oleh kafir penjajah. Bahkan antar negara itu acap terlibat konflik dan peperangan. Realitas menyedihkan ini terjadi karena Daulah Khilafah yang menjadi institusi penyatu umat Islam sebagai ummah wâhidah (umat yang satu) telah diruntuhkan. Sejak itu pula umat ini diterpa aneka problem yang terus datang bertubi-tubi tanpa solusi.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ » رواه مسلم

Hadis riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه: ia berkata: Dari Nabi صلی الله عليه وسلم beliau bersabda: "Sesungguhnyalah seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya." (HR.Muslim)